Hati-hati Penipuan Perdagangan Emas Syariah

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Ketua DPR RI Marzuki Alie dicatut untuk bisnis tipu-tipu perdagangan emas beraliran syariah. Pencatutnya adalah Michael Ong, presiden direktur PTGolden Traders Indonesia Sariah (GTIS).

NERACA

Awalnya, GTIS memang memberikan keuntungan dalam bentuk 10% saham. Keuntungan itu dimasukkan ke dalam Yayasan Dana Dakwah Pembangunan bentukan MUI. Ketua Bidang Perekonomian Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Amidhan, mengakui keuntungan tersebut diterima karena pengurus MUI duduk sebagai dewan penasihat di GTIS. “MUI hanya menjadi dewan pengawas syariah di GTIS,” ujarnya. Dewan pengawas dari MUI, kata dia, adalah Sekretaris Jenderal Ichwan Sam dan Ketua Bidang Fatwa KH Ma’ruf Amin.

Amidhan menjelaskan, emas yang diperdagangkan dan dikelola GTIS hanya 1,2 ton atau bernilai sekitar Rp 600 miliar. Emas bernilai ratusan miliar rupiah itu kini masih aman tersimpan di Bank BCA dan Bank Mandiri.

Kasus itu muncul berawal dari kaburnya Michael dan anggota direksi Edward, menghilang dan kabur dari Jakarta. Untung, pihak manajemen lainnya langsung mengamankan aset yang masih ada. Michael hanya menggondol dana sebesar Rp 10 miliar.

GTIS berhasil menghimpun dana masyarakat lewat pembelian emas itu karena gencarnya brosur yang disebarkan memuat pernyataan Marzuki dan Ketua MUI Ma’ruf Amin yang menyatakan, kegiatan GTIS baru pertama kali di Indonesia apalagi bersistem syariah. Marzuki mengaku kecolongan. Namanya tersangkut, karena dia diminta rekannya Azzidin yang juga anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat. Kebetulan, Azzidin juga pengurus MUI. Makanya dia mengajak bergabung dengan GTIS yang berkantor pusat di kawasan Mega Kemayoran, Jakarta Pusat.

Liciknya, ini mirip kasus Snock Hurgronye. Dia masuk Islam agar bisa diterima di kalangan Islam di Aceh, saat penjajahan Belanda. Michael pun minta Marzuki Ali menjadi saksi saat dirinya memaklumkan masuk Islam. Baiat itu dilakukan di masjid DPR di Senayan. Ma’ruf Amin yang mengislamkan. Perlunya dia masuk Islam, agar bisnis emasnya mendapat restu dari Dewan Syariah Nasional (DSN) yag berada di bawah MUI. Namun, syaratnya Michael harus beragama Islam dulu.

Semula, DSN minta agar Michael mengurus perizinan dulu di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) dan BKPM. Namun, pendiri GTIS itu berkilah, bahwa sertifikat DSN itu diperlukan untuk meluluskan izin. Kini RUPLS GTIS telah menonaktifkan Michel. Dan para nasabah pun bisa tenang.

GTIS menjual dua produk. Pertama, harga emas Rp 500.000 per gram mereka bayar Rp 600.000 per gram atau 20% di atas harga pasar. Kelebihan itu dibayar dalam bentuk diskon dalam tiga bulan, masing-masing 2,5%. Kemudian pada akhir periode ada buyback guarantee, sehingga investasi nasabah Rp 600.000 itu kembali.

Adiwarman Karim, wakil ketua DSN, mengingatkan masyaakat agar tak mudah tergiur dengan bisnis yang mampu memberikan imbalan besar. \\\"Kalau ada yang menawarkan sesuatu yang tidak masuk akal, tolak!\\\" tutur Adiwarman.Dia juga mengaku kecolongan karena ikut memberikan rekomendasi.

Menurut Adiwarman, sebenarnya, sebelum mengeluarkan rekomendasi, DSN menanyakan izin GTIS, apakah perusahaan ini penjual emas atau investasi. \"Mereka bingung menentukan. Katanya, jual emas juga, tapi investasi juga,\" kata Adiwarman. Tapi pihak GTIS berkilah, rekomendasi DSN justru diperlukan untuk mengurus izin.

DSN pun setuju mengeluarkan rekomendasi karena berstatus sebagai pedagang emas dan GTIS berstatus sebagai perusahaan penjual emas. Adi menjelaskan, mengawasi pedagang emas lebih mudah dibandingkan dengan investasi. Praktek ini, kata dia, menyimpang dari prinsip syariah. \"Syariah itu tidak boleh menipu, tidak merugikan orang, tidak riba, tidak gharar (mengandung ketidakpastian),\" kata Adiwarman.

Direktur Wakala Induk Nusantara, Zaim Saidi yang merintis perdagangan emas dan dinar di Indonesia, mengaku erkejut mengapa MUI bisa kecolongan. Menurut dia, ada pemahaman yang salah bahwa emas adalah investasi yang nilainya naik turun. Padahal, ujarnya, harga emas tak pernah berubah. Yang berubah adalah nilai uang. Akibat pemahaman yang keliru itulah, kata Zaim, masyarakat mudah saja diberi harga emas yang 10-15% lebih mahal dai harga pasar.

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan menyatakan modus penipuan dengan emas bodong sudah sering terjadi. “Sebenarnya ini modus lama yang berulang,\" kata Kepala Bappebti Syahrul R. Sempurnajaya, belumk lama ini.

Syahrul menjelaskan pula, ada sejumlah kasus perusahaan investasi emas, di antaranya Raihan Jewellery, Golden Trader Indonesia Syariah (GTIS), Virgin Gold Mining Corporation, dan Trimas Mulia. (saksono)

Related posts