Tahun ini, Investasi Emas Kalah Menarik Dibanding Saham

NERACA

Jakarta- Indikasi kuat adanya perbaikan ekonomi di Amerika Serikat (AS) dinilai akan melemahkan nilai emas yang kemarin sempat mengalami penurunan sebesar 1,54% sehingga menjadikan instrumen investasi tersebut kurang tepat untuk tahun ini. “Semakin adanya kepastian mengenai perbaikan ekonomi AS kembali membenamkan emas ke dasar jurang karena turun $24.8 ke level $1576.1 per troy ounce, semakin menguatkan pendapat saya bahwa investasi emas sangatlah tidak menarik untuk tahun 2013.” kata Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang di Jakarta, Rabu (3/4).

Harga emas logam mulia di PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kemarin misalnya, turun Rp 3.000 per gram dibanding perdagangan sebelumnya di Rp 554.000 per gram. Dari situs logam mulia disebutkan, harga emas logam mulia terkecil dijual Rp 551.000 per gram. Nilai ini lebih rendah dibanding perdagangan akhir pekan lalu yang masih Rp 557.000 per gram.

Pergerakan harga emas batangan tersebut terpengaruh oleh pergerakan emas internasional dan pergerakan nilai tukar rupiah dengan dolar AS. Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, tercatat ditutup melemah 10 poin (0,102%) ke 9.750/9.755 dari posisi sebelumnya 9.740/9.745. Melandainya penutupan rupiah ini disebut sebut dipicu oleh positifnya data-data AS, di mana angka-angkanya menegaskan berlanjutnya pemulihan ekonomi AS.

Indikator yang akan mendorong perekonomian negeri paman Sam tersebut, menurut Edwin antara lain keputusan pemerintah AS membatalkan rencana untuk memotong pembayaran Medicare Advantage Insurers atas swasta, dan sebaliknya akan membiarkan terjadinya 3.3% kenaikan. Ini menjadi salah satu pendorong Dow Jones menguat cukup tajam, yaitu secara year to date sebesar 1557.87 poin (+11.89%). Indikator lainnya yaitu membaiknya data factory orders (pesanan pabrikan) yang menguat 3% atau di atas konsensus ekonom +2.9%.

Sentimen Global

Kenaikan data tersebut, lanjut Edwin, yang kemudian didorong adanya penguatan industri pembuat pesawat terbang akan semakin menguatkan peluang terjadinya perbaikan ekonomi AS serta berita positif dari Eropa. “Data Market\\\'s Euro Zone Manufacturing PMI Index bulan Maret sebesar 46.8 atau di atas konsensus ekonom sebesar 46.6 yang kemudian mendorong penguatan Bursa Utama Eropa seperti FTSE 78.92 poin (+1.23%), DAX 148.56 poin (+1.91%) dan CAC +73.95 poin (+1.98%).” paparnya.

Dia menilai, kenaikan tajam Dow Jones ke level tertinggi barunya yang diiringi derasnya aksi beli bersih (net buy) asing yang dalam dua hari di pekan ini mencapai Rp 730.4 miliar atau secara year to date mencapai Rp 19.19 triliun di tengah masa pembagian dividen bulan April dan Mei berpotensi mendorong IHSG ke level tertinggi baru lagi. “Bukan mustahil akan mencapai level 5,000 di pekan ini.” tandasnya.

Bahkan, pada perdagangan saham kemarin, IHSG ditutup naik 0,48% ke level 4.981,47. Kenaikan tersebut diikuti kenaikan indeks saham LQ45 sebesar 0,77% ke level 843,49. Indeks saham JII naik 1,15% ke level 669,78. Indeks saham ISSI naik 0,68% ke level 164,53.

Sektor saham yang menguat antara lain sektor saham pertambangan sebesar 1,35% ke level 1.831,33, sektor saham infrastruktur naik 2,25% ke level 1.056,49, dan sektor saham keuangan naik 0,39% ke level 662,14. Sementara dari 130 saham menguat, 114 saham stagnan, dan 147 saham melemah, volume perdagangan saham sebesar 8,01 miliar dengan nilai transaksi perdagangan saham mencapai Rp6,94 triliun. Investor asing tercatat melakukan net buy senilai Rp554,75 miliar.

Untuk pilihan investasi saham, Edwin merekomendasikan sebelas saham yang dapat diakumulasi investor, yaitu ITMG, SMGR, GGRM, KLBF, JSMR, TLKM, ASII, INTP, WIKA, PTPP, dan WSKT. Sementara tiga saham yang perlu perhatikan yaitu BMRI, PGAS, BSDE. (lia)

Related posts