Kerek Kualitas Tekstil, RI Gandeng Korea

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengadakan Kick-off Meeting dengan Korea International Cooperation Agency (KOICA) untuk melakukan kerjasama teknik dalam upaya meningkatkan standar kualitas produk tekstil serta jaminan mutu pengujian terhadap produk tekstil nasional.

Dalam hasil pertemuan tersebut, KOICA akan memberikan bantuan berupa peralatan uji laboratorium, asistensi tenaga ahli, dan pelatihan sumber daya manusia (SDM) di Balai Besar Tekstil (BBT) Bandung. KOICA juga telah menunjuk FITI Testing and Research Institute sebagai lembaga pelaksana yang akan membantu BBT untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Sebagai tanda dimulainya pelaksanaan kerjasama teknik ini, dilakukan pula penandatanganan Agreed Minutes Kick-off Meeting antara BBT dengan FITI Testing and Research Institute Korea yang diwakili Kepala BBT Suseno Utomo dan President FITI Testing and Research Institute Mr. Noh Moon Ok dengan disaksikan oleh Kepala BPKIMI Arryanto Sagala dan Resident Representative KOICA Jakarta, Mr. Kim Byung Gwan, di Kementerian Perindustrian, Jakarta, seperti tertulis dalam siaran pers Kemenperin yang dikutip, Selasa (2/4).

Kepala BPKIMI Arryanto Sagala mengatakan, kerjasama teknik ini merupakan realisasi dari usulan kegiatan yang diajukan oleh BBT untuk dibiayai dari bantuan luar negeri (bluebook 2010-2014). “Tujuan dari proyek ini adalah untuk meningkatkan kemampuan SDM BBT dan penyediaan peralatan laboratorium dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan pada dunia usaha di bidang tekstil,” jelasnya.

Dalam hal ini, pemerintah Korea melalui KOICA menyatakan minatnya untuk membiayai proyek tersebut dengan skema grant (hibah) pada tahun 2011. Dapat disampaikan, total anggaran yang diperlukan untuk mengimplementasikan proyek ini sebesar US$ 1,5 juta, dimana BBT akan menerima 34 jenis peralatan uji dengan total 45 unit, mendapatkan asistensi dari 2 orang tenaga ahli, dan kesempatan pelatihan bagi tenaga manajemen maupun teknisi di Korea.

Implementasi kerjasama ini diwujudkan dalam Record of Discussion (RoD) tentang Technical Cooperation in International Textile Quality Standard and Textile Testing Quality Assurance yang telah ditandatangani oleh kepala BPKIMI dan Residen Representative KOICA Jakarta pada 2 Agustus 2012 di Jakarta.

“Kerjasama proyek ini dimulaisejak Agustus 2012 sampai akhir 2014, danimplementasi detail dari kerjasama ini tercantum dalam Term ofRefference (ToR) yangtidakterpisahkan dari RoD,” kata Kepala BPKIMI.

Sebelumnya, pada tanggal 5 dan 6 Februari 2013, Mr. Kim You Kyum (Principal Researcher, Director of Testing Departement) sebagai Project Manajer telah melakukan kunjungan ke BBT untuk melihat kesiapan BBT dengan diskusi persiapan implementasi proyek tersebut. Pada pertemuan itu, dibahas tentang rencana renovasi gedung pengujian, pengiriman alat-alat uji dan tenaga ahli dari Korea, serta program pelatihan.

Melalui kerjasama teknik ini, Resident Representative KOICA Jakarta, Mr. Kim Byung Gwanmengatakan, KOICA akan berkomitmen untuk meningkatkan standar mutu pengujian produk tekstil di BBT sehingga mampu memenuhi standar mutu pengujian yang diakui secara internasional. “Kerjasama ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing Indonesia dalam bidang industri tekstil dan juga mempersempit ketertinggalan teknologi Indonesia dengan dunia internasional,” tegasnya.

Menandai 40 tahun dijalinnya hubungan diplomatik antara Korea dan Indonesia, proyek ini juga diharapkan dapat mempererat hubungan antara kedua negara. Sejalan dengan hal tersebut, BBT juga berkeinginan untuk menjadikan laboratorium uji yang dimilikinya bertaraf internasional. Kepala BBT Suseno Utomo mengatakan, kedepan BBT diharapkan dapat menjalin kerjasama dengan lembaga pengujian lain di luar negeri dalam melakukan pengujian produk tekstil.

Pasar Garmen

Sebelumnya, Ketua Harian Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesori Indonesia (APGAI), Suryadi Sasmita mengungkapkan pasar garmen pada triwulan I 2013 bisa mencapai US$3,3 miliar, meningkat dari realisasi periode yang sama tahun lalu sebesar US$2,8 miliar. Namun dengan besarnya pasar dalam negeri membuat produsen garmen domestik khawatir, karena membuka peluang bagi produk garmen dan tekstil impor untuk masuk ke pasar nasional. Selain itu, peredaran garmen dan tekstil yang masuk secara ilegal sangat merugikan industri dalam negeri.

Menurut data dari APGAI Produk impor garmen ilegal, mencapai 2 kali lipat dari impor garmen legal. Imbasnya produk impor membanjiri pasar dalam negeri. \"Jika dilihat dari kondisi di lapangan, industri garmen dan tekstil dalam negeri akan sulit bersaing dengan tekstil dan garmen impor karena rata rata mereka menjual dengan harga yang lebih murah,\"terang Suryadi.

Related posts