Harmonisasi Kesenian Indonesia dan China - China Quanzhou Marionette

Festival kebudayaan dua Negara yaitu Indonesia dan Cina belum lama ini usai digelar. Ya, persahabatan Indonesia dan China sudah berlangsung sejak lama, meliputi berbagai aspek kehidupan masyarakat, seperti pendidikan, sosial, ekonomi, dan budaya. Selain itu, seni pertunjukan Indonesia dan China memiliki kedekatan yang salah satunya ditampilkan pada pagelaran China Quanzhou Marionette.

“Kolaborasi pertunjukan wayang dengan pertunjukan boneka tradisonal khas China yang kita saksikan malam ini bisa menjadi saksi persahabatan kedua negara yang sudah terjalin sejak lama,” kata Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sapta Nirwandar di Jakarta.

Dia mengatakan, pertunjukan yang menampilkan salah satu kesenian wayang kulit Indonesia bertajuk Dewaruci ini dapat mengenalkan kesenian daerah kepada masyarakat khususnya generasi muda. “Pertunjukan wayang kulit yang kita saksikan malam ini ,merupakan salah satu kesenian daerah yang sudah mendapat pengakuan UNESCO” tambah Sapta lagi.

Pertunjukan berdurasi 82 menit ini terdiri dari beberapa pertunjukan yakni : Dewaruci, Little Monk, Rou Lan’s Journey, Drunken Zhong Kui, Happy Latern Festival serta Taming Monkey. Dewaruci berkisah tentang perjuangan Bima untuk medapatkan kekuatan super dengan memasuki hutan Tibarasa dan menemukan Sungai bernama Tirta Pawitasari. Untuk menuju kesana, Bima harus menghadapi berbagai rintangan, salah satunya berkelahi dengan dua raksasa bernama Rukmuka dan Rukmakala. Beruntung, Bima ditolong oleh dua pendekar, Indra dan Dewa Bayu.

Sementara itu, Quanzhu Marionette atauXuan Si Kui Leiberasal dari kehidupan masyarakat Fujian selatan kuno dan banyak menggunakan dialek kuno Gu Lou Yu Dia. Selama ribuan tahun, pertunjukan Quanzhou marionette telah menyebar ke Taiwan dan masyarakat Tionghoa di Asia Tenggara. Sementara itu, Little Monk menampilkan cerita mengenai karakter monk yang pemalas dan humoris yang terlihat ketika ia terpeleset, jatuh, dan menyelamatkan diri dari gulungan badai. Seperti Little Monk, Rou Lan’s Journey juga menampilkan boneka kayu. Pertunjukan ini mengisahkan Rou Lan berusaha menemukan suaminya yang menghilang.

Dalam pertunjukan ini, banyak ditampilkan gerakan dinamis dan gemulai boneka Rou Lan yang menggambarkan perasaan sedihnya.Kalau Indonesia ada wayang golek, maka Cina punya juga pertunjukan dengan memperagakan ketrampilan dalam memainkan boneka. Tetapi ada bedanya, kalau wayang golek dikendalikan geraknya dengan menggunakan stik kayu/bambu dari bawah, boneka ‘wayang’ Cina ini dikendalikan dengan tali dan dari atas. Kalau wayang Indonesia ada rombongan panakawan (Semar, Cepot, Gareng, dkk) yang lucu, maka wayang Cina juga punya karakter biksu (monk) yang jenaka.

BERITA TERKAIT

Korupsi dan Transaksi Bursa

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi., Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Perdagangan bursa di awal tahun 2019 mencetak IHSG…

Polemik Harga Tiket, Dugaan Kartel dan Penyelamatan Maskapai

Oleh: Royke Sinaga Pesawat terbang sebagai moda transportasi harus diakui tetap menjadi favorit bagi masyarakat. Selain dapat menjelajah jarak ribuan…

BEI Suspensi Saham BDMN dan BBNP

PT  Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara waktu perdagangan dua saham perbankan yang direncanakan akan melakukan merger usaha pada perdagangan…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Langkah Lampung Memulihkan Pariwisata Pasca Tsunami

Bencana tsunami Selat Sunda akibat erupsi Gunung Anak Krakatau pada Sabtu (22/12), tak hanya mengakibatkan korban luka-luka maupun jiwa, namun…

Mandeh, Destinasi Sport Tourism Baru di Sumatera Barat

Kawasan wisata Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) yang selama ini dikenal sebagai Raja Ampat-nya tanah Minang resmi…

Jelang Imlek, Hotel di Singkawang Nyaris Penuh

Jelang perayaan Imlek dan Cap Go Meh, yang notabene masih tiga pekan lagi, hotel-hotel di Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat,…