IKM Boleh Cicil Tagihan Listrik - Terpapar Dampak Kenaikan TDL

NERACA

Jakarta - Pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) bisa meminta keringanan pembayaran tagihan tarif listrik kepada PT Perusahaan Listrk Negara (Persero) dengan cara mencicilnya jika memberatkan proses produksi.

“Untuk IKM, bisa meminta keringanan bagi pembayaran tagihan tarif listrik kepada PT PLN (Persero) dengan mencicil. Pelaku IKM bisa berbicara dengan PLN mengenai skema pembayaran tagihan listrik,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jarman di Jakarta, Rabu (3/4).

Setiap tagihan dari rekening listrik dari pelaku IKM, menurut Jarman, sangat berbeda dan perlu negosiasi dengan PLN agar dapat dicapai kesepakatan bersama sesuai dengan perjanjian yang disepakati.

“Bisa pendekatan business to business, tergantung kepada sektor industri. Ada yang bergerak di sektor tekstil dan kondisi keuangannya susah, maka bisa menyicil untuk membayar tagihan listrik,” paparnya.

Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) sebesar 15% sejak Januari 2013 membawa efek berlanjut terutama bagi perusahaan IKM. Industri ini mengeluhkan kenaikan TDL karena biaya produksi menjadi naik dan sangat tinggi.

Kenaikan tarif TDL sebesar 15% dengan sistem kenaikan bertahap sebanyak tiga kali sebesar 4,3% per triwulan hanya untuk di 2013. Sedangkan pelanggan yang memakai konsumsi listrik sebesar 450 sampai 900 KV tidak dikenakan kenaikan tarif TDL.

Sebelumnya Kenaikan tarif dasar listrik tahap kedua per 1 April sebesar 4,3% serta di perparah lagi dengan adanya pemadaman listrik bergilir yang dilakukan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) sangat memukul Industri Kecil dan Menengah (IKM) sektor otomotif.

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Euis Saedah mengungkapkan kenaikan TDL tahap kedua, sudah tentu memberatkan seluruh sektor IKM. Namun IKM otomotif yang paling terasa dari kenaikan TDL dan pemadaman listrik bergilir ini.

Lebih jauh lagi Euis memaparkan kontribusi listrik bagi struktur biaya produksi di IKM otomotif hampir 50% lebih. Oleh karena itu,IKM otomotif terbebani ongkos produksi sampai 15%.Euis menyatakan besarnya kebutuhan listrik oleh sebagian besar IKM tentunya akan semakin besar juga potensi kerugian yang dialami industri jika industri tidak beroperasi karena terkena pemadaman bergilir.

\"Kami sudah dibebankan besarnya biaya TDL (tarif dasar listrik). Jika pemadaman bergilir diberlakukan juga buat industri berapa besar kerugian kami jika tidak dapat berproduksi,” terangnya.

UKM Terbebani

Sementara itu, kenaikan tarif dasar listrik yang berlaku ini membuat para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM), meradang. Sebab, mereka tengah sulit dengan mahalnya harga bahan baku kedelai, bawang putih, dan minyak goreng.

Hasanuddin, Ketua Klaster Karya Boga, mengeluhkan, kenaikan TDL tahap dua sebesar 4,3 % ini membuat beban kehidupan semakin berat. Betapa tidak, harga bahan baku belum juga stabil di harga normal, sudah ditambah kenaikan TDL.

\"Sudah bahan baku harganya mahal, sekarang ditambah tarif listrik naik, benar-benar berat beban yang kami tanggung sekarang. Apa tidak bisa dibatalkan saja kenaikan TDL itu sehingga usaha kami tetap berjalan?\" keluhnya.

Hasan menyebutkan, konsumsi listrik per UKM rata-rata bisa antara Rp 50.000 hingga Rp 100.000 per hari. Belum kebutuhan lainnya yang sekarang juga sedang mahal seperti kedelai Rp 7.500/kg, bawang putih Rp 32.000/kg, dan minyak goreng Rp 212.000/galon.

Dia mengaku hanya bisa pasrah karena bagaimana pun juga kebijakan tersebut sangat sulit untuk dibatalkan. Saat ini para pengusaha yang sebagian besar memproduksi makanan itu pun harus memutar otak untuk menyiasati agar kenaikan TDL yang meningkatkan ongkos produksi ini, tidak merugikan usaha.

\"Kami juga terpaksa menaikkan harga produk kami, walaupun cara ini pasti akan mengurangi daya beli masyarakat. Yang kami khawatirkan jika nantinya berimbas pada pengurangan tenaga kerja,\" katanya.

Hal senada Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menilai kenaikan TDL pada kuartal II sebesar 4,3 % akan menggangu dunia usaha.\"Kenaikan TDL tentunya berdampak pada dunia usaha khususnya production cost yang akan meningkat,\" ujar Ketua Umum Hipmi Raja Sapta Oktohari.

Okto menjelaskan, menurut dia, kenaikan TDL belum diimbangi dengan ketersediaan infrastruktur. \"Cukup prihatin karena kenaikan ini belum diimbangi dengan perbaikan lain yang bisa mengurangi beban pengusaha seperti ketersediaan infrastruktur,\" jelasnya. Kenaikan listrik, tambah dia, juga akan berdampak sistematik ke penurunan daya beli.

\"Kenaikan ini akan berimplikasi pada meningkatnya harga antara 5-10 % dan turunnya daya beli. Di tambah masalah Upah Minimum Regional (UMP) yang masih menyita perhatian dunia usaha menjadi kendala sehingga dibutuhkan affirmative action untuk menjaga daya saing nasional,\" katanya.

Sedangkan terkait dengan pemadaman bergilir yang dilaksanakan PLN beberapa hari lalu, Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat mengakui pemadaman listrik bergilir oleh PLN di Jakarta dan sekitarnya membuat kalangan pengusaha sektor industri merugi. \"Pasti (rugi). Jadi yang paling ideal tidak terjadi pemadaman,\" kata MS Hidayat.

Hidayat mengatakan kalau pemadaman listrik itu satu-satunya cara bagi PLN untuk mengatasi keterbatasan energi maka tidak masalah asal diberitahukan sebelumnya.

Related posts