Menyikapi Twin-Deficit

Oleh: Prof. Firmanzah PhD

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan

Twin-Deficit (defisit ganda) kembali mendapatkan perhatian serius di awal tahun 2013. Diskursus defisit ganda muncul di pertengahan tahun 2012 ketika neraca perdagangan mendapat tekanan beberapa bulan berturut-turut (April-Mei-Juni 2012). Di saat bersamaan kondisi fiskal juga mengalami tekanan defisit yang menyebabkan kemampuan untuk meningkatkan net-ekspor dan investasi berkurang dan menghadirkan defisit pada neraca transaksi berjalan.

Pada 2012, defisit fiskal Indonesia mencapai Rp.190,1 triliun atau 2,23% dari PDB (masih relatif aman di bawah 3% angka toleransi defisit). Defisit ini disumbangkan oleh besaran defisit keseimbangan primer mencapai Rp 45,5 triliun dan pertama kali terjadi sejak 2009 yang surplus Rp 5,2 triliun. Tahun 2013, defisit fiskal dalam APBN ditargetkan sebesar 1,65% dari PDB dan defisit keseimbangan primer berada pada angka Rp36,9 triliun. Sementara neraca perdagangan pada tahun 2012 juga mengalami defisit sebesar US$ 1,6 milliar yang juga merupakan pengalaman pertama sejak 2009 yang surplus US$ 19,6 miliar, kemudian berikutnya surplus US$ 22,1 miliar (2010) dan pada 2011 surplus US$ 26 milliar.

Defisit ganda ini dikhawatirkan oleh sejumlah kalangan berpotensi memperlambat pertumbuhan nasional dan menekan proses pembangunan yang sedang berjalan. Fenomena ini mengingat hal yang sama terjadi di Amerika Serikat dan sejumlah negara yang terkena krisis dalam beberapa tahun terkahir ini. Ketidakpastian global paska krisis Eropa, Amerika Serikat dan meningkatnya eskalasi kawasan Timur Tengah, Korea Utara-Selatan, Jepang-China, telah berimbas pada melemahnya permintaan global secara signifikan termasuk permintaan ke Indonesia.

Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Februari 2013 mencapai US$ 30,36 miliar atau menurun 2,88% dibanding periode yang sama tahun 2012. Sementara impor Januari–Februari 2013 mencapai US$ 30,77 miliar atau meningkat 4,57% dibanding impor periode yang sama tahun sebelumnya (US$ 29,42 miliar). Dengan demikian neraca perdagangan periode Januari-Februari 2013 mengalami defisit sebesar US$ 402 juta. Besaran defisit ini disumbangkan oleh neraca perdagangan migas yang defisit sebesar US$ 2,4 miliar sedangkan perdagangan non migas mencatat surplus sebesar US$ 2 miliar.

Untuk memitigasi potensi risiko yang lebih besar ke depan, maka kinerja perdagangan akan terus ditingkatkan. Strategi diversifikasi pasar ekspor yang telah berjalan dalam lima tahun terakhir perlu terus ditingkatkan. Upaya mengidentifikasi pasar-pasar non-tradisional terus dilakukan untuk mendorong kinerja ekspor khususnya sektor non-migas.

Di sisi lain instrumen impor akan ditekan khususnya impor migas yang mengalami peningkatan yang cukup besar dan menekan neraca perdagangan dalam beberapa bulan terakhir. Untuk mengatasi lonjakan impor migas, saat ini sedang dibahas mekanisme pengendalian BBM bersubsidi yang dalam beberapa waktu terakhir meningkat dan melebihi kuota yang telah ditetapkan dalam anggaran belanja pemerintah. Kedua upaya ini diharapkan dapat menngatasi kekhawatiran defisit ganda yang berpotensi memberi tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi dan proses pembangunan yang sedang berjalan

Related posts