Tingkatkan Likuiditas, Bank Pilih Rights Issue - BNP Bidik Dana Rp 299,36 Miliar

NERACA

Jakarta–Banyak cara industri perbankan untuk meningkatkan likuiditas pendanaan, baik melalui penerbitan obligasi ataupun penawaran umum terbatas (rights issue). Kini penerbitan rights issue menjadi pilihan perbankan yang paling aman, salah satunya yang dilakukan PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk (BNP) yang bakal melakukan rights issue ke tiga sebanyak 260,32 juta saham biasa dengan nilai nominal Rp500 dalam rangka penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (2/4). Disebutkan, harga pelaksanaan rights issue tersebut Rp1.150 per saham. Total dana yang akan diraih dari hasil penawaran umum terbatas tersebut Rp299,36 miliar.

Setiap pemegang saham yang memiliki 16 saham dengan nilai nominal Rp500 per saham yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham Perseroan pada 15 Mei 2013 berhak atas 10 HMETD untuk membeli 10 saham baru.

Dana hasil penawaran umum terbatas ini akan digunakan untuk modal kerja perseroan. Apabila saham yang ditawarkan dalam penawaran umum terbatas ini tidak seluruhnya diambil bagian oleh pemegang bukti HMETD maka sisanya akan dialokasikan kepada pemegang saham yang lainnya yang melakukan pemesanan lebih besar dari haknya secara proporsional.

Apabila setelah dialokasi tersebut masih terdapat sisa saham yang ditawarkan maka pembeli siaga, yaitu ACOM CO Ltd. Adapun jadwal sementara pelaksanaan penawaran umum terbatas ini antara lain Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Perseroan dan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2 Mei 2013, tanggal pernyataan efektif saham dengan pasar reguler dan negoisasi pada 10 Mei 2013 dan pasar tunai pada 15 Mei 2013.

Rights Issue Bank Saudara

Hal yang sama juga bakal dilakukan PT Bank Himpunan Saudara Tbk (SDRA) dengan menerbitkan rights issue senilai Rp 170 miliar di tahun ini. Hasil dari rights issue itu nantinya akan digunakan sebagai modal pengembangan kredit perseroan tahun 2013.

Kata Direktur Utama Bank Saudara, Mardyantoro M Purbo, untuk modal kredit tahun ini, perseroan tidak menerbitkan obligasi seperti tahun 2012, “Cari modal, kami lebih memilih menerbitkan saham baru atau rights issue,\"ujarnya.

Menurut Mardyantoro, rencana aksi korporasi ini sudah tercantum dalam strategis bisnis Bank Saudara tahun 2013. Hal itu dilakukan untuk mendukung pertumbuhan kredit perseroan. Namun, pihaknya belum mau menyapaikan secara detil perihal rencana aksi korporasi tesebut. \"Jumlah serta harga sahamnya belum bisa kami sampaikan sekarang. Sementara, pelaksanaannya yang pasti tahun ini tapi kami belum bisa sebutkan kapannya. Kami perkirakan rasionya yakni 10 saham lama berhak mendapatkan 1 saham baru,\" ujarnya.

Tahun ini, perseroan menargetkan penyaluran kredit sebesar Rp 7,94 triliun dari realisasi akhir tahun 2012 sebesar Rp 5,26 triliun. Selain itu, perseroan juga menargetkan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) naik menjadi sebesar Rp 8,24 triliun, lebih tinggi dari realisasi tahun 2012 sebesar Rp 6,22 triliun.\"Kami optimis aset Bank Saudara pada akhir tahun 2013 dapat mencapai Rp 10,01 triliun. Tapi jika rencana akuisisi Bank Woori bisa terealisasi tahun ini, rencana rights issue tersebut akan kami pertimbangkan kembali,\" tandasnya. (bani)

Related posts