Pemerintah Jajaki Ekspor Tekstil ke Turki dan Amerika Latin

NERACA

Jakarta - Pemerintah sedang mengupayakan pembukaan akses pasar ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia ke Turki dan negara-negara di kawasan Amerika Latin untuk meningkatkan target pertumbuhan industri.

“Turki dan kawasan Amerika Latin sangat potensial untuk menyiasati perlambatan ekspor ke negara-negara tujuan utama ekspor produk TPT seperti negara Uni Eropa maupun Amerika Serikat (AS),” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Ansari Bukhari di Jakarta, Senin (1/4).

Pada tahun ini, menurut Ansari, produk TPT Indonesia berpotensi merebut sebagian pasar di kawasan Uni Eropa dan Amerika Serikat yang selama ini dikuasai produk-produk TPT asal China. “Peluang Indonesia untuk memanfaatkan pasar dunia akan semakin besar dengan adanya pembatasan masuknya TPT China ke Amerika, Eropa, dan beberapa pasar non tradisional Indonesia seperti negara-negara Amerika Latin dan Turki. Semakin mahalnya biaya tenaga kerja di Pantai Timur China yang merupakan basis industri TPT negara tersebut, menjadi peluang masuknya investasi baru di sektor TPT ke Indonesia,” paparnya.

Saat ini, lanjut Ansari, tren relokasi pabrik-pabrik dilakukan produsen TPT China ke negara-negara produsen TPT lainnya seperti Bangladesh dan Vietnam. “Indonesia bersaing ketat dengan Bangladesh dan Vietnam untuk menarik investasi dari China. Biaya tenaga kerja di Indonesia saat ini memang relatif lebih tinggi dari kedua negara tersebut, karena itu Indonesia harus mempunyai keunggulan,” ujarnya.

Ansari menambahkan, untuk menyiasati tingginya biaya tenaga kerja di Indonesia, pemerintah berupaya menawarkan sejumlah paket insentif yang bertujuan menarik masuknya investasi TPT dari China ke Indonesia.

“Pemerintah telah melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan daya saing industri TPT baik sektor hulu maupun sektor hilir melalui program restrukturisasi permesinan industri tekstil dan produk tekstil yang telah berjalan sejak 2007 hingga saat ini. Program restrukturisasi mesin merupakan kebijakan prioritas dengan memberikan potongan harga dan subsidi bunga bagi perusahaan TPT yang akan melakukan peremajaan mesin dan peralatannya,” tandasnya.

Permintaan Meningkat

Ditempat berbeda, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan jika permintaan dari Jepang meningkat, kinerja ekspor TPT bisa mencapai US$ 13 miliar dengan tahun lalu. Namun, jika ekspor ke Jepang stagnan, total ekspor TPT Indonesia berkurang sekitar 5 % atau hanya US$ 12,35 miliar . “Kita menjual ke Eropa turun, Amerika turun, satu-satunya yang naik hanya ke Jepang,” ujar Ade.

Ade mengatakan ekspor ke Jepang pada tahun 1011 meningkat 70% dibandingkan 2010. Pada tahun 2012 lalu, ekspor ke Jepang meningkat 40 %. Menurutnya, kenaikan ekspor tekstil ini didukung oleh bea masuk ke Jepang 0 %. Indonesia menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan Jepang yang berdampak pada pembebasan bea masuk tekstil kesana.

Sementara, ekspor Indonesia ke Amerika dan Eropa selain terhalang faktor krisis, ekspor tekstil juga terkendala bea masuk yang tinggi. Misalnya, di Eropa produk Indonesia dikenakan bea masuk antara 12-16 %. Padahal, banyak negara-negara lain yang bisa masuk dengan bea 0%.

Ia berharap Indonesia bisa meneken perjanjian perdagangan bebas dengan Eropa dan Amerika agar bea masuk tekstil bisa nol persen. Dengan begitu, tekstil \'made in Indonesia\' bisa memnabjiri dunia. Menurutnya, perjanjian dengan negara maju cukup menguntungkan di sektor tekstil.

Pada tahun 2012, perdagangan TPT dunia mencapai US$ 691,9 miliar , turun dua persen dari 2011 sebesar US$ 706 miliar . Tahun ini dipredisksi perdagangan TPT dunia mencapai US$ 747,1 miliar.

Secara kumulatif nilai ekspor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia (SITC 26, 65 dan 84) periode Januari – Februari 2011 mengalami kenaikan, tercatat senilai US$ 2.19 milyar naik 28.9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan dalam volume justru menurun -1.8% dari 335 ribu ton (Januari - Februari 2010) menjadi 329 ton pada periode yang sama.

Kenaikan nilai ekspor terbesar terjadi pada kelompok SITC 26 yang naik 71.95% atau menjadi US$ 133,47 juta. Untuk kelompok produk SITC 65 dan SITC 84 naik masing-masing sebesar 33.82% atau menjadi US$ 798,38 juta dan 22.80% atau menjadi US$ 1,26 milyar. Naiknya nilai ekspor lebih disebabkan oleh harga satuan ekspor yang meningkat, dan ini terjadi hampir disemua kelompok barang.

Kenaikan harga tertinggi terjadi pada kelompok barang SITC 26 yakni produk serat tekstil dan sisa-sisanya (textile fibres and their waste) yang sepanjang Januari - Februari naik 77.6%. Sedangkan harga rata-rata pada kelompok produk benang tenun, kain tekstil dan hasil-hasilnya (SITC 65), dan kelompok produk pakaian jadi (SITC 84) masing-masing 36.0% dan 24.3%.

Untuk impor, perlu menjadi perhatian karena kenaikannya tinggi, baik pada nilai maupun volume. Pada nilai, naik 75.1% atau menjadi USD 1,27 milyar, sedangkan pada volume meningkat 26.9% atau menjadi 273 ribu ton. Kenaikan impor terbesar di kelompok SITC 26 yang naik 83.64% menjadi US$ 394,54 juta. Sementara untuk SITC 65 dan SITC 84 naik masing-masing sebesar 73.21% atau menjadi USD 811,58 juta dan 52.39% atau menjadi US$ 63,64 juta.

Related posts