Hadirkan Keajaiban Warisan Kebudayaan Indonesia - Festival Tidore 2013

Tidore merupakan warisan kebudayaan Indonesia yang memiliki keidahan alam serta keunikan budaya yang pantas disejajarkan dengan beberapa warisan budaya dunia.

NERACA

Kesultanan Tidore adalah bagian tak terterpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Peranan Tidore dalam mencapai kemerdekaan Indonesia juga tidak bisa dianggap remeh. Menginjak hari jadinya yang ke-905, Kesultanan Tidore bersama Pemerintah Daerah setempat dan didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan menggelar Festival Tidore 2013 untuk yang kedua kalinya dan akan dilangsungkan pada 1-12 April 2013.

Festival Tidore 2013 mengangkat tema Restorasi Budaya Menuju Masyarakat Berkarakter Budi Se Bahasa, Ngaku Se Rasai, Cing Se Cingari dalam Bingkai Loa Se Banari yang berarti tata krama dalam berbicara, tata krama dalam berperilaku, rendah hati dalam kebenaran dan keadilan. Acara itu sekaligus untuk menyambut hari jadi Kota Tidore Kepulauan ke-905.

Kepala Dinas Pariwisata Tidore, Asrul Sani mengatakan bahwa 98% penduduk Tidore merupakan masyarakat asli yang belum tercampur dengan masyarakat suku lain, sehingga penyelenggaraan festival adat sesuai dengan profil penduduk. “Kami ingin mengangkat kebudayaan Tidore sehingga masyarakat setempat kembali mengingat adat serta nilai-nilai luhur yang diajarkan nenek moyang,” jelasnya pada Jumpa Pers Festival Tidore di Gedung Sapta Pesona.

Asrul menjelaskan, puncak perayaan Festival Tidore akan diselenggarakan pada 11 April, dimana akan dilangsungkan festival obor sepanjang 35 km. Pada saat yang bersamaan, seluruh armada laut Kesultanan Tidore akan melakukan ritual mengelilingi Pulau sambil membaca doa untuk keselamatan dan kemakmuran rakyat.

Festival Tidore merupakan pesta rakyat yang menampilkan acara ritual seperti prosesi Dowari untuk mengawali setiap kegiatan adat serta Soa Romtoha sebagai ritual pertemuan lima warga untuk mengantar air menggunakan rau yang diambil dari puncak Gunung Kie Matabu untuk dipersatukan dalam bambu.

Tahun lalu, penyelenggaraan Festival Tidore mendatangkan lebih dari 1000 wisatawan. Tahun ini, pihak penyelenggara pun menargetkan kunjungan wisatawan sebanyak 2000 orang. Dia menjelaskan bahwa keberlangsungan festival ini sudah dirintis sejak tahun 2007. Pihak penyelenggara pun mengucapkan terimakasih kepada Kemenparekraf atas dukungan yang diberikan dalam penyelenggaraan Festival Tidore, dengan dukungan ini acara kebudayaan yang menjadi budaya ini dapat terus tergelar dan terjaga.

Walikota Tidore H. Achmad Mahifa menambahkan bahwa sampai saat ini Tidore masih dalam tahap pembenahan untuk menyambut kedatangan wisatawan. “Jika ditinjau dari segi keindahan alam, wilayah Tidore jelas memiliki keunggulan. Saat ini kami juga sedang mengupayakan perbaikan infrastruktur berupa jalan dan jembatan untuk mempermudah aksesibilitas wisatawan,” katanya.

Tidore sendiri sebenarnya sudah banyak dikunjungi oleh wisatawan, seperti wisatawan asal Belanda dan Australia dengan tujuan mempelajari Ilmu Antropologi dan Sosilogi. Memaksimalkan potensi ini dengan mempromosikan wisataspot diving, wisata sejarah, wisata ziarah dan agrowisata, memang menjadi kegiatan yang sudah dimulai dari lama. Hal ini penting, bukan hanya untuk memperkenalkan kebudayaan Tidore dimata dunia, namun juga untuk memberitahukan pada dunia, bahwa Indonesia memiliki warisan budaya yang sangat beragam.

Mengenai ketersediaan hotel, dia menambahkan bahwa kehadiranhomestay lebih sesuai dengan keadaan masyarakat. Tidore telah mendapatkan penghargaan Adipura sebanyak enam kali. Artinya, kebersihan masyarakatnya sudah mendapat pengakuan pemerintah. Jadi, kehadiranhomestaydianggap sudah baik. Selain itu, jarak dekat antara Ternate dan Tidore memungkinkan wisatawan yang berkunjung ke Tidore untuk menggunakan jasa hotel di Ternate.

Potensi pariwisata Tidore meliputi spot diving yang menarik, wisata sejarah dengan delapan benteng, wisata ziarah, agrowisata di pegunungan, air panas Kesahu, batik khas Tidore bergambar lumba-lumba Kahiya Masolo, serta Pulau Mare seluas 600 meter persegi yang merupakan habitat lumba-lumba.

Related posts