Laba Fast Food Tergerus Sebesar 10,04% - Dampak Pembatasan Waralaba

NERACA

Jakarta – Sepanjang tahun 2012, laba tahun berjalan PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) mengalami penurunan sebesar 10,04% menjadi Rp206,04 miliar atau Rp448 per saham. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam laporan keuangannya di Jakarta, Senin(1/4).

Sementara pendapatan naik jadi Rp3,56 triliun dari pendapatan tahun sebelumnya yang Rp3,18 triliun dan beban pokok naik jadi Rp1,47 triliun dari beban pokok di tahun sebelumnya yang Rp1,31 triliun.

Laba kotor meningkat menjadi Rp2,08 triliun, YoY dari Rp1,87 triliun dan naiknya beban penjualan menjadi Rp1,56 triliun, YoY dari Rp1,37 triliun. Alhasil, laba operasi turun menjadi Rp270,55 miliar dari laba operasi di tahun sebelumnya Rp287,93 miliar. Laba sebelum pajak tercatat Rp269,22 miliar dari laba sebelum pajak tahun sebelumnya yang Rp298,70 miliar.

Sebagai informasi, tahun 2013 ini perseroan membidik laba bersih tumbuh sebesar 7% menjadi Rp 302,75 miliar. Kata Direktur Fast Food Indonesia, Justinus D Juwono, untuk dapat mencapai target laba bersih tersebut, perseroan akan melakukan tiga hal, yang pertama, pihaknya akan melakukan penghematan secara internal baik beban operasional.

Kedua, perseroan berencana untuk menaikkan harga jual produk, kenaikan harga jual produk diperkirakan di bawah 10%, “faktor yang ketiga adalah akan melakukan review yang mempengaruhi cost of good sold dengan renegoisasi banner,”ungkapnya.

Kemudian untuk pertumbuhan pendapatan tahun ini, perseroan memperkirakan meningkat 13 hingga 15% atau menjadi Rp 4,2 triliun sampai Rp 4,3 triliun. Maka untuk mencapai target pertumbuhan itu perseroan mengandalkan pembukaan gerai baru sebanyak 25 hingga 30 gerai. Dimana investasi setiap pembukaan toko di stand alone membutuhkan biaya investasi sebesar delapan hingga Rp 10 miliar, ruko sebesar lima miliar rupiah, dan untuk di mal sebesar Rp 4 miliar.

Namun sayangnya, rencana ekspansi pembukaan gerai ini terbentur dengan peraturan Menteri Perdagangan tentang pembatasan waralaba, “Aturan ini memberatkan perseroan dari sisi administrasi luar biasa cara kelolanya sangat repot,”kata Direktur PT Fast Food Indonesia Tbk, Justinus D. Juwono.

Diringa mengusulkan, agar walaraba itu tidak dibatasi. Pengelolaan waralaba itu diharapkan dikelola dengan bentuk kerja sama seperti distribusi dan supplier. Asal tahu saja, perseroan menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 300– 350 miliar pada 2013. Besaran capex itu tercatat lebih tinggi dibanding anggaran tahun 2012 sebesar Rp 300 miliar. (bani)

Related posts