Dua Persoalan Listrik Bebani IKM Otomotif - Terkait Kenaikan Tarif dan Pemadaman Bergilir

NERACA

Jakarta - Kenaikan tarif dasar listrik tahap kedua per 1 April sebesar 4,3% serta di perparah lagi dengan adanya pemadaman listrik bergilir yang dilakukan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) sangat memukul Industri Kecil dan Menengah (IKM) sektor otomotif.

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Euis Saedah mengungkapkan kenaikan TDL tahap kedua, sudah tentu memberatkan seluruh sektor IKM. Namun IKM otomotif yang paling terasa dari kenaikan TDL dan pemadaman listrik bergilir ini.

Lebih jauh lagi Euis memaparkan kontribusi listrik bagi struktur biaya produksi di IKM otomotif hampir 50 % lebih.Oleh karena itu,IKM otomotif terbebani ongkos produksi sampai 15%.Euis menyatakan besarnya kebutuhan listrik oleh sebagian besar IKM tentunya akan semakin besar juga potensi kerugian yang dialami industri jika industri tidak beroperasi karena terkena pemadaman bergilir.

\"Kami sudah dibebankan besarnya biaya TDL (tarif dasar listrik). Jika pemadaman bergilir diberlakukan juga buat industri berapa besar kerugian kami jika tidak dapat berproduksi,\'terangnya usai acara Pameran Sriwijaya Exhibition di Kementerian Perindustrian Jakarta,Selasa (2/4).

Sementara itu, kenaikan tarif dasar listrik yang berlaku ini membuat para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM), meradang. Sebab, mereka tengah sulit dengan mahalnya harga bahan baku kedelai, bawang putih, dan minyak goreng.

Hasanuddin, Ketua Klaster Karya Boga, mengeluhkan, kenaikan TDL tahap dua sebesar 4,3 % ini membuat beban kehidupan semakin berat. Betapa tidak, harga bahan baku belum juga stabil di harga normal, sudah ditambah kenaikan TDL.

\"Sudah bahan baku harganya mahal, sekarang ditambah tarif listrik naik, benar-benar berat beban yang kami tanggung sekarang. Apa tidak bisa dibatalkan saja kenaikan TDL itu sehingga usaha kami tetap berjalan?\" keluhnya.

Hasan menyebutkan, konsumsi listrik per UKM rata-rata bisa antara Rp 50.000 hingga Rp 100.000 per hari. Belum kebutuhan lainnya yang sekarang juga sedang mahal seperti kedelai Rp 7.500/kg, bawang putih Rp 32.000/kg, dan minyak goreng Rp 212.000/galon.

Dia mengaku hanya bisa pasrah karena bagaimana pun juga kebijakan tersebut sangat sulit untuk dibatalkan. Saat ini para pengusaha yang sebagian besar memproduksi makanan itu pun harus memutar otak untuk menyiasati agar kenaikan TDL yang meningkatkan ongkos produksi ini, tidak merugikan usaha.

\"Kami juga terpaksa menaikkan harga produk kami, walaupun cara ini pasti akan mengurangi daya beli masyarakat. Yang kami khawatirkan jika nantinya berimbas pada pengurangan tenaga kerja,\" katanya.

Hal senada Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menilai kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) pada kuartal II sebesar 4,3 % akan menggangu dunia usaha.\"Kenaikan TDL tentunya berdampak pada dunia usaha khususnya production cost yang akan meningkat,\" ujar Ketua Umum Hipmi Raja Sapta Oktohari.

Okto menjelaskan, menurut dia, kenaikan TDL belum diimbangi dengan ketersediaan infrastruktur. \"Cukup prihatin karena kenaikan ini belum diimbangi dengan perbaikan lain yang bisa mengurangi beban pengusaha seperti ketersediaan infrastruktur,\" jelasnya. Kenaikan listrik, tambah dia, juga akan berdampak sistematik ke penurunan daya beli.

\"Kenaikan ini akan berimplikasi pada meningkatnya harga antara 5-10 % dan turunnya daya beli. Di tambah masalah Upah Minimum Regional (UMP) yang masih menyita perhatian dunia usaha menjadi kendala sehingga dibutuhkan affirmative action untuk menjaga daya saing nasional,\" katanya.

Industri Merugi

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat mengungkapkan, kontribusi listrik bagi struktur biaya produksi di industri pemintalan mencapai 18,5%, di industri tenun kontribusinya mencapai 14,4%, sementara di industri garmen 1,3%.

Ia menyatakan besarnya kebutuhan listrik oleh sebagian besar industri tentunya akan semakin besar juga potensi kerugian yang dialami industri jika industri tidak beroperasi karena terkena pemadaman bergilir. \"Kami sudah dibebankan besarnya biaya TDL (tarif dasar listrik). Jika pemadaman bergilir diberlakukan juga buat industri berapa besar kerugian kami jika tidak dapat berproduksi,\" ungkap Ade.

Menurutnya, naiknya TDL untuk kalangan industri pertekstilan Indonesia imbasnya sudah sangat besar. Apalagi dengan adanya pemadaman listrik secara bergantian “Jika tarif listrik naik, imbas ke tekstil akan sangat besar. Apalagi kami diberlakukan pemadaman bergilir,” katanya.

Di pihak lain, PLN mengakui kenaikan TDL sebesar 4,3 % dalam kuartal II berlaku mulai 1 April ini sampai Juni 2013. Ini karena sudah kepakatan pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Kenaikan TDL ini dilakukan pemerintah untuk menurunkan subsidi listrik yang angkanya telah menembus Rp90 triliun dan juga menaikkan rasio elektrifikasi Indonesia yang baru 75 %.

Related posts