Grup Bakrie Tengah Lego Harga Yang Tepat - Penjualan Anak Usaha

NERACA

Jakarta –Performance kinerja bisnis Grup Bakrie saat ini belum banyak perubahan yang berarti selain raport merah membukukan rugi dan utang besar. Merespon kondisi tersebut, Aburizal Bakrie sebagai pemilik kelompok usaha Bakrie menyatakan siap menjual perusahaan miliknya dengan catatan jika ada harga yang sesuai.

Hal tersebut terungkap dalam artikel Financial Times yang mewawancarai Aburizal Bakrie soal pencapresan dan situasi bisnisnya, Rabu (3/4). Financial Times membeberkan, Grup Bakrie sedang berencana membeli kembali saham perusahaan tambangnya, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dari Bumi Plc, namun masih kekurangan uang. Sehingga, beberapa analis menilai, Grup Bakrie harus menjual salah satu perusahan medianya demi mendapatkan uang. \"Semuanya dijual di harga yang tepat,\" kata Aburizal seperti dikutip dari Financial Times.

Seperti diketahui, beredar kabar Grup Bakrie berniat menjual kepemilikan sahamnya di PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), anak usahanya yang bergerak di bidang media massa. Beberapa yang kabarnya melakukan penawaran adalah pengusaha lokal Chairul Tanjung (CT) dan Pemilik Grup MNC Hary Tanoesoedibjo.

Sebelumnya, CEO CT Corp Chairul Tanjung mengungkapkan, dirinya tengah menawar pembelian saham VIVA sebesar US$ 1,8 miliar secara tunai atau setara Rp17,46 triliun dengan kurs Rp9.700 per dolar. Disebutkan, pihak CT Corp mengklaim salah satu penawar tertinggi, “Proposal kami adalah membeli semua sahamnya, saku uang saya masih dalam,”ujarnya.

Selain itu, kata Chairul Tanjung, pihaknya menilai mampu membeli 100% saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA). Hanya saja, kesepakatan ini belum selesai. Nantinya, dalam membeli 100% saham VIVA tersebut, CT Corp akan menggunakan dana pinjaman baru.

Namun bagi pengamat pasar modal, Agus Irfani menilai, rencana CT Corp membeli saham VIVA hanya sebagai “pancingan” pergerakan harga saham VIVA. Pasalnya, saat rumor tersebut beredar harga saham tersebut terus mengalami peningkatan. “Bisa jadi sebagai pemancing. Dari aspek psikologis pasar, adanya rumor ini sahamnya akan baik.”paparnya.

Oleh karena itu, kata dia, pelaku pasar perlu mencermati kenaikan harga saham tersebut. Terlebih ada aspek lain selain tujuan ekonomi dalam pembelian saham ini. Investor harus melihat dari sisi PER (price earning ration)-nya. “Jika tidak sesuai atau jauh melebihi fundamentalnya yang dijual maka sebaiknya investor jangan langsung ambil.”tuturnya.

Menurutnya, apabila PER dari saham tersebut sudah berada di atas 20 kali, itu artinya tidak sehat. Sejauh ini investor perlu berhati-hati jika suatu perusahaan memiliki pertumbuhan yang rendah di masa lalu, misalnya hanya 5%, namun PE-nya sangat tinggi. “Jika harganya sudah terlampaui tinggi maka perlu diwaspadai adanya pembalikan arah.” tandasnya.

Lepas dari hal tersebut, dia menilai, apabila CT berani membeli harga VIVA lebih tinggi dari harga pasar maka sangat dimungkinkan adanya nilai strategis yang diperoleh CT yang tidak diketahui publik, baik terkait prospek VIVA sebagai media ataupun yang terkait dengan perpolitikan yang saat ini cukup kental.

Salah satu hal logis pihak Bakrie menjual VIVA, lanjut dia, ditengarai adanya kebutuhan dana cash yang harus dipenuhi Bakrie untuk melunasi pengambilan sahamnya di Bumi Plc dan mendukung kinerja perseroannya ke depan. (bani)

Related posts