Hatta: Berlakukan Bea Masuk Hortikultura

NERACA

Jakarta – Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa merasa sekarang sudah saatnya diberlakukan bea masuk untuk produk-produk hortikultura. “Pengendalian terhadap bea masuk ini lebih baik pasalnya di saat-saat tertentu pasar bisa lentur bergerak. Orang tidak akan mengimpor karena beanya sangat tinggi ketika petani kita sedang panen,\" kata Hatta di Jakarta, Kamis (4/4). Dengan pengendalian bea masuk, lanjut Hatta, maka juga dapat menekan inflasi.

Hatta mengatakan, kebijakan pelarangan impor holtikultura cukup baik, tapi sistem tersebut terkendala pelaksanaan di lapangan. Menko Perekonomian mencontohkan dari larangan impor bawang putih, mengakibatkan terjadi keterlambatan sampai 3 bulan.

Hatta telah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk membenahi sistem pembatasan impor tersebut. “Sistem pembatasan impor saya sudah katakan akan menimbulkan distorsi yang besar. Walau maksudnya baik terhadap hortikultura kita, tapi prakteknya pengendalian itu tidak gampang,\" kata dia.

Aturan pembatasan hortikultura menurut Hatta tidak sesuai dengan kondisi pertanian saat ini. Apalagi, aturan yang ada terbilang rumit dalam izin impor sehingga membuat pasar dalam negeri sering terlambat terisi oleh komoditas hortikultura.

Pemerintah sedang mencarikan solusi untuk para petani bawang dalam meningkatkan produksinya sehingga inflasi tidak lagi terjadi di masa mendatang. \"Harus dievaluasi, tidak bisa dipertahankan sistem itu karena governance-nya kurang begitu baik,\" ujar dia. Pengendalian impor dengan pemberlakuan bea masuk dirasa akan menjadi solusi untuk menyelesaikan karut marutnya persoalan hortikultura.

\"Jadi apabila kita memerlukan impor ya kita impor, silakan impor, toh kalau kita lagi panen kita cegah dengan bea masuk yang tinggi, sehingga importir kita silahkan mau impor tapi bea masuk segini, dengan demikian petani kita terlindungi kan,\" kata Hatta.

Pemberlakuan bea masuk untuk hortikultura ini tidak lepas karena dorongan inflasi yang begitu besar akibat harga-harga produk hortikultura yang melambung tinggi. Pada Maret 2013, data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa inflasi yang terjadi adalah sebesar 0,63% atau yang tertinggi dalam lima tahun terakhir. Kontribusi inflasi terbesar adalah dari bawang merah yang ikut andil sebesar 0,44% dan bawang putih yang ikut andil sebesar 0,2%.

Pada bulan sebelumnya, Februari 2013, inflasi yang terjadi adalah sebesar 0,75% atau yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Lagi-lagi yang menjadi kontributor terbesar adalah produk hortikultura, yaitu bawang putih yang berkontribusi sebesar 0,12%.

\"Terus terang saja kecewa dan prihatin sekali dengan inflasi,\" kata Hatta. Dia berjanji akan segera mengendalikan inflasi, karena inflasi itu bisa menggerus daya beli masyarakat. \"Tidak boleh terjadi lagi di mana inflasi yang tinggi hanya disebabkan oleh bawang saja,\" tegas dia.

Related posts