BPS : Kurangi Merokok Bisa Tekan Kemiskinan

BPS : Kurangi Merokok Bisa Tekan Kemiskinan

Jakarta----Badan Pusat Statistik (BPS) menilai kemiskinan dan rokok berkaitan erat. Karena itu masyarakat diminta mengurangi kebiasaan merokok. Ini semata-mata agar penerimaan yang dimilikinya dapat digunakan untuk meningkatkan pemenuhan kalori. "Kalau mau kurangi kemiskinan, ya harus kurangi rokok," kata Kepala BPS, Rusman Heriawan kepada wartawan di Jakarta,15/6.

Lebih jauh Rusman mengkritik kebiasan buruk masyarakat bawah yang lebih banyak menghabiskan penghasilannya untuk membeli rokok. Karena rokok tak memberi kontribusi kalori. Sehingga standard 2100 kalori tersebut tidak terpenuhi pada unsur kesehatan. "Dia merokok, maka tak bisa memenuhi 2100 kalori, sehingga dikatakan jatuh miskin,”tambahnya.

Dikatakan Rusman, penghasilan untuk konsumsi rokok, sebaiknya dibelanjakan untuk pangan. “Karena itu, kalau dia gak merokok berarti dia bisa beli nasi, gula pasir, karbohidrat, jadi 2100, naik dia," tegasnya.

Menurut Rusman, pemerintah Indonesia menggunakan metode Purchasing Power Parity (P3) dalam menentukan standar kemiskinan. Maksudnya, masyarakat dinyatakan masuk kategori miskin jika kebutuhan hidupnya di bawah rata-rata nasional yaitu Rp 212.000 (sekitar Rp 7.000 per hari) atau memenuhi 2100 kalori. "Hitungannya begini, Rp 7.000 itu sudah ada kalori sebanyak 2100. Jadi orang yang normal, kalorinya itu 2100, tapi 2100 itu tidak selalu juga menjadi jaminan orang kaya," ungkapnya.

Rusman mengakui memang standar Rp 7.000 per hari tersebut kurang dari US$ 1 sesuai dengan standar Bank Dunia. Bank Dunia mempunyai standar US$ 1-2 per harinya. Namun, sambung Rusman jika disetarakan dalam pemenuhan kalori di dalam negeri, maka Rp 7.000 sama dengan US$ 1,5.

Terkait dengan tekanan inflasi, Rusman memprediksi Juni 2011 ini akan terjadi inflasi seiring meningkatnya harga beras. Dalam satu pekan, harga beras sudah naik Rp 100-200 per kg. "Akan terjadi inflasi, beras sudah mulai naik, per satu minggu kemarin saja sudah ada kenaikan 1 persen, belum apa-apa saja sudah 1 persen kalau dirupiahkan sekitar Rp 100-200, minggu pertama dibandingkan rata-rata bulan ini, Saya sudah nyerah," ungkapnya.

Rusman menambahkan, potensi inflasi juga disumbang dari harga daging sapi. Sejak, Australia menghentikan ekspornya, ada dampak psikologis para pedagang sapi yang mulai menaikkan harganya.

"Pengaruh fisik belum kelihatan tapi pengaruh psikologis sudah kelihatan. Dalam minggu ini sudah ada kenaikan daging sapi. Kalau impor ini kan tidak distop sekarang terus hilang di pasaran, gak begitu, kan rangkainya panjang," jelasnya.

Namun, Rusman menyatakan kenaikan harga daging sapi tersebut tidak akan menekan inflasi terlalu dalam mengingat bobot daging sapi terhadap inflasi tidak terlalu besar seperti beras yang bobotnya bisa mencapai 5% dalam perhitungan inflasi. "Beras lah (yang beri sumbangan terbesar) kan bobotnya 4-5 persen. Jadi karena beras, daging sapi, yang lain belum, emas juga turun," imbuhnya..

BPS pada Mei lalu mencatat inflasi 0,12%. Inflasi dipicu kenaikan harga sandang dan perumahan sepanjang Mei 2011. Inflasi kumulatif Januari-Mei 2011 adalah 0,51%, sementara inflasi year on year di Mei mencapai 5,98%. **cahyo

BERITA TERKAIT

Gubernur Sumsel: Peran UMKM Strategis Mengurangi Kemiskinan

Gubernur Sumsel: Peran UMKM Strategis Mengurangi Kemiskinan NERACA Palembang - Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru mengatakan, peran usaha mikro…

BPS Sumsel: Perbaikan Harga Karet Berdampak Penurunan Warga Miskin

BPS Sumsel: Perbaikan Harga Karet Berdampak Penurunan Warga Miskin NERACA Palembang - Badan Pusat Statistik (BPS) menilai perbaikan harga karet…

Tarif Tol Mahal Bisa Picu Biaya Akomodasi dan Inflasi

Oleh: Djony Edward Tema infrastruktur diperkirakan akan menjadi topik paling hanya menjelang dan setelah debat kedua pada 17 Februari 2019…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Fajar Surya Wisesa Melesat 136,1%

Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW) mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,405 triliun atau naik 136,1% dibanding periode…

Lagi, Comforta Raih Top Brand Award

Di awal tahun 2019 ini, Comforta Spring Bed kembali meraih penghargaan Top Brand Award. Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin,…

BPD Bank Kalsel Rencanakan IPO di 2020

Bila tidak ada aral melintang, Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kalimantan Selatan atau Bank Kalsel rencanakan melakukan penawaran umum saham perdana…