Investor Indonesia Dinilai Paling Pesimistis - Investasi Saham

NERACA

Jakarta- Pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kuartal pertama 2013 mengalami peningkatan sebesar 14,16% dinilai belum mampu meningkatkan kepercayaan investor lokal untuk berinvestasi di pasar saham. Alasannya, investor masih berpandangan pasar saham atau ekuitas adalah pasar yang penuh ketidakpastian dan belum dapat menjanjikan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dana tunai dan properti. “Dana tunai masih dianggap sebagai instrumen investasi yang favorit bagi banyak orang Indonesia.”kata Presiden Direktur PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Legowo Kusumonegoro di Jakarta, Selasa (2/4).

Menurutnya, masyarakat harus menyadari bahwa dana yang mereka tempatkan di rekening tabungan berbunga rendah misalnya, pada akhirnya akan tergerus oleh inflasi. Oleh karena itu, pihaknya merekomendasikan para investor untuk mempertimbangkan instrumen investasi lainnya seperti reksa dana maupun produk investasi lainnya berbasis saham.

Pihaknya mencatat, tingkat pengembalian investasi dari reksa dana yang berkaitan dengan pasar saham, seperti reksa dana saham, telah terbukti bisa memberikan imbal hasil yang mampu mengalahkan lajunya inflasi. Sehingga reksa dana merupakan alternatif investasi yang dapat memenuhi kebutuhan para investor. Namun sayangnya, tidak banyak orang Indonesia yang paham tentang reksa dana.

Luncurkan ISI

Oleh karena itu, lanjut dia, penyedia jasa keuangan memiliki peran penting untuk menjelaskan pilihan-pilihan investasi tersebut. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan perusahan untuk meluncurkan Manulife Investor Sentiment Index di Asia (Manulife ISI).“Terdapat begitu banyak peluang di seluruh wilayah Asia untuk mereka yang ingin berinvestasi guna meraih tujuan hidup mereka. Sangat penting bagi kami untuk memahami apa yang mereka butuhkan. Manulife Investor Sentiment Index akan membantu kami melakukannya.” jelas Presiden dan CEO Manulife Asia, Robert A. Cook.

Dari hasil survei yang dilakukan Manulife, para investor Indonesia merupakan kelompok yang paling optimistis terhadap kondisi investasi dibandingkan dengan para investor lainnya di Asia. Secara keseluruhan nilai indeks Manulife ISI Indonesia adalah +54, lebih tinggi dibandingkan nilai indeks rata-rata regional sebesar +17.

Namun, dibandingkan dengan kelas aset lainnya, lanjut dia, investor Indonesia paling pesimistis terhadap saham dan ekuitas dengan nilai indeks -8 karena mereka masih mengandalkan dana tunai atau properti sebagai instrumen investasi mereka. “Ada kesenjangan antara optimisme mereka terhadap tujuan keuangan dan pensiun dengan perilaku investasi mereka. Kesadaran mereka terhadap investasi tinggi namun membutuhkan langkah yang konkret dan bimbingan lebih lanjut tentang cara memanfaatkan produk investasi untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang mereka,” tutur CEO & Presiden Director Manulife Indonesia, Chris Bendl.

Survei tersebut, kata dia, menunjukkan 76% dari responden optimistis dalam mencapai tujuan keuangan mereka. Selain itu, sebagian besar investor Indonesia menyadari pentingnya rencana pensiun. (lia)

Related posts