Sektor Pebankan Jadi Juru Selamat di Kuartal I - Harga Saham Tumbuh 20%

NERACA

Jakarta – Melesatnya indeks Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak bisa dilepas ditopang dari positifnya performance kinerja sektor keuangan dan perbankan yang kemudian memicu aksi beli investor asing.

Pengamat pasar modal dari E-Trading Securities,Betrand Raynaldi mengatakan, mayoritas saham sektor keuangan memiliki kinerja yang positif pada kuartal pertama 2013, “Sektor itu memiliki kaitan yang cukup dekat ketika suku bunga perbankan berada di level rendah, “katanya di Jakarta, Selasa (2/4).

Menurutnya, kondisi itu akan mendorong minat masyarakat menggunakan kredit dari perbankan untuk kepemilikan properti sehingga membuat penyaluran kredit di perbankan akan terus tumbuh dalam beberapa waktu ke depan.

Dari sisi harga sahamnya, sepanjang tahun ini harga saham sektor keuangan menguat sekitar 20%. Sebut saja harga saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dari awal 2013 bahkan sudah menguat sekitar 24,11%, “Ke depannya, masih terbuka penguatan harga saham BBRI dan saham-saham lain yang saat ini telah menguat 20% namun diperkirakan ruang penguatannya akan cenderung terbatas,\"ujarnya.

Tercatat saham tiga besar perbankan dengan kenaikan tertinggi dari awal 2013 hingga saat ini, yakni PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) meningkat 44,26% ke posisi Rp880 per saham, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur (BJTM) 33,33% menjadi Rp520 per saham, dan saham PT Bank Negara Indonesia (BBNI) 32,21% ke Rp4.925.

Sementara itu, Kepala Riset PT Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan jika melihat tabel valuasi harga saham sektor keuangan, kenaikan tertinggi di sub sektor perbankan bukan berasal dari saham-saham unggulan, kecuali dari saham BBNI.

Menurutnya, kenaikan harga saham perbankan non unggulan lebih dipengaruhi oleh rumor yang beredar di pasar dibandingkan dengan kinerjanya. Sebagai contoh kenaikan saham BJTM, secara kinerja mengalami penurunan laba bersih di tahun lalu sebesar 15,76% dibandingkan setahun sebelumnya, “Beredar rumor jika dividen saham yang akan dibagikan oleh emiten itu cukup tinggi, 60% dari laba bersihnya,\"ungkapnya.

Begitu pula dengan saham BBKP, kata Reza, meskipun laba bersihnya 2012 meningkat 12,57% menjadi Rp834,72 miliar, namun masih di rentang batas minimal. Dia mengungkapkan, kenaikan signifikan saham BBKP lebih dipengaruhi oleh adanya rumor dari pemegang saham utama BBKP yang akan menjual sebagian kepemilikan sahamnya kepada investor asing di harga Rp1.000 per lembar saham.

Dirinya menilai, kenaikan harga saham emiten yang berada di sub sektor perbankan lebih atraktif dibandingkan dengan emiten yang berlini bisnis asuransi, perusahaan sekuritas, dan jasa keuangan lainnya. (bani)

BERITA TERKAIT

PLN Terbitkan Surat Utang Rp 5,7 Triliun

NERACA Jakarta – Perkuat struktur permodalan, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menggalang dana hingga Rp 5,7 triliun dari penerbitan surat…

Bidik Pasar Ekspor Timor Leste - Japfa Targetkan Volume Ekspor 1000 Ton

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan pasar ekspor, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) melakukan ekspor perdana produk pakan ternak ke…

Pendapatan Merdeka Copper Naik 66,95%

NERACA Jakarta - Emiten pertambangan logam, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mengantongi pendapatan US$191,77 juta pada semester I/2019 atau…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pieter Tanuri Tambah Porsi Saham di BOLA

NERACA Jakarta –Perkuat porsi kepemilikan saham, Pieter Tanuri menambah kepemilikan sahamnya pada PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BOLA) menjadi 23,52%…

BEI Kantongi 22 Calon Emiten Bakal Go Public

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sesumbar bakal mencatatkan 60 emiten baru sampai akhir tahun 2019 seiring dengan…

Lippo Karawaci Tunjuk Rudy Halim Jadi COO

NERACA Jakarta – Emiten properti, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) resmi menunjuk Rudy Halim sebagai Chief Operating Officer (COO) yang telah efektif…