Tarif Anti Dumping Baja Impor Sedang Diproses - Lindungi Industri Dalam Negeri

NERACA

Jakarta - Indonesian Iron and Steel Industry Assosiation (IISIA) menyerahkan rekomendasi Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) mengenai bea masuk anti dumping (BMAD) terhadap produk baja lembaran canai dingin atau cold rolled coil (CRC) impor asal China, Taiwan, Korea Selatan, Jepang serta Vietnam sebesar 5,9% sampai 74% kepada pemerintah.

“Kami mendapatkan rekomendasi dari KADI terkait BMAD produk baja impor pada pemerintah dan sedang dalam proses,” kata Direktur Eksekutif IISIA, Edward Pinem di Jakarta, Senin (1/4).

Sedangkan Ketua KADI, Bachrul Chain mengatakan, pengenaan BMAD sangat penting untuk melindungi industri dalam negeri. “Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan (Kemendag), impor CRC dari China, Taiwan, Korea Selatan, Jepang serta Vietnam meningkat selama 5 tahun terakhir. Pada 2007, impor CRC mencapai 325.511 ton dan naik menjadi 728.900 ton pada 2011,” paparnya.

Pengenaan BMAD CRC impor untuk mencari keseimbangan antara pasokan di dalam negeri dengan impor. Industri otomotif nasional masih memerlukan pasokan CRC impor dari Jepang dan Korea Selatan. Pasalnya, produk baja lokal masih banyak yang belum memenuhi standar yang diterapkan prinsipal otomotif.

Sementara itu, hasil penelitian membuktikan adanya dumping, sehingga merugikan industri dalam negeri. Pemerintah mengenakan BMAD atas impor produk lembaran besi atau baja dari China, Singapura dan Ukraina menyusul hasil penyelidikan yang membuktikan adanya dumping yang merugikan industri dalam negeri.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Yudi Pramadi menyebutkan, BMAD impor produk canai besi atau baja dari tiga negara itu berdasar Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 150/PMK.011/2012 tanggal 1 Oktober 2012. \"PMK tersebut berlaku selama tiga tahun dan enam bulan terhitung sejak tanggal diundangkan yaitu 2 Oktober 2012,\" sebut Yudi.

Menteri Keuangan menetapkan pengenaan BMAD setelah sebelumnya menerima usulan dari Menteri Perdagangan berdasarkan Laporan Hasil Penyelidikan Antidumping atas Produk Canai Lantaian dari Besi atau Baja dari negara China, Singapura, dan Ukraina. Hasil penelitian membuktikan adanya dumping, sehingga merugikan industri dalam negeri. \"Penelitian juga membuktikan adanya hubungan kausal antara dumping dan kerugian,\" kata Yudi.

BMAD 10,47%

Besaran BMAD yang dikenakan atas impor produk canai lantaian dari besi atau baja adalah 10,47% untku China, 12,50% untuk Ukraina, dan 12,33 % untuk Singapura. BMAD tersebut merupakan tambahan bea masuk yang dipungut berdasarkan skema tarif bea masuk preferensi untuk eksportir dan/atau produsen asal negara yang memiliki kerjasama perdagangan dengan Indonesia. \"Jika skema tarif bea mauk preferensi tidak terpenuhi, BMD merupakan tambahan bea masuk yang dipungut berdasarkan bea masuk umum atau \"most favoured nation (MFN)\",” kata Yudi.

Harga jual produk otomotif nasional berpotensi melonjak jika pemerintah jadi menerapkan bea masuk antidumping (BMAD) atas impor baja gulungan dan lembaran canai dingin. \"Pengenaan BMAD tersebut sudah pasti akan menaikan harga jual produk hilir, produk otomotif,\" ujar Johnny Darmawan, Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor (TAM).

Menurutnya, permasalahan di sektor industri baja hilir selama ini adalah masalah bahan baku yang sebagian belum diproduksi di dalam negeri, seperti baja gulungan dan lembaran canai dingin. Importasi menjadi opsi paling logis untuk bisa mendukung kelangsungan usaha di sektor hilir, mengingat harga belinya jauh lebih murah.\"Logikanya kalau bisa beli lebih murah kenapa tidak beli saja. Semntara ada pengusaha domestik, seperti KS (PT Krakatau Steel) yang merasa tidak bisa menjual di sini,\" cetusnya.

Johnny berharap tindakan pengamanan yang diambil pemerintah tidak membuat harga bahan baku industri otomotif meningkat.\"Kalau bisa beli murah kan semakin banyak produksinya, maka semakin murah (jual produknya). Keuntungan ini tidak diambil produsen, tapi dinikmati konsumen,\" tandasnya. KADI mengusulkan pengenaan BMAD atas impor baja gulungan dan lembaran canai dingin (cold rolled coil/sheet) sebesar 5,9%-74%.

Wakil Ketua Asosiasi Industri Besi dan Baja Irvan Kamal Hakim menuturkan konsumsi baja nasional sepanjang tahun ini diperkirakan meningkat sekitar 6-7%, walau harga baja dunia saat ini masih belum stabil. \"Biasanya tumbuh 6-7% bila dibandingkan tahun 2011 karena kita belum punya data kebutuhan baja nasional di 2012,\" kata Irvan di Jakarta, akhir pekan lalu.

Ia menuturkan, data kebutuhan baja nasional 2012 akan diperoleh pada April mendatang, karena data kebutuhan baja nasional harus disinkronisasi dengan data impor yang berada di Badan Pusat Statistik.\"Data impor ini selalu legging tiga bulan. Makanya April nanti baru kita ketahui berapa total kebutuhan baja nasional 2012,\" tuturnya.

Menyoal kapasitas produksi baja perseroan pada tahun ini, ia menggarisbawahi bahwa perusahaan berupaya untuk menaikkan kapasitas produksinya.

Related posts