Holcim Genjot Kapasitas Hingga 12,5 Juta Ton - Bangun Pabrik Baru

NERACA

Jakarta- PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) akan menggenjot kapasitas produksi hingga 12,5 juta ton produksi per tahun dari kapasitas saat ini sebesar 9,1 juta ton. Hal tersebut akan ditopang dari penyelesaian dua proyek pembangunan pabrik perseroan di Tuban, Jawa Timur.“Untuk 1,7 juta ton di Tuban 1 yang akan beroperasi di tahun ini, dan Tuban 2 ditargetkan selesai pada 2015 juga sebesar 1,7 juta ton sehingga akan dicapai 3,4 juta ton. Maka dalam empat tahun peningkatan produksi sebesar 40% menjadi 12,5 juta ton per tahun.” kata Direktur Utama SMCB, Eamon J Ginley di Jakarta, Selasa (2/4).

Menurutnya, total investasi pada pabrik di Tuban mencapai lebih dari US$800 juta. Dana tersebut antara lain diperoleh dari internal kas perseroan, export credit (ECA), dan pinjaman lainnya. Pengembangan pabrik tersebut merupakan langkah perseroan untuk mempertahankan pangsa pasar Indonesia. “Perkiraan ada kenaikan pasar 9-10% per tahun. Kita ingin mengambil kesempatan itu, bertumbuh sebesar 9-10%.” ujarnya.

Pada tahun 2012, kata dia, perseroan mencatatkan penjualan meningkat sebanyak 20% menjadi Rp9 triliun dari 7,5 triliun di tahun 2011. Hal tersebut didukung oleh kondisi pasar konstruksi yang dinamis, peningkatan permintaan di sektor perumahan, serta peningkatan daya beli dan peningkatan pembangunan di sektor infrastruktur dan komersial. Pihaknya mencatat, setiap tahun kebutuhan pasar semen mencapai 4-5 juta ton per tahun.

Saat ini, lanjut dia, perseroan mendistribusikan sebagian besar produksinya ke wilayah Jawa Timur. Karena itu, hal tersebut menjadi pertimbangan perseroan untuk membangun pabrik di wilayah Tuban. Selain efektif, hal ini juga dimaksudkan agar perseroan dapat memperkuat pemasaran produksinya dan menyiasati tuntutan biaya logistik.

Naikkan Harga Jual

Dengan terjadinya kenaikan inflasi, menurut dia, perseroan akan menyesuaikan harga jual semen rata-rata ke konsumen. “Kenaikan harga rata-rata saat ini sebesar 8%. Proyeksi kenaikan harga mungkin sekitar kenaikan inflasi dan juga akan disesuaikan dengan kenaikan listrik, BBM, dan upah.” jelasnya.

Hal itupun juga menjadi fokus perseroan untuk melakukan efisiensi, antara lain dari energi yang dibutuhkan. Pihaknya akan mengupayakan untuk memperoleh energi dari penggunaan batu bara yang memiliki kalori lebih rendah sehingga dapat melakukan penghematan sebesar 80%.

Di samping penggunaan batu bara berkalori rendah, perseroan akan berupaya menekan biaya logistik dengan menggunakan sistem pengepakan yang lebih modern. Terlebih dalam pengoperasian dua pabrik baru yang berada di Tuban. Ke depan, untuk pendistribuan barang perseroan juga akan mengubah pengiriman dari jalur barat dengan menggunakan kereta api.

Melihat pesaingnya yang melakukan ekspansi ke kawasan regional lainnya, dia menegaskan, pihaknya belum berencana untuk mengambil langkah tersebut. Alasannya, Holcim Indonesia merupakan keluarga besar dari Holcim Internasional, dan juga memiliki anak usaha di Malaysia. Untuk memperluas pasar ekspor pun akan dipertimbangkan karena fokus perseroan saat ini yaitu untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Dari hasil rapat umum pemegang saham, perseroan menyetujui pembagian dividen sebesar Rp80 per lembar saham dari perolehan peningkatan laba sebesar Rp1,3 triliun. “Bukan hanya meraih peningkatan laba sebanyak 27%, tetapi juga mampu membayarkan dividen final sebesar Rp80 per lembar saham atau mengalami peningkatan 45% dari tahun lalu.” paparnya. (lia)

Related posts