Jinakkan Harga Pangan, Kemendag Siapkan 3 Langkah

NERACA

Jakarta - Kementerian Perdagangan menilai pada inflasi Maret 2013 yang mencapai 0,63% atau sekitar 80,9% disumbangkan dari inflasi bahan makanan. Hal itu merupakan kombinasi dari beberapa gejolak harga seperti bawang merah, bawang putih, jeruk dan cabai. Untuk itu, Kementerian Perdagangan akan menerapkan 3 langkah utama agar bahan-bahan makanan khususnya makanan impor tidak bergejolak.

Di antara ketiga langkah tersebut antara lain melakukan penyederhanaan dan melakukan perizinan impor satu atap, menggunakan teknologi informasi yang bisa menguangi interaksi antara yang mengajukan dan pemberi izin dan melakukan reformasi terhadap importir terdaftar serta memverifikasi terhadap komoditi-komoditi yang diatur. \"3 langkah inilah yang kita siapkan agar nantinya tidak terjadi gejolak harga dan berujung pada inflasi,\" ungkap Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi di kantornya, Jakarta, Selasa (2/4).

Bayu menjelaskan bahwa pihaknya berharap agar semua langkah-langkah tersebut bisa selesai sebelum datangnya bulan Ramadhan. Pasalnya memasuki bulan Ramadhan, permintaan semakin meningkat sehingga perlu dipenuhi.

\"Juli sudah masuk bulan Ramadhan, jadinya kita berharap agar pada Mei nanti bisa selesai semua dan bisa diterapkan sehingga tidak ada gangguan lagi. Hal itu melihat pola kegiatan masyarakat pada bulan Ramadhan yang cukup tinggi termasuk kaitannya dengan makanan,\" tambahnya.

Pemerintah menargetkan inflasi dalam APBN 2013 mencapai 4,9%. Namun, baru di awal tahun atau memasuki Januari-Maret, tercatat tekanan inflasi mencapai 2,41% atau sekitar 49% dari target inflasi dalam APBN.

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menyebutkan beberapa faktor yang menjadi penyebab utama inflasi pada Maret 2013 yakni, bawang merah 0,44%, bawang putih 0,2% kenaikan harga 41,73%, cabai rawit 0,05% dengan perubahan 20,9%, jeruk 0,02% perubahan sebesar 2,16%, dan harga sewa rumah sebesar 0,02% mengalami kenaikan 0,3%. Sedangkan faktor penghambat inflasi adalah telur ayam ras, emas dan perhiasan.

\"Tingkat inflasi sebesar 0,63% ini, lanjut Suryamin, terutama disumbang oleh indeks beberapa kelompok pengeluaran, meliputi kelompok bahan makanan sebesar 0,51%, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,07%, perumahan dan bahan bakar sebesar 0,05%,\" papar Suryamin.

Sementara inflasi tahun kalender berada di level 2,43% dan inflasi secara year-on-year (yoy) berada di 5,90%. Sementara, secara yoy inflasi inti berada di 4,21% dan 0,13% untuk Maret. \"Kalau lihat 0,63% itu masih tinggi, dibandingkan 2009, 2010, 2011, dan 2012 lebih tinggi, ini dominan bahan makanan yang menjadi dampaknya,\" ujar Suryamin.

Tim Pemantau

Di tempat terpisah, Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru ditetapkan, Agus Martowardojo mengatakan, dirinya akan melaksanakan amanat DPR RI yang meminta Gubernur BI membuat tim pemantau inflasi berkoordinasi dengan stakeholder lainnya. \"Koordinasi BI dengan otoritas fiskal dan otoritas riil tentu harus ditingkatkan seperti amanat Sidang Paripurna yang meminta kami membuat tim pemantau inflasi baik di tingkat pusat maupun daerah,\" ujarnya.

Guna menurunkan inflasi, Kepala Pelaksana Tugas (Plt) Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Bambang Brodjonegoro berharap pemerintah dapat memanfaatkan momentum pada Maret-April 2013 untuk mengatasi kebijakan pangan. Periode itu tdianggap menentukan tak terulangnya kembali laju inflasi tinggi di bulan-bulan mendatang.

Menurutnya, capaian inflasi di Februari 2013 merupakan imbas dari beberapa harga pangan yang terganggu regulasi impornya. \"Harga buah dan daging menjadi mahal, maka dari itu Kementerian Pertanian (Kementan) harus betul-betul memperhatikan kebijakan tersebut,\" ujarnya.

Bambang mengimbau, Kementan jangan hanya terpaku pada kepentingan swasembada, tapi juga melihat pengaruh inflasinya. Kenaikan harga komoditas yang tinggi justru akan membuat masyarakat merugi secara keseluruhan. Ke depan, dia berharap, kebijakan pangan dapat dikoordinasikan dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko) untuk mengatasi permasalahan tersebut. \"Ya pasti daya beli masyarakat dalam setahun ini akan berpengaruh. Mudah-mudahan Maret-April 2013 bisa dinetralisir lah,\" ujarnya.

Sementara itu, Kalangan pengamat ekonomi mengingatkan pemerintah agar mewaspadai laju inflasi yang tinggi pada bulan-bulan awal 2013 karena berisiko melampaui target inflasi 2013 sebesar 4,9%. \"Kalau langkah pemerintah tetap business as usual, bisa naik ke atas target 2013,” kata Pengamat Ekonomi Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa.

Related posts