BNI Putihkan Piutang Rp4,6 Triliun

NERACA

Jakarta – PT Bank Negara Indonesia Tbk, dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2012, yang digelar Kamis (28/3) pekan lalu, memutuskan adanya pemutihan piutang sebesar Rp4,6 triliun. Utang tersebut, merupakan piutang sudah diperbolehkan dihapus oleh Mahkamah Agung (MA).

“Limit hapus tagih Rp4,6 miliar ini sesuai dengan kebijakan yang telah disetujui dewan komisaris, dan diberlakukan sesuai dengan keputusan MA yang meminta bank-bank BUMN melakukan pertumbuhan,” tutur Direktur Utama BNI, Gatot Murdiantoro Suwondo, Direktur Utama BNI di Jakarta.

Gatot menerangkan bahwa hapus tagih ini dilakukan jika kredit tumbuh lima tahun, dan ini menyebabkan adanya perubahan anggaran dasar perusahaan di mana limit hapus tagih harus disetujui dalam RUPS.

“Hapus tagih itu akan segera dibuatkan SOP (standard operational procedure) internalnya. Namun, hal itu harus memperoleh persetujuan dari komisaris dan RUPS terlebih dulu. Dengan begitu maka akan tercipta sebuah mekanisme dan sistem yang teratur dan sesuai dengan keinginan Dewan Komisaris dan Dewan Direksi,” paparnya.

Sementara Adhi J. Luddin, Direktur BNI, juga mengatakan bahwa hapus tagih didasarkan pada SOP yang telah disepakati oleh empat Bank BUMN. Dengan SOP ini maka BNI akan dapat mengatasi kreditur-kreditur yang bermasalah. “Dulu sebelum SOP ini ada tagihan-tagihan macet dari debitur tidak boleh ditagih berdasarkan UU Nomor 49 tahun 1956, tapi dengan adanya SOP semua sudah bisa kita atasi,” ujarnya.

Sementara itu, RUPST BNI tersebut juga menyetujui dan menetapkan penggunaan laba bersih perseroan sepanjang 2012 sebesar Rp7,046 triliun. Dan sebesar 30% atau senilai Rp2,114 triliun ditetapkan sebagai dividen tahun buku 2012, lalu akan dibayar pada 16 Mei 2013 kepada para pemegang saham yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham perseroan pada 1 Mei 2013. “Dengan demikian setiap satu saham berhak untuk menerima dividen sebesar Rp113,” tutur Gatot kembali. [ria]

Related posts