Porsi Bahan Baku Impor Capai 70% - Industri Makanan dan Minuman

NERACA

Jakarta - Wakil Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan dan Minuman Indonesia Yusuf Hadi menilai bahwa hampir 60-70% produk makanan dan minuman masih tergantung dengan bahan baku impor. Hal ini disebabkan oleh minimnya produksi dan pasokan bahan baku lokal.

\"Kira-kira ketergantungannya hampir 60-70%. Tapi itu tergantung dari produk-produknya,\" ungkap Yusuf saat ditemui dalam peluncuran Produk Sambel Masak ABC di Jakarta, Rabu (3/4).

Menurut dia, tidak masalah jika bahan baku masih impor asalkan produk lanjutannya diproses di Indonesia sehingga value edit nya bisa berada di Indonesia. \"Seperti gandum kan tidak bisa ditanam di Indonesia. Tetapi produk lanjutannya seperti roti, kue bisa diproses disini sehingga value editnya bisa dinikmati,\" kata dia.

Akan tetapi, kata dia, kalau bahan baku masih tersedia di dalam negeri, para pelaku industri makanan dan minuman diminta untuk menggunakan bahan baku lokal. \"Kayak produk sambel, itukan bahan bakunya dari cabe. Sedangkan cabe banyak sekali ditanam di Indonesia. Tentunya perusahaan harus menggunakan cabe dalam negeri. Tapi dengan kualitas yang bagus dan harga yang stabil,\" tambahnya.

Ia menjelaskan bahwa hampir 51% pendapatan orang Indonesia dikeluarkan untuk membeli makanan jadi. Hal inilah yang mendorong pertumbuhan konsumsi makanan. \"Kalau pendapatannya naik akibat penyesuaian Upah Minimum Provinsi (UMP) maka akan meningkatkan konsumsi,\" lanjutnya.

Bahan baku mamin yang masih tergantung dari impor diamini oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Benny Wahyudi. Menurut Benny, dengan besarnya pertumbuhan industri mamin mengakibatkan peningkatan impor bahan baku. \"Besarnya pertumbuhan industri mamin di Indonesia meningkatkan impor bahan baku seperti gandum yang mencapai 5,6 juta ton, gula 2,7 juta ton, biji kedelai lebih dari 2 juta ton. Selain itu, 70% bahan baku untuk industri pengolahan susu harus mengandalkan pasokan dari negara lain,\" katanya.

Untuk mengurangi impor bahan baku, menurut Benny, perlu peningkatan program hilirisasi sektor industri mamin nasional. Pangsa pasar produk mamin yang cukup besar, lanjut Benny, mendorong tumbuhnya permintaan bahan tambahan pangan. \"Pemerintah akan mendorong investasi di sektor mamin agar bahan baku bisa diperoleh didalam negeri. Impor bahan baku membuat harga produk jadi semakin tinggi. Saat ini, lebih dari 30% kebutuhan bahan tambahan pangan (BTP) masih impor. Untuk itu, kami mengundang investor untuk menanamkan investasinya di bidang industri BTP di Indonesia,\" ujarnya.

Benny menambahkan, sejumlah bahan tambahan pangan mulai dari pewarna, pemanis buatan, pengawet, penyedap dan pengawet rasa dan aroma, antioksidan, antikempal, pengatur keasaman, pemutih, dan pematang tepung, pengemulsi hingga pengental masih diimpor dari Eropa, Amerika Serikat dan China. \"Pengembangan industri harus difokuskan pada penguatan seluruh rantai nilai agar tercipta pembangunan industri yang berkelanjutan dengan struktur industri yang kuat serta menghasilkan nilai tambah yang tinggi,\" tandasnya.

Rp 66 Triliun

Sementara itu, Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman memproyeksikan bahwa impor makanan dan minuman (mamin) yang mayoritas berupa bahan baku hingga akhir tahun ini bisa mencapai US$ 7 miliar atau sekitar Rp 66 triliun karena minimnya pasokan dari dalam negeri. \"Diproyeksikan impor bahan baku pada tahun ini menyentuh US$ 7 miliar, naik 16,6% dibandingkan realisasi tahun lalu sebesar US$ 6 miliar. Minimnya pasokan bahan baku seperti gandum, membuat produsen harus mengimpor dari negara lain,\" katanya.

Pemerintah, menurut Adhi, diharapkan fokus di sektor hulu apabila tidak ingin impor terus meningkat. “Bahan baku produsen makanan dan minuman nasional saat ini sekitar 70% di antaranya masih diimpor. Tingginya impor bahan baku itu bisa mempengaruhi harga jual produk makanan dan minuman olahan di pasar domestik,” paparnya.

Adhi juga mengungkapkan kalau saat ini mendorong produsen terus mengembangkan inovasi guna meningkatkan daya saing dan menekan impor barang konsumsi termasuk makanan dan minuman. \"Dari sisi produsen tentu kita harus meningkatkan inovasi produk, harus dilakukan terus karena tanpa inovasi industri ini akan berhenti,\" kata Adhi.

Produsen, lanjut dia, juga harus bisa memanfaatkan sumber daya yang ada di dalam negeri dengan mengemas dan memprosesnya menjadi produk yang unik dan tidak pasaran. \"Diferensiasinya harus jelas, kalau orang lain bikin permen kita ikut bikin permen. Boleh sama tapi harus ada yang beda, karena kalau harus bersaing langsung kita pasti kalah karena bahan baku kita impor semua,\" katanya.

Diferensiasi inovasi, menurut Adhi, penting untuk mendorong daya saing di tengah gencarnya impor. Produsen perlu mewaspadai dan menyiasati persaingan itu dengan terus berinovasi dalam pengembangan produk. Selain itu, produsen juga perlu melakukan efisiensi guna meningkatkan daya saing produk yang menurun akibat beban biaya produksi. \"Itu yang bisa dilakukan pelaku usaha selain menekan biaya produksi dengan efisiensi,\" katanya.

Related posts