Bakrieland Ajukan Restrukturisasi Obligasi - Likuiditas Menurun

NERACA

Jakarta – Ditengah positifnya pertumbuh bisnis properti tahun ini, rupanya tidak semanis yang dirasakan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) lantaran kinerja keuangan perseroan terus mencatatkan rugi.

Oleh karena likuditas perseroan terus menurun, perusahaan properti Grup Bakrie ini tengah mengajukan restrukturisasi obligasi. Kata Direktur PT Bakrieland Development Tbk, Feb Sumandar, perseroan telah melakukan upaya restrukturisasi obligasi dengan pemegang obligasi untuk memenuhi kewajiban penerbit obligasi, “Restrukturisasi obligasi sudah dilakukan sejak Februari 2013,”katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Sebagai informasi, perseroan menyatakan belum dapat memenuhi pembayaran unsecured guaranteed equity-linked bond senilai US$155 juta pada 25 Maret 2013. BLD Investments Pte Ltd menerbitkan obligasi senilai US$155 juta pada 23 Maret 2010 yang jatuh tempo pada 23 Maret 2015.

Dengan mengacu pada trust deed pada 23 Maret 2010, pemegang obligasi mempunyai pilihan untuk mendapatkan pembayaran semua atau sebagian (put option) dari obligasi dimaksud pada 23 Maret 2013. Sehubungan dengan put option tersebut, The Bank of New York Mellon, selalu trustee dalam penerbitan obligasi telah menyampaikan pemberitahuan penyetoran dana untuk pembayaran jumlah pokok dan bunga yang akan dibayarkan pada 25 Maret 2013.

Hingga kini, pengajuan restrukturisasi obligasi masih dalam proses untuk memperoleh persetujuan dari seluruh pemegang obligasi terhadap proposal restrukrisasi yang diajukan. Selain itu, pemegang obligasi dalam tahap membentuk co-ordinating commitee untuk melakukan pembahasan lebih intensif dengan penerbit obligasi dan Perseroan. \"Penerbit obligasi dan perseroan mengupayakan dengan maksimal agar pembahasan restrukrisasi obligasi dapat dirampungkan dalam waktu yang tidak terlalu lama,\" kata Feb Sumandar.

Sebelumnya, PT Peringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat perusahaan dan obligasi I/2008 seri B PT Bakrieland Development Tbk menjadi idCCC dari idB. Selain itu, Pefindo juga masih menempatkan peringkat perusahaan pada creditwatch dengan implikasi negatif. Penurunan peringkat disebabkan oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap tekanan likuiditas yang dihadapi perusahaan untuk melunasi obligasi I/2008 seri B senilai Rp280 miliar yang jatuh tempo 11 Maret 2013 lalu.

Perusahaan dikabarkan baru mengalokasikan dana sebesar Rp160 miliar untuk pelunasan obligasi tersebut. Sedangkan sisa dana sebesar Rp120 miliar yang diharapkan diperoleh dari hasil divestasi aset masih belum dapat terealisasi. (bani)

BERITA TERKAIT

Perkuat Likuiditas - LPKR Jual Aset Rumah Sakit di Myanmar

NERACA Jakarta - PT Waluya Graha Loka (WGL), anak usaha PT. Lippo Karawaci Tbk (LPKR) akan menjual seluruh kepemilikan dan…

Dekopin Ajukan 8 Aspirasi Gerakan Koperasi Indonesia

  NERACA   Jakarta – Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) mengajukan delapan aspirasi dan harapan agar gerakan koperasi di Indonesia bisa…

Lunasi Obligasi Jatuh Tempo - Mayora Indah Siapkan Dana Rp 750 Miliar

NERACA Jakarta – Menepati pelunasan obligasi yang jatuh tempo pada Mei 2019, PT Mayora Indah Tbk (MYOR) sudah menyiapkan dana…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tiga Anak Usaha BUMN Bakal IPO di 2019

Menyadari masih sedikitnya perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang go public atau tercatat di pasar modal, mendorong Kementerian Badan…

Impack Pratama Beri Pinjaman Anak Usaha

Dukung pengembangan bisnis anak usaha, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) melakukan perjanjian hutang piutang dengan anak usahanya PT Impack…

Layani Pasien BPJS Kesehatan - Siloam Tambah Tujuh Rumah Sakit Baru

NERACA Jakarta – Tidak hanya sekedar mencari bisnis semata di industri health care, PT Siloam International Hospital Tbk (SILO) terus…