Pemerintah Wajib Jaga Harga Pangan

NERACA

Jakarta - Pengamat ekonomi Aviliani mengatakan pemerintah harus menjaga harga pangan apabila ingin target inflasi dalam APBN 4,9% dan target Bank Indonesia (BI) 3,5%-5,5% tercapai. \"Inflasi tinggi Maret ini menunjukkan bahwa harga pangan sangat memberikan kontribusi terhadap inflasi. Karena itu, pengendalian harga pangan sangat diperlukan,\" kata Aviliani di Jakarta, Senin (1/4).

Dia memperkirakan rencana kenaikan tarif dasar listrik yang akan di berlakukan dalam waktu dekat juga akan memberikan kontribusi besar terhadap laju inflasi pada bulan-bulan mendatang. Apabila kenaikan tarif dasar listrik tidak dibarengi dengan pengendalian harga pangan, maka prediksi laju inflasi bisa mencapai angka enam persen.

\"Saat ini tidak hanya harga bawang yang naik. Cabe merah juga sudah mulai naik. Kementerian Pertanian harus menjaga supaya harga pangan tidak naik kelewat tinggi. Apalagi menjelang Pemilu 2014 kondisi ekonomi cukup sensitif,\" tuturnya.

Aviliani memperkirakan kenaikan tarif dasar listrik yang sudah diputuskan bersama oleh pemerintah dan DPR akan memberikan kontribusi kenaikan inflasi 0,5%. Apabila harga pangan tidak dijaga, dia memperkirakan inflasi akan meningkat satu persen.

\"Karena kenaikan tarif dasar listrik sudah tidak bisa dihindari, maka yang paling mungkin adalah menjaga harga pangan. Apabila harga pangan tidak dijaga, kemiskinan juga akan naik,\" katanya.

Di tempat terpisah, ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistyaningsih memperkirakan target inflasi tahun 2013 yang dipatok pemerintah sebesar 4,9% sulit tercapai jika melihat tren kenaikan harga ke depan yang diperkirakan berlanjut hingga Juli.

\"Target pemerintah 4,9% sepertinya sulit tercapai, karena inflasi akan berlanjut hingga Juli,\" kata Lana. Dia juga menjelaskan, sulitnya menembus angka target pemerintah disebabkan inflasi Maret year to date (ytd/tiga bulan terakhir) sudah sebesar 2,4%.

Jika dihitung kasar secara tahunan, maka inflasi Indonesia akhir 2013 bila mencapai sembilan persen. \"Kalau dalam tiga bulan inflasinya sudah 2,4%, kalau disetahunkan ya di kali empat menjadi sekitar sembilan persen,\" kata dia. Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan, laju inflasi pada Maret 2013 tercatat sebesar 0,63% atau relatif tinggi dalam lima tahun terakhir.

\"Laju inflasi masih relatif tinggi dibandingkan bulan yang sama pada lima tahun terakhir,\" katanya. Suryamin menjelaskan terakhir kalinya laju inflasi pada Maret mencapai angka tertinggi adalah pada 2008, yang tercatat sebesar 0,95%.

Namun angka inflasi Maret 0,63%, masih lebih rendah dari inflasi Februari 2013 yang tercatat mencapai 0,75%. Menurut dia, penyebab terbesar laju inflasi tinggi pada Maret adalah akibat komponen harga bergejolak yang menyumbang andil inflasi 0,52% atau secara keseluruhan 2,44%.

\"Penyebab inflasi dari harga bergejolak telah terdeteksi dari Februari kemarin yaitu karena kenaikan beberapa harga komoditas,\" jelasnya. Dia mengatakan laju inflasi tahun kalender Januari-Maret mencapai 2,43%, dan inflasi secara tahunan year on year atau yoy 5,9%. Sedangkan inflasi komponen inti 0,13% dan yoy 4,21%. [ardi]

Related posts