Saat Bawang Kerek Inflasi

Tak ada yang menduga sebelumnya, jika komoditas bawang dapat mempengaruhi situasi perekonomian nasional saat ini. Adalah tiga komoditas besar yang memberikan kontribusi inflasi Maret 2013 menjadi tinggi. Bahkan inflasi Maret 2013 itu tertinggi dibanding inflasi bulan yang sama dalam lima tahun terakhir.

Kepala BPS Suryamin mengatakan inflasi Maret 2013 sebesar 0,63 persen. Nilai ini merupakan yang tertinggi selama lima tahun terakhir kecuali Maret 2008 yang masih 0,95 persen.

\"Tiga komoditas yang mengontribusikan kenaikan inflasi tersebut adalah bawang merah, bawang putih dan cabai rawit yang memang sempat melonjak signifikan di bulan lalu,\" ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin di Jakarta, Senin (1/4).

Menurut dia, bawang merah mengontribusikan ke inflasi Maret 2013 sebesar 0,44%. Kenaikan harga bawang merah ini disebabkan karena kelangkaan barang dan juga disebabkan karena kelangkaan pasokan. Dari 66 kota yang disurvei, ada 65 kota di Indonesia yang mengalami kenaikan harga bawang merah.

Bawang ternyata menjadi komoditas maha penting bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Namun kini, komoditas tersebut menjadi barang langka yang sulit dijangkau. Apa penyebabnya?

Kita melihat kasus bawang merah, ini sebagai akibat menyempitnya lahan pertanian oleh kuatnya desakan penduduk yang membutuhkan permukiman yang disertai laju konversi lahan pertanian ke non pertanian adalah faktor penting yang tak bisa diabaikan begitu saja. Di negeri ini, laju konversi lahan ternyata mencapai 1,5% atau sekitar 400.000 ha per tahun. Tak hanya soal konversi lahan, pertanian Indonesia didera sejumlah persoalan, mulai dari ketersediaan infrastruktur, sarana prasarana, status kepemilikan lahan, sumber daya air, hingga lemahnya sistem perbenihan dan perbibitan.

Ironisnya lagi, kenaikan harga bawang merah saat ini ternyata tidak berimbas pada kenaikan harga di tingkat petani. Karena, keuntungan terbesar hanya dinikmati pedagang hingga bisa melebihi 30%, sedangkan para petani tidak mendapatkan keuntungan signifikan. Kita tahu, dalam tata niaga yang menikmati harga berlipat-lipat adalah pedagang.

Ini mencerminkan lemahnya pengawasan yang dilakukan pemerintah, sehingga kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh pedagang mematok harga melewati batas wajar. Sebab itu, sangat beralasan jika sisi tata niaga komoditas tersebut harus dibenahi. Pemerintah juga sepatutnya mampu memperkuat kelembagaan petani.

Benar, tidak sedikit kalangan yang menyimpulkan bahwa pemerintah sengaja mengejar target-target produksi tersebut demi kepentingan menjaga citra kinerja pemerintah. Mungkin suatu ketika predikat swasembada bisa diraih dengan mudah, tentu akan meningkatkan citra pemerintah baik di mata publik dalam maupun luar negeri. Apalagi, kalau sukses melakukan ekspor, tentu nama pemerintah akan semakin melambung lantaran tercatat kinerjanya dalam upaya memberikan predikat Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

Di sisi distribusi dan konsumsi, pemerintah tampaknya kurang memperhatikan langkah strategis. Padahal, semua pihak tahu tidak mudah menjamin distribusi pangan yang adil. Bagaimanapun, perlu ada sentuhan berbagai kebijakan di antaranya soal harga. Ini tak lain supaya setiap penduduk dapat dengan mudah mendapatkan komoditas pangan dengan harga terjangkau.

Tidak hanya itu. Komoditas bawang yang mudah busuk, pemerintah seharusnya mampu memberikan fasilitas distribusi yang dapat menjaga bawang tetap segar sampai ke pembeli. Penanganan pasca panen perlu dibenahi di sejumlah sentra produksi agar produk tidak mudah busuk di dalam gudang penyimpanan. Jika kualitas masih terjaga, harga di tingkat petani pasti akan tinggi sehingga mereka diuntungkan secara wajar. Semoga!

Related posts