Target Swasembada Pangan Omong Kosong

NERACA

Jakarta – Target swasembada produk-produk pertanian utama dinilai hanya omong kosong belaka. Sering kali target swasembada meleset dan dibuat target baru, lalu meleset lagi. “Pada lima komoditas strategis yang diharapkan tercapai swasembada, tidak juga tercapai, yaitu padi, jagung, kedelai, gula, dan daging sapi,” kata pengamat ekonomi pertanian Bustanul Arifin di Jakarta, belum lama ini.

Untuk padi, lanjut Bustanul, menurut data produksi Indonesia adalah sebesar 68,9 juta ton gabah atau setara dengan 37 juta ton beras. “Jika konsumsi beras masyarakat Indonesia adalah 113,5 kg per kapita, berarti total konsumsi beras 237,6 juta penduduk adalah sebesar 27 juta ton. Dengan produksi 37 juta ton beras, harusnya surplus beras,” jelas dia.

Tetapi ada yang salah dengan data itu, sehingga pada kenyataannya Indonesia tetap harus impor beras.“Itu karena selalu ada over estimate data sekitar 9-10%,” kata Bustanul. Dengan over esyimate itu, data yang menganggap produksi beras cukup, ternyata di lapangan belum cukup. Impor terpaksa dilakukan Bulog untuk menjaga agar tidak terjadi gejolak harga.

Ketidaksinkronan data estimasi dengan realisasi tersebut kemungkinan terjadi karena penghitungan akurat hanya dapat dilakukan untuk menghitung luasan sawah, tetapi masih sulit menghitung luasan panen. Bencana alam sering menyebabkan gagal panen, terutama banjir.

“Jagung juga mempunyai cerita yang sama dengan beras. Ada gap antara data dengan impor yang terjadi. Tahun 2012, Indonesia masih impor jagung, padahal menurut data seharusnya surplus,” jelas Bustanul. Produksi Indonesia baru 18,9 juta ton jagung pipilan kering, sebagian besar untuk pakan ternak.

Kedelai mempunyai cerita yang lebih tragis. “Sekarang produksi Indonesia sebanyak 783 ribu ton kedelai kering. Angka ini terus menurun. Jauh dari target swasembada sebesar 2,5 juta ton. Impor kedelai Indonesia adalah dari Amerika Serikat,” jelas dia. Sekarang, lanjut dia, nyaris tidak ada yang menanam kedelai. Dulu di sekujur Lampung semua tanam kedelai dan mencukupi kebutuhan, tapi sekarang tinggal cerita.

“Sementara untuk gula, target produksinya 2,8 juta ton tetapi kenyataannya produksi hanya 2,3 juta ton. Padahal konsumsi nasional lebih dari 4,5 juta ton, terdiri dari 2,5 juta ton gula konsumsi dan 2 juta ton gula rafinasi,” jelas Bustanul.Data aneh juga muncul dari komoditas daging sapi. “Data produksi yang dikatakan 415 ribu ton itu diragukan,” kata Bustanul.

Data menyebutkan bahwa besarnya konsumsi nasional adalah 510 ribu ton, tetapi impornya 95 ribu ton yang sebagian besar dari Australia.Program-program yang direncanakan pemerintah untuk mencapai swasembada adalah program-program yang bagus, hanya saja belum terlaksana dengan baik. “Swasembada dapat tercapai jika komitmen dan program dijalankan dengan konsisten,” kata dia.

Kinerja rendah

Menurut Bustanul, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidaklah berkualitas, meskipun disebut-sebut juara dua di dunia. “Tidak berkualitas karena tiga sektor penyerap lapangan kerja baru kurang bertumbuh dengan baik, yaitu pertanian, penggalian-pertambangan, dan industri manufaktur,” kata dia.

Kinerja sektor pertanian dalam lima tahun terakhir tidak pernah lebihd ari 4,8%. Bahkan sempat menyentuh angka 2,9% pada tahun 2010.“Dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,2%, belum cukup berkualitas kalau kinerja sektor pertaniannya rendah. Zaman Pak Harto pertumbuhan ekonominya 7-7,5%, tapi kinerja sektor pertaniannya mencapai 6%,” jelas dia. [iqbal]

Related posts