BI: 9 Bank Eligible untuk Trustee

NERACA

Jakarta – Bank Indonesia (bi) menetapkan sembilan bank dianggap eligible untuk menjadi Trustee atau pihak yang mempunyai kewenangan melakukan kegiatan trust. “Sembilan buah bank memenuhi persyaratan. Akhir Maret lalu, satu bank persero sudah mendapatkan izin prinsip dan surat penegasan dari Bank Indonesia. Satu buah bank persero lainnya sudah mendapat izin prinsip dan sedang mengurusi surat penegasan. Satu bank persero sedang mengajukan izin prinsip. Beberapa bank lainnya sedang mempersiapkan diri untuk dapat mengajukan permohonan izin sebagai Trustee,” jelas Humas Bank Indonesia (BI) Difi Johansyah di Jakarta, Jumat (5/4) pekan lalu.

Namun sayangnya, Difi tidak mau menyebutkan bank mana saja yang masuk dalam sembilan bank yang dianggap eligible tersebut. “Nanti seperti mengiklankan. Tapi yang jelas komposisinya sudah bagus karena ada dari bank lokal, ada dari bank asing, dan ada bank campuran,” kata dia.

Untuk menjadi Trustee, bank harus melewati dua tahap, yaitu izin prinsip dan surat penegasan. Setelah bank meminta izin prinsip kepada BI dengan kelengkapan dokumen yang sudah disyaratkan, lantas BI mempunyai waktu 60 hari untuk memutuskan apakah mengeluarkan izin prinsip atau tidak. Pembuatan izin prinsip ini hanya dilakukan sekali saja untuk masing-masing bank.

Berbeda dengan izin prinsip, permintaan surat penegasan yang menjadi tahap kedua agar bank bisa melakukan kegiatan Trust dilakukan setiap bank tersebut ingin membuka cabang untuk melakukan kegiatan Trust. “Jadi kalau sepuluh kali buka cabang, maka sepuluh kali kirim surat ke BI,” kata Difi.

Terdapat beberapa syarat yang menjadi penilaian BI agar bank tersebut dapat menjadi Trustee. “Bank harus berbadan hukum Indonesia. Kalau bank asing, maka paling lambat dalam tiga tahun sejak PBI terbit harus berbadan hukum Indonesia,” kata Difi.

Persyaratan lainnya adalah bahwa bank tersebut mempunyai modal inti minimal Rp5 triliun selama 18 bulan berturut-turut. Tingkat Kesehatan minimal Peringkat Komposit (PK) 2 selama 2 periode penilaian alias 12 bulan terakhir dan minimal PK 3 selama 1 periode sebelumnya.

Untuk diketahui, kegiatan Trust adalah kegiatan usaha bank berupa penitipan dengan pengelolaan atas harta yang dititipkan oleh pemilik harta (settlor). Pihak bank yang sudah mendapatkan izin melakukan kegiatan Trust disebut Trustee.

Difi menjelaskan, bank penyelenggara Trustee nantinya harus memisahkan kegiatan Trust nya dengan kegiatan lainnya dari bank tersebut. “Orangnya harus khusus, tidak boleh dicampur dengan unit lain. Pekerjaannya tidak boleh dicampur. Pencatatan Trustee harus terpisah,” jelas dia.

Setiap satu bulan sekali, lanjut Difi, Trustee harus melaporkan secara mendetail apa saja yang dilakukannya, termasuk sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya, settlor nya siapa saja, perjanjiannya bagaimana, posisi harta settlor sudah di mana, dan investasinya bagaimana.

Menurut Difi, adanya kegiatan Trust ini terutama untuk meningkatkan penerimaan Devisa Hasil Ekspor (DHE) agar masuk ke bank domestik. Memang, penerimaan DHE bank domestik mempunyai prosentase yang terus meningkat dan sebaliknya, mengecilkan prosentase penerimaan DHE bank di laur negeri. Pada 2010, penerimaan DHE bank domestik adalah sebanyak 77,1% dari total DHE yang ada. Pada 2011 dan 2012 angkanya meningkat terus, yaitu 80,4% dan 82,8%. Namun begitu, diharapkan dengan adanya kegiatan Trust ini, DHE yang masuk ke bank domestik akan semakin banyak lagi.

“Namun di samping itu, ada manfaat lain dari Trustee yang sulit dinilai, yaitu peningkatan kualitas perbankan di Indonesia. Dengan kita bisa melakukan kegiatan Trust, berarti bank sudah cukup bisa dipercaya. Perbankan kita akan meningkat daya saingnya,” jelas Difi. [iqbal]

Related posts