Produksi Kopi Ditargetkan 1 Ton Per Hektare - Penuhi Permintaan Pasar

NERACA

Jakarta - Pesatnya industri kopi di dalam negeri mendorong sejumlah pengusaha untuk meningkatkan produksinya. Tingginya permintaan kopi untuk dalam negeri dan luar negeri menjadi alasan para produsen kopi nasional.

Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) menargetkan produktivitas kopi Indonesia bisa mencapai panen 1 ton (1.000 kilogram) per hektare (ha) per tahun. Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) AEKI, Irfan Anwar memaparkan, produktivitas kopi di Indonesia baru mencapai 740 kilogram (kg) per hektare (ha) per tahun.

\"Ini target kami dalam 3 tahun ke depan produktivitas kopi Indonesia dapat 1 ton per hektare per tahun. Untuk meningkatkan produktivitas produksi kopi itu tak mudah. Namun Irfan mengaku akan melakukan kerja sama dengan pengusaha kopi di Vietnam yang sukses dalam meningkatkan produksi kopi di negara tersebut,\" kata Irfandi Jakarta, Selasa (2/4).

Lebih lanjut lagi,Irfandi menerangkan kalau dua minggu lalu dari Vietnam untuk melakukan studi banding. Kami akan lakukan riset, pengembangan, dan ekstensifikasi di Indonesia,\" jelas Irfan. Dia bilang, lokasi riset dan pengembangan akan dilakukan di Lampung, Jawa Tengah, dan Toraja.

Irfan berharap, produktivitas kopi Indonesia bisa naik agar Indonesia berkesempatan menghadapi pasar bebas ASEAN di tahun 2015. Jika produksi kopi Indonesia naik, maka peringkat Indonesia bisa naik mengalahkan dua produsen kopi utama, yakni Vietnam dan Brazil.

Namun, Irfan mengatakan, ada tantangan yang harus dihadapi Indonesia. Ia menjelaskan, pada 2015 mendatang, Indonesia dan negara-negara Asia lainnya akan memasuki pasar bebas. Kerja sama bilateral dan multilateral pun harus diperkuat. Salah satunya dengan Cina. \"Indonesia harus siap masuk pasar negara lain,\" ucap Irfan.

Ia mengungkapkan, negara-negara konsumen seperti Jepang, Amerika Serikat, serta negara-negara Eropa telah menerapkan peraturan ketat terhadap kopi yang masuk.

Kejayaan Kopi

Sebelumnya, pemerintah berjanji akan serius mengembalikan kejayaan industri kopi nasional. Indonesia harus bisa menjadi produsen terbesar dunia, namun untuk jangka menengah-pendek ditargetkan menjadi produsen terbesar skala Asia Tenggara.

\"Pemerintah sangat serius untuk sektor perkebunan khususnya kopi, karena kopi Indonesia sangat terkenal memiliki cita rasa berkualitas tinggi. Untuk itu produksi kopi nasional mesti ditingkatkan secara signifikan bahkan untuk jangka menengah-pendek bisa menjadi produsen terbesar Asia tenggara dengan mengalahkan Vietnam. Jadi tidak boleh kalah dengan Vietnam,\" kata Menteri Perdagangan Gita Wiryawan.

Untuk menjadi penguasa penghasil kopi Asia Tenggara, kata Gita, mesti banyak yang harus dilakukan mulai sektor hulu berupa proses perkebunannya maupun hilir khususnya industri. \"Target itu tidak berlebihan, saat ini produksi kopi Vietnam mencapai 1,2 juta ton per tahun, sedangkan Indonesia mencapai 609.000 ton per tahun. Untuk itu mesti memacu produksi dengan cara ekstensifikasi lahan berupa pembukaan lahan baru agar luasan lahan kopi Indonesia naik yang ekuivalen dengan penambahan produksi,\" katanya.

Selain itu, kata Gita, produksi kopi untuk sektor hulu perlu menggunakan pendekatan teknologi tinggi sehingga proses panen maupun pengolahan pascapanen dapat maksimal. \"Untuk meraih target sebagai yang terdepan di Asia Tenggara pada soal produksi kopi maka perlu langkah pembicaraan lintas pemangku kepentingan sektor hulu-hilir agar proses pencapaian target bisa terlaksana secepatnya,\" ujarnya.

Ketua Gabungan Eksportir Kopi Indonesia, Hutama Sugandhi mengakui bila hingga saat ini Indonesia merupakan produsen nomor tiga dunia setelah Brazil dan Vietnam. \"Untuk dunia, Indonesia urutan ketiga dan untuk Asia Tenggara urutan kedua di bawah Vietnam. Untuk potensi lahan sangat kontradiktif, karena potensi lahan di Indonesia lebih besar dibandingkan Vietnam. Langkah ekstensifikasi dengan pembukaan lahan baru bagi produksi kopi menjadi yang utama,\" kata Gandhi pada kesempatan sama.

Gandhi mengungkapkan Indonesia sangat mungkin untuk bisa menjadi produsen kopi nomor satu dunia dengan potensi lahan yang masih terbuka. \"Jadi tidak hanya untuk menjadi nomor wahid di Asia Tenggara, namun harus bisa menjadi nomor satu dunia. Ini butuh dukungan semua pihak,\" ungkapnya.

Gandhi menjelaskan lahan kopi Indonesia saat ini besar 1,1 juta hektar yang ditanam. \"Luasan lahan masih belum optimal, kondisi ini disusul dengan tingkat produktivitasnya yang relatif rendah yang mencapai 700-800 kilogram per hektare. Produktivitas kopi Vietnam bisa sampai 3 ton per hektar, dengan luasan lahann Vietnam mencapai hanya 550.000 hektar. Artinya idealnya Indonesia bisa memiliki luasan lahan lebih besar lagi dengan tingkat produktivitas 1,5 ton per hektare,\" ujarnya.

Faktanya varietas Kopi Indonesia sangat dikenal dunia, bahkan dari 10 varietas kopi terbaik dunia, lima varietas merupakan jenis kopi yang dikembangkan di Indonesia. \"Ini merupakan keunggulan lainnya yang bisa memperkuat langkah menjadi produsen kopi terbesar dunia,\" ungkapnya.

Related posts