Ekspansi Bisnis, Grup Bakrie Genjot Utang - WASPADAI INVESTASI MANGKRAK

Jakarta – PT Bakrie and Brothers Tbk akan menggenjot utang untuk membiayai ekspansi bisnisnya. Aksi korporasi tersebut dinilai skeptis lantaran perusahaan tersebut punya citra negatif akibat banyak utang disana-sini.Apalagi, utang perseroan sebesar Rp 4,7 triliun pada Credit Suisse bakal jatuh tempo pada tahun depan.

NERACA

Bakrie Group memang berniat menggelar ekspansi bisnis dengan membangun pembangkit listrik yang investasinya mencapai US$ 2 miliar. Selain itu, grup tersebut juga akan membangun pelabuhan, pipanisasi gas hingga jalan tol. Dalam tiga tahun, proyek-proyek tersebut ditaksir bakal menelan investasi hingga US$5 miliar.

Tak heran kalau pengamat ekonomi Ikhsan Mojo mendesak pemerintah untuk terus mengawasi ekspansi bisnis yang dilakukan Bakrie and Brothers. “Pemerintah harus memainkan peran sebagai supervisi ekspansi perusahaan swasta dan termasuk BNBR,” ujarnya saat dihubungi Neraca di Jakarta, Rabu (15/6).

Menurut dia, bisnis infrastruktur sarat modal besar dan butuh komitmen tinggi dari investor dan terlebih sumber dana berasal dari luar kas perusahaan bersangkutan.

Dia menilai, pengawasan ketat amat perlu untuk mengawasi potensi risiko investasi yang tinggi. Oleh karena itu, jangan sampai prestasi investment grade turun akibat ulah buruk investor swasta yang gagal bayar.

Dia menegaskan, performance BNBR dikenal buruk, karena perusahaan tersebut sering gali lubang tutup lubang menutupi utang untuk mendanai aktifitas perusahaan. Hingga ada yang berujung gagal bayar seperti kasus Bakrie Life.

Tak ayal, kata Ikhsan, dari berbagai kasus panjang utang BNBR telah mempengaruhi persepsi publik dan pemerintah mengenai sepak terjang perusahaan tersebut.

Dia juga mengingatkan, kebutuhan dana pembangunan infrastruktur mencapai Rp 4500 triliun, sedangkan kemampuan pemerintah hanya mentok sekitar Rp 500 triliun.

Sisanya diharapkan berasal dari keterlibatan investor swasta yang mumpuni dan serius menggarap infrastruktur terutama pembangkit listrik dan jalan raya. Maka dia tidak menampik, apa yang dilakukan BNBR dinilai suatu kewajaran sebagai aksi korporasi.

Hal senada juga disampaikan ekonom Indef Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika yang menuturkan, aksi korporasi BNBR harus disikapi hati-hati oleh pemerintah. Pasalnya, perusahaan satu ini dikenal dengan manuver keuangan dan pintar dalam engineering keuangan. “Perlu waspadai aksi BNBR, karena dikhawatirkan bakal menjadi investasi yang mangkrak di tengah jalan,” tegasnya.

Dia menilai, aksi korporasi BNBR harus diperhatikan di tengah struktur keuangan yang tidak sehat. Asal tahu saja, manuver keuangan yang terlalu berlebihan juga tidak sehat dan ini akan menjadi blunder.

Sementara ekonom Dana Reksa Purbaya Yudi Sadewa mengatakan, apa yang dilakukan BNBR dengan ekspansi infrastruktur sebesar US$ 5 miliar dinilai tidak bermasalah sepanjang aset perseroan mencukupi. Namun Purbaya, lebih mengusulkan agar BNBR lebih memprioritaskan pelunasan hutangnya lebih dahulu, “Sebaiknya, BNBR lunasi utang dulu dan penuhi kewajian kepada masyarakat yang belum selesai, seperti kasus Lapindo dan Bakrie Life,” tegasnya.

Lihat saja, imbuh Purbaya, bank mana yang berani memberikan pinjaman kepada BNBR. Hal yang perlu di perhatikan, apakah dibalik aksi korporasi BNBR mampu pula untuk membayar utang yang semakin banyak.

Dia juga mengingatkan, terulang kembali gagal bayar BNBR terhadap kewajiban utangnya, dipastikan akan mencoreng citra investasi Indonesia dan kepercayaan dunia terhadap Indonesia.

Sebelumnya, Direktur Utama dan CEO BNBR, Bobby Gafur Umar mengatakan, tahun ini perseroan berambisi menjadi premier resources base investment company. BNBR juga akan menggarap sektor infrastruktur. “Ekspansi bisnis perseroan merupakan jangka panjang tiga tahun ke depan,” katanya di Jakarta, Rabu (15/6).

Dia menyebutkan, sektor infrastruktur yang tengah digarap adalah pembangunan proyek power plant Tanjung Jati A dengan kapasitas 2x260 megawatt. Selain itu juga membangun proyek energi panas bumi di Jawa Timur dengan kapasitas 150 megawatt yang bekerjasama dengan perusahaan Australia. Sedangkan di Kalimantan Timur, BNBR juga membangun pembangkit listrik berkapasitas 3x18 megawatt.

Sementara untuk investasi di bisnis jalan tol, BNBR juga akan membangun 24 ruas jalan dan salah satunya tengah digarap tol Cimanggis-Cibitung sepanjang 31 KM. iwan/inung/bani

Related posts