Total Antisipasi Pemutusan Kontrak Blok Mahakam - Perluas Eksplorasi Migas

NERACA

Jakarta – Kontrak sumur gas Blok Mahakam yang dikelola oleh Total E&P Indonesie akan habis pada 2017. Namun begitu, langkah perusahaan migas asal Perancis tersebut justru melebarkan sayapnya dengan memperluas pengembangan eksplorasi di Indonesia, antara lain Mentawai, Bengkulu dan Sorong.

“Untuk memperluas eksplorasi ke daerah-daerah tersebut, total investasi mencapai US$44 juta,” kata Head Development Media Relation Total E&P Indonesia, Kristanto Hartadi di Jakarta, Kamis (4/4).

Kristanto menjelaskan untuk kedua lapangan migas tersebut, masing-masing modalnya berbeda. Seperti eksplorasi di Mentawai, Total menyiapkan dana investasi sebesar US$4 juta atau Rp400 miliar. Sedangkan untuk di Sorong, pihaknya akan menginvestasikan dana sebesar US$40 juta. \"Kami punya 15 aset Blok Migas dan kami mengembangkan dua aset baru di Mentawai dan Sorong. Ini salah satu yang terbaru dari kami,\" jelas Kristanto.

Kristanto menjelaskan, untuk sumur eksplorasi di Papua yang akan dikembangkan di lapangan onshore dan akan dimulai bulan Juni ini. Sedangkan untuk eksplorasi lapangan migas yang berada di offshore, Mentawai, pengeboran tersebut yang dilakukan dengan kedalaman 900 meter dibawah permukaan laut. “Potensi yang di dapat dari eksplorasi pengeboran sendiri kami belum tahu. Tapi yang jelas kami optimis bahwa pencarian memang harus dilakukan terus menerus,” ungkap Kristanto.

Menurut Kristandi, untuk eksplorasi di daerah Sorong, pihaknya telah siap untuk melakukan pengeboran dengan menamakan lapangan tersebut di Blok South West Bird\'s Papua. Sedangkan untuk di Mentawai pihaknya masih melakukan amdal kecil-kecilan.

Sementara itu, dalam rencana kerja dan anggaran atau Work Program and Budget (WP&B), Total E&P Indonesie akan melakukan kegiatan pengeboran 110 sumur pada tahun 2013. Sebagai operator Blok Mahakam, Total E&P Indonesie mengoperasikan 10 rig pengeboran dan enam dari rig ini dikontrak melalui PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX).

Lima rig yang diperpanjang kontrak pemakaiannya adalah Swamp Rig Yani, Maera, dan Raisis, serta Jack Up Rig Raniworo dan Soehanah. Apexindo mendapatkan kontrak perpanjangan ini setelah menang dalam proses pelelangan umum yang diadakan pada pertengahan 2012 hingga awal tahun ini.

Kontrak pengeboran antara Kontraktor KKS Total E&P Indonesie dan Apexindo merupakan kontrak untuk lima rig pengeboran senilai US$590 juta sekitar Rp5,4 triliun, dengan Tingkat Komitmen Kandungan Lokal (TKDN) mencapai 76% atau sama dengan US$450 juta sekitar Rp4,2 triliun. \"Komitmen ini menggambarkan betapa kami begitu kuatnya menekankan pentingnya kandungan lokal dalam berbagai pekerjaan yang dilakukan oleh Total E&P,\" ujar President Director & GM Total E&P Indonesie Elisabeth Proust dalam keterangan tertulisnya.

Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini. Dia mengatakan dari pengalaman tahun sebelumnya realisasi kegiatan pemboran selalu lebih rendah dari rencana. Pada tahun 2012 realisasi kegiatan survei dan pemboran hanya 88 persen. Pencapaian target terendah pada realisasi kegiatan eksplorasi sebesar 50%. “Penyebabnya bukan masalah teknis, tapi masalah non teknis seperti tidaktersedianya rig yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan,” jelasnya.

SKK Migas, kata Rudi mencanangkan tahun 2013 sebagai tahun pemboran. Sepanjang tahun ini akan melakukan 258 sumur eksplorasi, 1.178 sumur pengembangan dan 1.094 workover serta melakukan survei seismic 2D sepanjang 18.751 kilometer dan seismic 3D seluas 22.298 kilometer persegi. “Jadi temen-temen Apexindo jangan kuatir karena pasar rig terus bertambah terutama di Indonesia bagian timur,” katanya.

Belum Ditentukan

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sampai saat ini belum menentukan apakah kontrak tersebut akan diperpanjang, dihentikan atau sebagian pengelolaan diberikan kepada Pertamina. Padahal, kontrak dari Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation sebagai pengelola Blok Mahakam.

Lihat saja, Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini terkesan lebih memilih Total untuk mengelola lapangan migas Blok Mahakam. Rudi menegaskan, hubungan dengan Total tidak hanya sampai di sini atau berakhirnya kontrak pengelolaan Blok Ma­ha­kam sampai tahun 2017 saja.

Menurut dia, kehadiran Total E&P Indonesie yang sudah berpuluh-puluh tahun mengelola Blok Mahakam sudah sangat memberikan manfaat bagi ekonomi nasional. Apalagi, saat ini produksi gas Indonesia tergantung pada perusahaan migas itu.

Sedangkan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan berharap agar PT Pertamina (Persero) bisa mengambilalih sumur gas di Blok Mahakam, Kalimantan Timur. Pasalnya, berdasarkan pengalaman, Pertamina mampu mengelola blok migas menjadi lebih produktif.

Related posts