Laba Toba Bara Sejahtera Anjlok Jadi US$ 11,9 Juta

NERACA

Jakarta- PT Toba Bara Sejahtera Tbk (TOBA) mencatatkan laba bersih turun menjadi US$11,9 juta di tahun 2012 dari pencapaian laba bersih di tahun sebelumnya sebesar US$115,3 juta. Salah satu pemicunya antara lain disebabkan penurunan harga rata-rata acuan batu bara global di tahun 2012 dibanding tahun sebelumnya.

Hal tersebut disampaikan pihak manajemen perseroan dalam keterangan persnya di Jakarta, Senin (1/4) Pihaknya mencatat, harga jual batu bara pada tahun 2012 turun sebesar 21,0%, atau menjadi US$72,2 per ton dari harga jual di tahun sebelumnya yang mencapai US$91,3 per ton di tahun 2011.

Sementara harga rata-rata acuan batu bara Newcastle pada tahun 2012 menjadi US$96,9 per ton, atau mengalami penurunan sebesar 20,4% dibanding tahun sebelumnya sebesar US$121,2 per ton. Meskipun demikian, perseroan mencatatkan volume produksi batu bara sebesar 8,2% dari 5,2 juta ton selama di tahun 2011 menjadi 5,6 juta ton pada tahun 2012. Sementara itu, volume penjualan meningkat sebesar 0,7% dibandingkan tahun 2011 menjadi 5,5 juta ton.

Kenaikan volume penjualan yang lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan produksi ini menjadi strategi perseroan untuk memperbesar persediaan guna mengoptimalkan volume penjualan pada kuartal ketiga 2013. Selain itu, perseroan juga menyiasati penurunan harga batu bara dan menjaga profitabilitas, antara lain dengan menurunkan biaya pada awal kuartal keempat tahun lalu dengan cara menurunkan nisbah pengupasan dan jarak buang lapisan tanah penutup.

Hal tersebut menyebabkan pendapatan perseroan turun sebesar 20,4% atau menjadi US$396,7 juta di tahun 2012 dibanding tahun sebelumnya sebesar US$498,2 juta. Dari sisi biaya pun, perseroan mencatatkan kenaikan beban pokok penjualan sebesar 13,1% atau menjadi US$348,5 juta di tahun 2012 dibanding tahun sebelumnya sebesar US$308 juta. Kenaikan ini disebabkan karena kenaikan nisbah pengupasan dan jarak buang lapisan tanah penutup yang sebagian besar terjadi di semester I 2012, serta harga bahan bakar. Perseroan juga melakukan penyesuaian biaya kontraktor di IM pada semester kedua tahun 2012 terkait dengan perpanjangan kontrak.

Dipicu Penurunan Pendapatan

Terjadinya penurunan pendapatan dan kenaikan atas biaya adalah kontributor utama terhadap penurunan EBITDA sebesar 86,3% dari US$163,9 juta pada tahun 2011 menjadi US$22,1 juta di tahun 2012. Total Aset Perseroan tercatat sebesar US$261,5 juta di 31 Desember 2012, meningkat sebesar 16,1% dibanding tahun 2011 yang tercatat sebesar US$225,2 juta. Peningkatan tersebut terutama karena peningkatan properti tambang, pajak dibayar dimuka, dan piutang lain-lain kepada pihak ketiga.

Sementara total kewajiban perseroan tercatat mengalami penurunan sebesar 9,4% menjadi US$150,6 juta di akhir tahun 2012. Penurunan ini terutama karena adanya penurunan utang pajak dan uang muka pelanggan. Adapun total ekuitas Perseroan di akhir tahun 2012 tercatat mengalami kenaikan signifikan sebesar 87,7% atau menjadi US$ 110,9 juta dari sebelumnya US$ 59,1 juta pada tahun 2011.

Kenaikan tersebut terutama berasal dari adanya tambahan modal yang berasal dari penawaran umum saham perdana dan hasil restrukturisasi dengan pemegang saham non-pengendali di anak perusahaan IM dan TMU. Saat ini, perseroan tercatat memiliki tiga anak perusahaan antara lain PT Adimitra Baratama Nusantara (ABN), PT Indomining (IM), and PT Trisensa Mineral Utama (TMU). Ketiga anak perusahaan tersebut berada di Kalimantan Timur. (lia)

Related posts