Global Bond Dituding Lemahkan Rupiah - Berpotensi Gagal Bayar

NERACA

Jakarta – Tren emiten menerbitkan surat utang dengan nilai dolar atau global bond dinilai mempunyai risiko besar dan termasuk potensi gagal bayar atau default, khususnya emiten yang tidak mempunyai pendapatan dalam bentuk dolar, “Utang dolar harus dibayar dolar, emiten yang memiliki pendapatan dalam Rupiah harus cari di market untuk mendapatkan dolar. Hal ini juga semakin menjatuhkan nilai Rupiah\", kata analis pasar modal dari Dana Reksa, Candra Pasaribu di Jakarta, Kamis (4/4).

Menurutnya, emiten yang tidak memiliki pendapatan dolar akan sulit untuk mengembalikan utangnya. Pasalnya, banyak hal yang justru akan merugikan perusahaan. Disamping penerbitan global bond juga cenderung lemahkan rupiah.

Disamping itu, global bond harus mempertimbangkan beberapa aspek seperti bunga serta jangka waktu pengembalian. Kendatipun demikian, sisi positif global bond juga memiliki keuntungan bunga yang lebih rendah.

Hal senada juga disampaikan analis obligasi dari PT Penilai Peringkat Efek Indonesia (Pefindo), Fakhrul Aufa, penerbitan obligasi global (global bond) akan banyak membebankan emiten tersebut. Pasalnya, harus mengkonversi pembayaran utang dalam bentuk dolar, “Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar akan mempengaruhi biaya pembayaran utang dalam dolar tersebut,”ujarnya.

Sementara dari sisi keuntungan, global bond memberikan yield yang lebih rendah, sehingga beban utang yang harus ditanggung oleh emiten akan lebih murah. Oleh karena itu, lanjutnya, global bond sebaiknya hanya untuk jangka pendek.

Kata Fakhrul, emiten bisa menerbitkan obligasi denominasi dolar karena yield yang rendah serta likuiditas global yang masih tinggi sehingga kemungkinan besar akan oversubscribed.\"Namun demikian dalam jangka panjang harus hati-hati terutama bagi emiten ketika pembayaran bunga dan pokok utang,”tegasnya.

Tercatat, belum lama ini PT Modernland Realty Tbk (MDLN) berencana menerbitkan global bond pada kuartal II tahun ini senilai US$ 150 juta. Namun rencana ini masih dikaji dan dibahas oleh manajemen. Rencnanya, penggunaan dana ini untuk akuisisi lahan.

Selain itu, ada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) telah menerbitkan obligasi valuta asing (global bond) berjenis Senior Unsecured Bond dengan nilai US$ 500 juta. Obligasi tersebut berjangka waktu 5 tahun dan diterbitkan pada 28 Maret 2013. Kemudian PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) melalui anak usahanya TBG Global Pte Ltd berencana menerbitkan obligasi global (global bond) maksimal US$ 500 juta (Rp 4,9 triliun) dengan tenor lima tahun dan terakhir perusahaan tambang PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) yang masih mengkaji rencana penerbitan obligasi dolar pada tahun ini. (nurul)

Related posts