Bank Mutiara Optimis Terselesaikan di 2011 - Warisan Kredit Macet Rp600 M

Jakarta - PT Bank Mutiara Tbk (sebelumnya Bank Century) optimistis dapat merestrukturisasi kredit bermasalah warisan manajemen lama senilai Rp600 miliar di tahun ini. Sejak diambil alih Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) kredit bermasalah Bank Mutiara mencapai Rp6,2 triliun. "Kita telah merestrukturisasi kredit bermasalah sejauh ini hingga sekitar Rp2 triliunan lebih. Tahun ini sendiri kita yakin bisa melakukan restrukturisasi hingga Rp600 miliar," kata Direktur Utama Bank Mutiara, Maryono di sela pembukaan Kantor Cabang Pembantu Bank Mutiara di Tebet, Jakarta, Rabu.

Dengan porsi tersebut, lanjut Maryono, Bank Mutiara mampu menurunkan rasio kredit bermasalah (NPL) dari 10,42% pada 2008 menjadi 4,84% pada akhir 2010. "Per Maret 2011 NPL Bank Mutiara tercatat 4,8% dan di akhir 2011 bisa mencapai 3,5%," tambahnya.

Dengan adanya restrukturisasi kredit bermasalah tersebut, Maryono mengatakan Rasio Kecukupan Modal (CAR) akan terjaga di kisaran 11%. Dikatakan Maryono, jika restrukturisasi kredit bermasalah mengalami kendala maka untuk menambah permodalan opsi penerbitan obligasi subordinasi (subdebt) menjadi pilihan. "Kita harus menjaga CAR di 11% nah dari situ jika kredit bermasalah mengalami hambatan maka subdebt akan menjadi pilihan dan akan dilakukan di 2012," tuturnya.

Maryono menambahkan, bank Mutiara telah mengirimkan kelengkapan dokumen ke Swiss pada 15 Februari 2011 lalu terkait gugatan perdata atas aset deposito Bank Century. Aset senilai US$ 156 juta tersebut tersimpan di Bank Dresdner Swiss.

Pada bagian lain, Maryono menyampaikan Bank Mutiara akan menjadi Apex Bank (Bank Induk) bagi Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Jawa Tengah. "Perkirakan di Jateng itu kan ada 110 BPR. Kita harapkan bisa semuanya kerjasama dan menjadi induk. Tetapi sebelumnya Bank Mutiara harus berdiri dulu di sana kita buka cabang," kata Dia.

Selain itu, Bank Mutiara juga optimistis dapat mengumpulkan dana masyarakat hingga Rp10,8 triliun di 2011 atau tumbuh 21% dibandingkan tahun 2010 yang sebesar Rp8,9 triliun. Khusus untuk tabungan, bank dengan nilai bailout Rp6,7 triliun ini menargetkan perolehan tabungan dari Rp378,6 miliar menjadi Rp756,0 miliar. "Untuk mendukung perolehan dana pihak ketiga (DPK) kita terus meningkatkan ekspansi pembukaan kantor cabang. Salah satunya di Tebet ini," kata Maryono.

Pembukaan KCP Tebet ini, lanjut Maryono merupakan bagian dari rencana strategis melalui fungsi penghimpunan dana masyarakat dan pemberian fasilitas kredit. "Selain KCP Tebet Bank Mutiara akan membuka kantor cabang di Semarang, Jawa Tengah," tambahnya.

Lebih jauh Maryono mengatakan, hingga Mei 2011 Bank Mutiara telah mengelola 48.500 rekening nasabah. "Sampai Mei 2011 DPK capai Rp10,1 triliun," tambahnya.

Dalam waktu dekat, Maryono mengungkapkan akan merilis layanan internet banking serta bergabung dengan 21 ribu mesin jaringan ATM Prima. "Selama ini selain dapat dipakai di jaringan sendiri, ATM Bank Mutiara telah digunakan di 17.000 jaringan ATM Bersama," jelasnya.

Kantor Cabang

Yang jelas, Bank Mutiara berencana untuk menambah kantor cabangnya sebanyak dua kantor cabang di Semarang dan Jakarta. "Rencana awalnya mau kita buka empat lagi, tapi kita turunkan jadi dua saja, sehingga dengan penambahan ini kita akan punya 60 cabang," ujar Maryono.

Maryono juga mengungkapkan, guna penambahan cabang ini manajemen Bank Mutiara sudah menyiapkan belanja modal (CAPEX) berkisar Rp500 hingga Rp750 juta untuk satu kantor cabang, yang sudah disiapkan selama lima tahun.

Terkait dengan penambahan cabang ini, dia juga mengungkapkan saat ini Bank Mutiara belum ada rencana untuk mengembangkan layanan prioritasnya. "Priority kita masih baru di kantor pusat saja, belum ada rencana untuk mengembangkan, karena kita masih terus membenahi dan mengevaluasi semuanya sesuai instruksi BI," ujarnya.

Dia juga menegaskan saat ini layanan prioritas Bank Mutiara sudah dibuka suspensinya oleh BI, setelah selama satu bulan kemarin (2 Mei-2 Juni) BI menghentikan layanan prioritas kepada 23 bank. "Sudah buka suspensi, tapi kita hanya layani dalam bentuk kartu elite card yang bisa dimanfaatkan misalnya di lounge bandara. Ya intinya yang pegang kartu ini berarti dia nasabah prioritas kita," tuturnya.

Sementara untuk fokus kredit, perseroan telah menetapkan komposisi masing-masing 40% untuk kredit konsumer dan 60% untuk kecil dan mikro. "Kami lakukan kerjasama dengan BPR dalam tiga hal yaitu linkage program (pembiayaan) likuiditas, dan jasa layanan (transfer, kliring)," tuturnya.

Hingga saat ini, Bank Mutiara sudah bekerjasama dengan empat Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dengan nilai pembiayaan mencapai Rp100 miliar. Untuk target Kredit Perkreditan Rakyat (KPR) sendiri, Bank Mutiara menargetkan mencapai Rp500 miliar. "Hingga Juni ini kita sudah biayai mencapai Rp350 miliar, akan kerjasama dengan beberapa developer, ada beberapa yang sudah siap diantaranya Agung Podomoro, Ciputra," jelasnya.

Sementara untuk Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), perseroan juga sudah melakukan kerjasama dengan perusahaan multifinance dengan portofolio yang mencapai Rp2 triliun. "Ke depannya KKB akan kita naikkan menjadi Rp2,4 triliun dengan bunga 14%," tukasnya.

Related posts