Inflasi Maret Tertinggi Dalam 5 Tahun - Mencapai 0,63%

NERACA

Jakarta – Inflasi pada bulan Maret 2013 ini adalah sebesar 0,63% atau yang tertinggi dalam lima tahun terakhir. “Pada tahun 2008, inflasinya 0,75%,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin di Jakarta, Senin (1/4). Penyebab kontribusi terbesar dari inflasi ini, lanjut Suryamin, adalah bawang merah dan bawang putih.

“Bawang merah berkontribusi sebesar 0,44% dengan perubahan harga dibanding Februari 2013 sebesar 82,83%. Kenaikan ini lebih karena keterbatasan asupan. Kenaikan harga signifikan mulai terjadi pada minggu kedua Maret dan terjadi di 65 kota IHK (indeks Harga Konsumen dari total 66 IHK. Kenaikan terbesar di Cirebon, yaitu 153%,” jelas dia.

Sedangkan untuk bawang putih, kontribusi terhadap inflasi Maret 2013 adalah sebesra 0,2%. “Perubahan harga Maret terhadap Februari adalah sebesar 47,31%. Kenaikan ini juga karena pasokan harga bawang putih yang terhambat. Kenaikan harga terjadi di 65 kota IHK dengan yang tertinggi di Bima, yaitu 124% dan Sumenep sebesar 102%,” jelas dia.

Suryamin menjelaskan bahwa pemantauan harga oleh BPS dilakukan seminggu sekali, yaitu di hari Senin atau Selasa. Dari harga yang didapat tiap minggu itu akan dirata-ratakan berapa harga komoditas di daerah tersebut.

Selain bawang putih dan bawang merah, kontribusi inflasi juga terjadi karena cabe rawit dan jeruk. Cabe rawit ikut andil dalam inflasi sebesar 0,05% dengan perubahan harga Maret terhadap Februari sebesar 20,98% dan kenaikan harga tersebut terjadi di 57 IHK. Kenaikan terbesar terjadi di Sumenep, yaitu sebesar 73%.

Sementara jeruk ikut andil dalam inflasi sebesar 0,02% dengan perubahan harga sebesar 2,18% yang terjadi di 42 IHK. Kenaikan harga tertinggi terjadi di Kendari (22%) dan Bogor (21%).

Deputi Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa, BPS, Sasmito Hadi Wibowo mengatakan bahwa kejadian seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. “Kalau cabai kan sudah sering (jadi penyebab inflasi), kalau bawang merah dan bawang putih itu tidak pernah mengakibatkan inflasi yang besar, kata dia.

Menurut Hadi, kontribusi yang besar dari bawang merah dan bawang putih terhadap inflasi bukan hanya disebabkan terhambatnya pasokan, tetapi juga karena adanya perayaan Imlek. “Imlek itu kan pesta nasional, pasti akan mendorong konsumsi nasional. Apalagi bawang putih, kan peranannya besar, masakan Tionghoa menggunakan bawang putih yang banyak,” jelas dia.

Namun dari kasus bawang ini Hadi menilai ada efek positif yang akan ditimbulkan, terutama bagi petani Indonesia. “Kalau harga-harga tinggi begini sebenarnya yang senang kan petaninya, jadi petani ada daya dorong untuk menanam bawang merah dan bawang putih. Kita lihat ke depan, pasokan dalam negeri akan naik, karena bawang itu tanaman musim yang bisa tumbuh dengan cepat. Dengan harga yang tinggi, akan meningkatkan produksi bawang merah dan putih,\' ujar dia.

Dibalik kenaikan-kenaikan harga kelompok bahan makanan, terdapat beberapa komoditas yang justru mengalami penurunan atau menjadi penghambat inflasi. Beberapa di antaranya adalah telur ayam ras, daging ayam ras, beras, ikan segar, dan cabe merah.

Suryamin menjelaskan, telur ayam ras menghambat inflasi sebesar 0,08%. “Harganya pada Maret turun sebesar 9,48% dibanding harga pada Februari. Ini karena persediaan cukup tinggi. Penurunan harga ini terjadi di 59 IHK dan dimulai pada minggu pertama hingga minggu terakhir Maret. Penurunan harga yang paling signifikan terjadi di Sumenep dan Tasikmalaya, masing-masing sebesar 15%,” jelas dia.

Komoditas daging ayam ras menghambat inflasi sebesar 0,04% akibat penurunan harga sebesar 0,32% akibat persediaan yang cukup tinggi. Sedangkan ikan segar menghambat inflasi sebesar 0,03% dengan penurunan harga sebesar 0,88%.

“Untuk cabe merah, andilnya dalam menghambat inflasi adalah sebesar 0,03%. Terjadi penurunan harga sebesar 1,47% karena pasokan dari sentra produksi sudah banyak walau belum sampai tahap terlalu banyak. Penurunan harga terjadi di 26 IHK,” ujar Suryamin. [iqbal]

Related posts