Kesiapan RI Hadapi AEC 2015 Capai 81% - Sudah Jalani 290 Langkah

NERACA

Jakarta – Asean Economic Community (AEC) akan segera dibuka pintu gerbangnya mulai 2015. Pada tahun tersebut, seluruh barang dan jasa akan bebas keluar masuk untuk seluruh Negara Asean. Guna menghadapi AEC tersebut, para pemimpin Asean membuat blueprint mengenai langkah-langkah strategi yang harus ditempuh beserta kerangka waktu pencapaiannya.

Di Indonesia, Direktur Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo menilai bahwa kesiapan Indonesia dalam menghadapi AEC telah mencapai 81%. “Dari periode 2008 sampai dengan Februari 2013, Indonesia mencatatkan tingkat implementasi 81%. Yang mana telah melaksanakan 290 langkah dari 358 langkah menuju AEC 2015,” ujar Iman saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Senin (1/4).

Namun demikian, Ia menyadari rendahnya kesadaran masyarakat mengenai AEC dan yang paling menyedihkan adalah efektivitas sosialiasi. \"Persiapan kami sudah 81% berjalan sejak 2008, tapi menurut Bappenas banyak kalangan, termasuk pengusaha memang belum mengetahui apa itu AEC,\" akunya.

Tak hanya itu, lanjut dia, kendala lain yang dihadapi Indonesia dan beberapa neara anggota Asean lainnya untuk memperbaiki tingkat implementasi. Hal ini disebabkan adanya kurang sesuai antara peraturan perundang-undangan nasional dan komitmen yang akan di capai pada negara-negara Asean.

Ia menjelaskan AEC blueprint dibagi dalam kerangka waktu dalam empat fase yakni 2008-2009, 2010-2011, 2012-2013, 2014-2015. Pada setiap fase tersebut dijabarkan langkah-langkah yang harus ditempuh atau diselesaikan pada ke empat pilar AEC yakni pasar tunggal dan basis produksi regional, kawasan berdaya saing, kawasan dengan pembangunan yang berkeadilan dan kawasan yang terintegrasi dengan perekonomian dunia.

Wakil Ketua Umum Kadin bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional Chris Kanter mengatakan, Indonesia memiliki waktu tersisa dua tahun sebelum komitmen atas satu kawasan ekonomi terbuka Asean itu berlaku. Karena itu, Indonesia harus fokus mempersiapkan kemampuan setiap sektor agar bisa memanfaatkan potensi dan peluang dengan optimal ketika AEC diberlakukan. “Sekarang, bukan lagi saatnya berbicara soal siap atau tidak siap karena ini sudah menjadi komitmen Indonesia. Yang harus kita lakukan,bagaimana mempersiapkan diri agar bisa memanfaatkan peluang dan kemampuan kita dalam AEC,” kata Chris.

Menurut dia, pemerintah perlu lebih serius mempersiapkan dan membuat kebijakan yang mendukung agar dunia usaha bisa menghadapi persaingan yang lebih ketat dan terbuka di AEC 2015. Dunia usaha juga mulai berbenah diri untuk meningkatkan daya saing.

Karena itu, koordinasi yang intensif antara pengusaha dan pemerintah harus ditingkatkan agar menghasilkan terobosan yang jitu. Dua pihak tersebut harus bekerja sama secara efektif agar bisa menekan hambatan daya saing industri dan memperkuat kemampuan dunia usaha di dalam negeri. “Kuncinya adalah harmonisasi dan koordinasi antara pengusaha dan pemerintah. Ini yang kami fokus lakukan,” imbuh Chris.

Matriks dan Investasi

Sebelumnya, Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, pihaknya telah merancang matriks rencana aksi pemerintah untuk menghadapi AEC 2015. Matriks memuat apa yang akan dan harus dilaksanakan oleh kementerian tertentu, dalam waktu tertentu, dan target tertentu, yang didukung harmonisasi regulasi. “Kuncinya adalah daya saing. Itu yang harus ditingkatkan. Kita masih berpeluang untuk me-metik keuntungan di kawasan Asean,” tuturnya.

AEC 2015 akan mendorong arus investasi masuk ke dalam negeri, sehingga menciptakan dampakpositif banyak (multiplier effect). Pasar tunggal juga akan memudahkan pembentukan patungan usaha (joint venture) dengan perusahaan di kawasan Asean, sehingga lebih memudahkan akses bahan baku yang belum dapat dipasok dari dalam negeri.

Selain mempersiapkan industri prioritas untuk dikembangkan agar bisa berperan di pasar Asean, pemerintah juga mengamankan pasar dalam negeri terhadap arus masuk produk sejenis dari kawasan yang sama.

Miliki Daya Saing

Sementara itu, industri berbasis agro seperti sawit (CPO), karet, dan kakao, diyakini memiliki daya saing yang relatif lebih baik dibandingkan negara-nega-ra Asean lainnya. Industri produk olahan ikan, industri tekstil dan produk tekstil (TPT), industri alas kaki, kulit dan barang kulit, furnitur, makanan dan minuman, pupuk dan petrokimia, mesin dan peralatannya, serta industri logam dasar, besi, dan baja juga menjadi prioritas untuk dipersiapkan.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menambahkan, peningkatan investasi menjadi salah satu kunci agar AEC 2015 menguntungkan Indonesia. Pasalnya, investasi akan membangun industri di dalam negeri guna mewujudkan industrialisasi dan hilirisasi, serta tenaga kerja di dalam negeri bisa menikmati. Hal itu terkait dengan sektor jasayang akan menjadi bagian dari keterbukaan komunitas Asean. “Di sisi lain, pendidikan juga berperan penting. Kedua faktor ini menjadi kunci kesuksesan kita menghadapi dan memanfaatkan AEC 2015. Political will atas dua bidang ini harus ada,” ucap Gita.

Related posts