Menggabungkan Empat Mata Pelajaran - Pendidikan Berpola STEM

Proses pendidikan STEM adalah lebih dari sekedar menggabungkan empat mata pelajaran ke dalam kurikulum inti. Dengan proses pendidikan STEM ini, anak-anak akan terdorong untuk mengasah kemampuan nalar dan berpikir kritis dalam memecahkan masalah.Siapkah anak Indonesia menghadapi tantangan dunia sepuluh tahun mendatang?

NERACA

Pendidikan adalah proses berkembang yang secara konsisten memperkenalkan teori-teori dan praktek terkini yang sesuai dengan penelitian terbaru yang tersedia. Salah satu perkenalan terbaru ke dalam dunia pendidikan saat ini adalah pendidikan Science, Technology, Engineering, and Math (STEM), yang berfokus pada pelajaran inti ilmu pengetahuan, rekayasa teknologi, dan matematika.

Pendidikan ini juga membantu anak-anak memahami isu yang lebih kompleks dan mencari solusi kreatif. Kunci untuk sukses dan agar pendidikan STEM menjadi efektif adalah dengan melakukan integrasi yang sebenarnya dari disiplin ilmu ini menjadi meta-disiplin.

Lebih dari itu, berdasarkan National Sciene Foundation, 80% pekerjaan di sepuluh tahun yang akan datang membutuhkan keahlian matematika dan ilmu pengetahuan. Namun sayangnya pencapaian prestasi belajar siswa Indonesia di bidang sains dan matematika, menurun. Siswa Indonesia masih dominan dalam level rendah, atau lebih pada kemampuan menghafal dalam pembelajaran sains dan matematika.

Ini terlihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Trends In Mathemathic and Science Study (TIMSS) yang diikuti siswa kelas VIII Indonesia tahun 2011. Untuk bidang matematika, Indonesia berada pada urutan ke-38 dengan skor 386 dari 42 negara yang siswanya dites. Skor Indonesia ini turun 11 poin dari penilaian tahun 2007. Adapun bidang sains, Indonesia berada diurutan ke-40 dengan skor 406 dari 42 negara yang siswanya di tes di kelas VIII. Skor tes sains siswa Indonesia ini turun 21 angka dibandingkan TIMSS 2007.

Ilmu STEM sebenarnya bukanlah ilmu yang enakutkan dan susah untuk dipelajari. Tentunya diperlukan kreativitas dari tenaga pengajar agar dapat membuat sesi belajar matematika dan ilmu pengetahuan, khususnya, menjadi lebih menarik dengan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari dan persepsi dari anak yang belajar tersebut.

Psikolog LPT UI, Wita Mulyani mengatakan bahwa penyampaian STEM yang tergolong ilmu eksakta harus disesuaikan dengan potensi anak. Untuk anak-anak yang kurang berpotensi di bidang eksakta tentu saja membutuhkan metode yang lebih mudah, menarik dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak untuk dapat memahami pelajaran eksakta secara optimal.

Dalam hal ini, lanjut wita, guru memegang peranan penting agar pelajaran sulit jadi menyenangkan dan punya andil dalam menentukan siswa yang unggul di bidang tertentu. Sehingga pelajaran yang sulit seperti matematika tidak akan menjadi musuh bagi siswa jika guru dapat membangun suasana belajar yang nyaman.

“Untuk guru matematika atau pelajaran lain yang diangggap sulit, tidak ada salahnya mengasah kreativitas adar ccara belajarnya tidak monoton. Kemudian, guru juga harus menjadi sosok yang menyenangkan dan memahami siswa,” ujar Wita.

Sehingga, sambung dia, seiring dengan meningkatnya ketertarikan anak-anak dan remaja dalam mengeksplorasi ilmu STEM nantinya tidak hanya akan meningkatkan kualitas hidup mereka namun juga meningkatkan daya saing sumber daya manusia Indonesia di kancah panggung dunia.

Meningkatkan Daya Kritis

Tujuan pembelajaran matematika adalah terbentuknya kemampuan bernalar pada siswa yang tercermin melalui kemampuan berpikir kritis, logis, sistematis, dan memiliki sifat objektif, jujur, disiplin, dalam memecahkan suatu permasalahan baik dalam bidang matematika maupun bidang lain dalam kehidupan sehari-hari.

Country Director Eye Level Indonesia, Mr. Joseph Lee menerangkan bahwa manusia terus dihadapkan pada tantangan bagaimana untuk menyeimbangkan kebutuhan mereka terhadap sumber daya dunia ketika beroperasi dalam batasan yang diberlakkan oleh hikum alam. Matematika membantu kita lebih memahami isu kompleks guna mencari solusi kreatif untuk cara hidup yang berkelanjutan.

“Masyarakat dan individu harus membuat pilihan sulit, matematika memberikan kita basic basic thinking dan critical thinking yang tepat untuk membuat keputusan. Karena inilah Eye Level merupakan pilihan yang tepat untuk membawa anak Anda siap menghadapi tantangan dunia berbasis STEM di dalam dekade ini,” imbuhnya.

Basic thinking dalam matematika mengembangkan pemahaman dasar dari angka dan sifat siswa. Ini memungkinkan para siswa untuk mengembangkan pemahaman berdasarkan keterampilan computative baik oleh proses dan praktek. Sedangkan critical thinking dalam matematika mengajar siswa bagaimana berpikir kritis membantu mereka bergerak di luar pemahaman dasar dan menghafal. Mereka beralih ketingkat baru kesadaran meningkat saat menghitung, menganalisis, pemecahan masalah, dan evaluasi.

Related posts