Carut Marut BBM Subsidi

Oleh: Ahmad Syaikhon

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Pemerintah saat ini terus mengkaji beberapa opsi untuk mengendalikan konsumsi BBM subsidi. Salah satunya dengan pembatasan penggunaan BBM subsidi. Padahal, sederet uji coba pembatasan BBM yang pernah dilakukan beberapa waktu lalu, boleh dikatakan tidak berhasil.

Memang, berdasarkan APBN 2013, subsidi BBM ditetapkan Rp193,8 triliun dengan asumsi volume 46 juta kilo liter. Sementara itu, harga minyak mentah Indonesia US$100 per barel. Saat ini, konsumsi BBM dalam negeri mencapai 1,3 juta perbarel perhari (bph) sementara lifting minyak hanya sekitar 830 ribu bph.

Akibatnya, sejak Januari-Maret lalu, konsumsi BBM bersubsidi mencapai 6% di atas kuota yang ditetapkan. Tetapi apakah dengan melakukan pembatasan konsumsi BBM subsidi atau menaikkan harganya semua masalah akan selesai?

Rasanya tidak, sebab dengan melakukan pembatasan atau menaikkan BBM justru akan menimbulkan gejolak harga akibat faktor multiplier effect. Dan tentunya itu akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, sudah pasti kenaikan harga BBM berdampak terhadap kenaikan harga barang dan jasa akibat komponen biaya yang naik.

Padahal, ada cara yang lebih efektif mengatasinya, tentunya kalau alasan pembatasan atau kenaikan harga BBM untuk menghindari kuota BBM subsidi yang terus terlewati. Yakni dengan mengenjot lifting minyak.

Maklum, sejak beberapa tahun produksi minyak Indonesia terus menurun dan tidak pernah mencapai target. Ya, produksi minyak mentah Indonesia yang terus mengalami penurunan diklaim karena sumur yang sudah tua.

Tidak mengherankan kalau lifting minyak yang digagas DPR terus meleset dari target, seperti target APBN 2013 ini, target lifting kita mencapai 900 ribu Barel per hari. Namun, realisasinya hanya mencapai sekitar 830 ribu barel per hari.

Tetapi anehnya, meski lifting minyak tak pernah capaai target pemerintah terus ngotot menaikkan target lifting minyak.Akibatnya pemerintah selalu merevisi lifting minyak dari waktu ke waktu. Lantas, apakah dengan alasan seperti itu lantas membuat pemerintah seenaknya saja menerapkan kebijakan pembatasan atau menaikkan harga BBM.

Kenapa tidak mencoba dengan cara mencari sumur-sumur baru? Rasanya kalau kita terus mencoba mengekplorasi sumur-sumur baru lifting minyak kita akan meningkat. Karena, saat ini masih banyak blok yang memiliki cadangan migas tetapi hingga kini belum dieksplorasi. Alasannya lagi-lagi masalah teknologi.

Memang, untuk mening­kat­­kan hasil produksi minyak saat ini tidak cukup hanya de­ngan men­dapatkan sumur baru. Tetapi juga harus ditunjang tek­nologi yang canggih. Dan untuk me­nerapkan tekno­logi canggih di­per­lukan biaya investasi yang besar. Untuk itu dibutuhkan kebijakan pemerintah yang lebih kondusif agar banyak investasi langsung (foreign direct investment) yang masuk. Semoga!

BERITA TERKAIT

Kembali, Satgas Yonmek 741/GN Gagalkan Penyelundupan BBM di Perbatasan RI-RDTL

Kembali, Satgas Yonmek 741/GN Gagalkan Penyelundupan BBM di Perbatasan RI-RDTL NERACA Jakarta - Untuk kesekian kalinya, Satgas Yonif Mekanis (Yonmek)…

Gubernur Sumsel: Pemerintah Akan Subsidi Petani Karet

Gubernur Sumsel: Pemerintah Akan Subsidi Petani Karet NERACA Palembang - Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru mengatakan, pemerintah akan memberikan…

Masyarakat Apresiasi Turunnya Harga BBM Non-Subsidi

Oleh : Rika Prasetya, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI) Masyarakat Indonesia patut bergembira karena awal tahun 2019…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Asuransi Kesehatan Kembali Merugi

    Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economic Universitas Prasetiya Mulya   Hingga akhir tahun 2018 lalu defisit…

Mengapa Ekspor dan Kenapa Risaukan Impor?

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Ekspor dan impor sama pentingnya dalam perekonomian sebuah bangsa. Kita dididik take…

Belit OTT

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Lagi, seorang petinggi parpol terciduk OTT KPK. Apakah…