Pertumbuhan Ekonomi Diakui Belum Berkualitas

Pengangguran Belum Turun Significant

Pertumbuhan Ekonomi Diakui Belum Berkualitas

Jakarta---Pemerintah mengakui pertumbuhan ekonomi nasional belum berkualitas. Karena hingga kini belum ada penurunan angka kemiskinan dan pengganguran yang significant. “Memang saya akui pertumbuhan ekonomi belum berkualitas sejak krisis,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Bambang Brodjonegoro di Jakarta, (15/6)

Lebih jauh kata mantan Dekan FEUI ini, akar masalah belum berkualitasnya pertumbuhan ekonomi nasional terletak pada dominasi konsumsi yang lebih besar dibandingkan investasi dalam kinerja pertumbuhan ekonomi. Minimnya kontribusi investasi, khususnya investasi pemerintah dalam pertumbuhan ekonomi dinilai lantaran ruang fiskal yang semakin kecil. “Belanja mengikat, termasuk belanja pegawai lebih besar porsinya dibandingkan belanja modal. Ini pangkal permasalahan yang membuat pertumbuhan belum berkualitas,” ungkapnya.

Menurut Bambang, ternyata tingginya laju pertumbuhan ekonomi tidak diikuti dengan penurunan angka pengganguran. Padahal Pertumbuhan ekonomi 2010 terakselerasi sekitar 6,1%. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik per Februari 2011 mencatat, jumlah pengganguran mencapai 8,12 juta jiwa atau hanya menurun 470 ribu orang jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Total pengganguran terbuka yang mencapai 6,8% dari total angkatan kerja belum bisa dipandang sebagai sebuah keberhasilan. Idealnya pertumbuhan ekonomi yang tinggi juga diikuti dengan pengurangan angka kemiskinan dan pengganguran yang cukup signifikan.

Menurutnya, sekalipun ada penurunan angka kemiskinan dan pengganguran, hal tersebut belum menunjukkan kebijakan pemerintah yang optimal. Kebijakan yang dimaksud mengarah pada belum maksimalnya dukungan anggaran bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi yang mampu menekan angka pengganguran dan kemiskinan.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, hingga hari ini, nilai PDB mencapai Rp7.019,9 triliun. Nilai PDB tersebut sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 6,4 persen. Dengan target pertumbuhan ekonomi yang semakin besar tahun depan, nilai nominal PDB Indonesia juga akan semakin besar. “PDB kita akan mendekati Rp8.000 triliun tahun depan,” tuturnya.

Ditempat terpisah, Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Dedi Mulyadi mengatakan, Jepang menilai Indonesia berpotensi besar untuk menjadi salah satu negara penggerak ekonomi global.

Menurut Dedi, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh tim independen di Jepang, Indonesia merupakan tujuan investasi yang menarik di Asia Tenggara dibandingkan dengan Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand.

Hal itu, lanjut Dedi, diungkapkan oleh Gubernur Osaka Toru Hasimoto pada saat melakukan pertemuan dengan Wakil Menteri Perindustrian Alex SW Retraubun di Kemenperin. "Gubernur Osaka mengungkapkan, Indonesia merupakan mitra yang paling bagus dan penting. Mereka menilai Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina sudah lebih berorientasi ke China sekarang,” kata Dedi di Jakarta, Rabu (15/6/2011).

Dedi menuturkan, hal tersebut merupakan peluang bagi Indonesia untuk menggenjot investasi dari Jepang. “Indonesia memiliki program Masterplan Percepatan dan Peluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Walaupun belum ada yang konkret, tetapi Gubernur Jepang berjanji berupaya keras mendorong investor asal Jepang ke Indonesia, termasuk teknologi ramah lingkungan,” ungkapnya.

Dedi menuturkan, belum ada proyek spesifik yang dibicarakan oleh kedua negara. Namun, katanya, Jepang telah menyatakan minatnya untuk membangun pelabuhan di Cilamaya. “Ini karena pusat-pusat industri Jepang, seperti automotif ada di daerah tersebut,” tandas Dedi.

Kemenperin mencatat, setidaknya ada sebanyak 13 perusahaan dari Osaka yang telah dan berencana memperluas usahanya atau melakukan investasi baru di Indonesia. Dimana diantaranya adalah Sanyo Optical Pickup Production, Keihin Corp (karburator), Panasonic (lampu LED), Daihatsu Motor, Daiki Alumunium, Exedy Corp, Dunlop, Slix Corp, Yasunaga Corp, Sumitomo Rubber, Kohnan Shoji, Nippon Shokubai, dan Ajinomoto. **cahyo

Related posts