Aset OCBC NISP Tumbuh 32% di 2012 - NPL Turun

NERACA

Jakarta - PT Bank OCBC NISP Tbk berhasil mencatatkan pertumbuhan aset sebesar 32%, menjadi Rp79,1 triliun di kuartal IV 2012. Sementara tahun ini, perseroan akan meningkatkan produktivitas dan efisiensi internal, sekaligus meningkatkan pertumbuhan aset melalui beragam produk unggulan dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan nasabah.

Direktur Utama OCBC NISP, Parwati Surjaudaja, mengatakan pertumbuhan aset ini terutama ditopang pertumbuhan kredit yang mencapai Rp52,9 triliun di akhir 2012 atau naik 28% dari periode yang sama di 2011. Sedangkan target kredit perseroan ditaksir mencapai 20%-30% di tahun ini. Penyaluran kredit terbesar masih untuksmall medium enterprises(SME/UKM) ke depan.

“Dukungan penuh dari OCBC Group akan semakin memperkuat sinergi bisnis, teknologi, dan operasional untuk meningkatkan pelayanan dan mempercepat pertumbuhan bisnis yang berkualitas dalam rangka mencapai target yang dicanangkan,” kata Parwati, usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2012, di Jakarta, Rabu (3/4).

Dengan prinsip penyaluran kredit yang sangat selektif dan melalui proses kehati-hatian, maka rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL)grosssebesar 0,9% pada akhir 2012, turun dari angka di 2011 yang sebesar 1,3%. Parwati menambahkan, porsi kredit ritel yang di dalamnya termasuk kredit konsumer dan kredit UKM mencapai 60% dari total kredit.

Perseroan memproyeksi porsi tersebut akan meningkat seiring dengan target kredit korporasi yang hanya dipatok tumbuh 20%. “Porsi ritel sekarang 60%, tapi harus bisa meningkat ke 61%-62%. (Kredit) korporasi ini kan tumbuh lebih lambat sehingga target tumbuh di tahun 2013 sebesar 20%. Saat ini sekitar 40%, dan akan turun 2%-3%,” imbuhnya.

Bank yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh OCBC Bank Singapura ini juga meraih peningkatan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 28% menjadi Rp60,8 triliun. Pertumbuhan terbesar ada di deposito (dana mahal), sementara CASA (current and savings account) atau giro dan tabungan (dana murah) turun dari 60% di 2011 menjadi 50% di 2012.

“Pertumbuhan CASA butuh waktu karena sangat tergantung segmen consumer. Sedangkan segmen bisnis proporsinya mesti seimbang. Produk giro dan tabungan tahun ini harus tumbuh lebih tinggi dari tahun 2012, dengan target sekitar 20%-30%,” ujar Parwati.

BUKU-3

Dalam RUPST itu juga diputuskan bahwa laba yang diperoleh pada tahun lalu sebesar Rp915,45 miliar, akan ditahan dan diinvestasikan kembali untuk memperkuat posisi permodalan perseroan. Artinya, perseroan tidak membagikan dividen kepada para pemegang saham.

Laba tersebut meningkat 21,57%, dari laba di periode sama 2011 yang sebesar Rp753 miliar. “Tujuan dividen tidak dibagikan adalah untuk menyokong rencana pertumbuhan bisnis kami yang tinggi, karena dalam beberapa tahun ke depan masih memerlukan investasi cukup besar dalam penguatan infrastruktur untuk mendukung perkembangan kami,” papar dia.

Untuk berinvestasi dan berekspansi tentu saja diperlukan dukungan modal yang mencukupi, maka rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) yang di akhir 2012 mencapai 16,5%, akan dipertahankan di angka 13% pada tahun ini.

“Masalah permodalan bisa dilihat dari berbagai hal. Terutama modal itu digunakan untuk ekspansi. Prediksi kita untuk tahun ini, CAR-nya 13% karena tidak adacorporate action, sehingga pertumbuhan modal itu besar sekali untuk ke depannya,” terang Parwati.

Sementara dari modal inti, OCBC NISP sudah termasuk Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) 3, dengan jumlah sebesar Rp8,3 triliun per Desember 2012. Namun Parwati menegaskan bahwa pihaknya belum akan menambah modal untuk masuk BUKU 4 lantaran jarak nilainya yang terlampau jauh.

“Kita di posisi BUKU 3 sekarang. Untuk ke BUKU 4 masih jauh sekali. Jadi kita tidak ada target untuk ke BUKU 4. Kita lihat kelebihannya antara BUKU 4 dan BUKU 3, tidak terlalu banyak. BUKU 3 sudah sangat fleksibel, menurut saya,” jelas Parwati. [ria]

Related posts