Pilihan Tepat Hunian di Kota Penuh Polusi - Konsep Hijau

Menekan pemborosan energi dan menghambat pemanasan dunia, kalangan pengembang gencar memasarkan pemukiman dengan konsep hunian hijau. Alhasil, dalam kurun beberapa tahun terakhir, propert ramah lingkungan semakin menggeliat di kawasan penyangga Ibu Kota.

NERACA

Seiring dengan aktifnya perekonomian yang kian melonjak di Indonesia, keadaan Jakarta sebagai Ibu Kota negara yang jumlah penduduknya melebihi kapasitas diwarnai dengan kemacetan yang semakin menggila. Alhasil, Ruang Terbuka Hijau (RTH) semakin minim. Padahal keberadaan RTH di Jakarta sangatlah mutlak, karena sebagai tulang punggung pembangunan kota dalam mengurangi banjir, menyerap polutan dan menyuplai oksigen. Selain itu, dapat dimanfaatkan juga oleh para pejalan kaki dan pesepeda yang ada di Jakarta .

Kehadiran ruang terbuka hijau dalam hunian kini semakin disadari oleh pengembang sebagai nilai jual. Oleh karena itu, ketersediaan ruang terbuka hijau yang semakin menyusut ini dijadikan modal bagi industri properti dalam memasarkan produknya kepada konsumen, yakni dengan menjanjikan hunian yang ramah lingkungan dengan konsep green property.

Ya, Kini tidak hanya sekedar rumah saja sebagai kebutuhan primer masyarakat, tetapi adalah rumah yang memiliki ruang terbuka hijau dan bersahabat dengan alam. Pasalnya, di tengah isu pemanasan global, kebutuhan ruang terbuka hijau merupakan hal yang dicari masyarakat untuk menyeimbangkan gaya hidup di perkotaan nan padat.

Disisi lain, para pengembang dan pemilik bangunan diwajibkan oleh pemerintah untuk menyediakan 30% lahanya menjadi kawasan hijau. Sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang penataan ruang. Dimana 30% area terdiri atas ruang terbuka hijau publik sebesar 20% dan sisanya 10% ruang terbuka hijau untuk privat.

Lihat saja, sekarang ini mulai banyak proyek properti dari mulai gedung perkantoran, apartemen hingga perumahan bahkan kawasan industri yang mengaku mengusung konsep ini. Sebut saja Grand Indonesia yang berlokasi di kawasan Bunderan HI untuk kategori gedung perkantoran, The Pakubuwono Residences, di Kebayoran Baru Jakarta Selatan untuk apartemen ,dan perumahan Bumi Serpong Damai (BSD) untuk kawasan perumahan.

Konsep green property yang juga dikenal sebagai bangunan berkelanjutan berkembang sejak tahun 1970. Wacananya mulai hangat dibahas sebagai bentuk tanggapan terhadap krisis energi dan keprihatinan masyarakat akan kondisi lingkungan. Sejak saat itu, kebutuhan untuk menghemat energi dan mengurangi masalah lingkungan pun terus-menerus digalakkan hingga hari ini.

“Green property sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan,” kata pengamat properti hijau, Nirwono Joga.

Perlu diakui, pembangunan properti dengan konsep green property akan memberikan imbas lebih panjang berupa efiseinsi kendatipun biaya diawal lebih mahal. Pembangunan proyek perumahan dengan konsep ramah lingkungan akan menaikkan biaya produksi 10%-20%, sehingga produsen dan konsumen harus mengeluarkan dana lebih besar dibandingkan dengan membeli properti pada proyek konvensional.

Namun hal tersebut adalah bentuk investasi jangka panjang. Karena manfaatnya, biaya perawatan jangka panjang akan jauh lebih rendah dibandingkan dengan biaya perawatan proyek konvensional, sehingga pada akhirnya menguntungkan konsumen. Selain itu, kehidupan masyarakat atau kota yang sehat dan berkualitas akan terwujud. Bila sudah demikian, industri properti tidak hanya sekedar membangun kota secara fisik tetapi nyata membangun kehidupan masyarakat yang berkualitas.

Lalu hunian seperti apa yang dapat digolongkan sebagai green property? Banyak pihak sepakat bahwa green property harus memenuhi syarat renovasi, lokasi, sistem rancangan, dan pengoperasian yang menganut prinsip hemat energi serta berdampak positif bagi lingkungan, sosial dan ekonomi. Spesifikasi ini memerlukan sebuah pedoman atau panduan yang tetap, karena saat ini definisi standar tersebut masih multi-interpretasi.

Sementara itu, Presiden Komisaris Daniland Group Emil Arifin juga punya definisi hunian hijau, menurutnya, konsep green property tidak hanya sekedar membuka ruang terbuka hijau atau memberi nuansa hijau, tetapi juga bagaimana melakukan hemat energi dalam penggunaan listrik, AC, melakukan daur ulang sampah dan air kotor hingga penggunaan energi terbarukan. Karena jangka panjang green property akan menghemat dalam bidang maintenance.

Kemudian mengenai penggunaan air, lanjutnya, pengembang menggunakan water efficiency dengan mengolah air dari Sungai di dekat lokasi apartemen menjadi air bersih. Di sisi indoor, pengembang juga memerhatikan kesinambungan lingkungan dengan penggunaan cat non toxic, rendah VOC (Volatile Organic Compound) dan berbahan dasar air (water base). Kualitas udara dalam ruangan juga dapat ditingkatkan melalui sistim ventilasi dan alat-alat pengatur kelembaban udara.

Related posts