Pengusaha Minta 500 Kontainer Dibebaskan - Sayur dan Buah Impor Tertahan

NERACA

Jakarta - Ketua Asosiasi Eksportir Importir Buah dan Sayur Segar Indonesia (Asibisindo) Kafi Kurnia mendesak pemerintah untuk segera mengeluarkan ratusan kontainer yang berada di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya dan segera mendistribusikannya. Ia menilai masih ada 500 kontainer yang berisi buah-buahan dan sayur impor yang belum mengantongi izin. Sejauh ini, Kementerian Pertanian belum menentukan langkah apakah buah dan sayur tersebut akan dimusnahkan atau kembalikan ke negara asalnya.

Kafi mengatakan mengatakan buah dan sayur impor itu perlu dilepas untuk memenuhi kebutuhan pasar. Semakin lama buah dan sayur itu di pelabuhan, maka semakin tidak bagus kualitasnya. Sebab buah-buahan ini tak akan mendapat perlakuan khusus seperti bawang impor yang juga sempat tertahan di pelabuhan. \"Lepas segera. Itu membayar kontainer pendingin Rp 2 juta per hari. Kalau nggak dilepas yah bagaimana. Kami sudah melobi Kementan dan Kemendag,\" jelas Kafi.

Menurut penuturannya, 500 kontainer berisi produk hortikultura tertahan di dua lokasi yaitu di Tanjung Priok dan Tanjung Perak, merupakan milik 30 importir. Kontainer-kontainer itu masuk pada awal dan pertengah bulan Februari 2013 dan datang dari 3 negara yaitu China, Chili dan Peru. \"Ini isinya buah dan sayuran kedatangan sekitar 1-1,5 bulan. Kontainer yang datang China, Chili dan Peru pertama masuk dari tanggal 5 Februari kemudian 10 dan 15 Februari 2013 sedangkan RIPH (Rekomendasi Impor Produk Hortikultura) keluar tanggal 15 Maret 2013 kemudian untuk SPI (Surat Persetujuan Impor) belum keluar,\" tuturnya.

Ia pun meminta instansi terkait dalam hal ini Kementerian Perdagangan untuk mengeluarkan SPI secepatnya agar 500 kontainer bisa dikeluarkan. Alasannya karena importir takut produk rusak dan menderita kerugian dari tertahannya 500 kontainer tersebut. \"Kerugian Rp 2,5 juta/kontainer/hari di kali 45 hari karena kita bayar listrik untuk pendingin di dalam kontainer. Harga jeruk, anggur dan apel, naik sekitar 300%. Jangan terlalu lama ini dikeluarkan karena bisa rusak seperti apel bisa 2 bulan itu barang bisa rusak. Kita minta SPI dikeluarkan secepatnya,\" cetusnya.

Sementara buah dan sayuran impor masih tertahan, dampaknya buah impor sudah mulai kurang dipasaran. Di antaranya Jeruk Polkam, Apel Washington, Apel Fuji, kiwi. Jikalau ada, maka harganya akan mahal. Tertahannya buah dan sayur impor itu menyusul kebijakan pembatasan importasi buah. Kebijakan ini disambut gembira pada pensuplai buah lokal. Mereka kini bisa memasok buah-buahan lokal seperti Jambu Kristal yang saat ini mulai dikembangkan di Jawa Barat.

Sementara itu, Pedagang Pasar Induk Kramatjati Ahmad Widodo menyatakan, selama empat bulan terakhir 90% pasokan buah kosong Sedangkan, pedagang lainnya Asih menyatakan, akibat kelangkaan buah pasok, pihaknya pun mengaku terpaksa merumahkan 30 karyawannya, sementara untuk pasokan buah lokal sendiri sifatnya musiman.

Percepat Proses

Ketua Komisi IV, Romahurmuziy, mengemukakan, agar pemerintah segera mempercepat proses pengeluaran kontainer-kontainer yang sampai saat ini masih tertahan di beberapa pelabuhan selama komoditas yang dimaksud telah dilengkapi oleh dokumen yang dipersyaratkan. Ke depan, guna menghindari kasus penyelundupan maupun kenaikan harga komoditas yang tidak wajar, ia pun berharap agar pemerintah bisa menerapkan pengenaan tarif dan membebaskan kuota importasi produk.

\"Sekarang ini kebijakan pemerintah masih berupa non tariff barrier untuk produk hortikultura, seperti pengalihan pintu masuk impor. Padahal, pengenaan tarif sebetulnya lebih memungkinkan agar bisa menjadi pendapatan negara bukan pajak (PNBP) yang bisa untuk membiayai sektor pertanian kita untuk mendorong petani bergairah berproduksi,\" ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), China adalah negara yang mendominasi impor sayuran dan buah-buahan di bulan Januari 2013. Dari dua komoditas ini, China mencatatkan volume sebesar 60 ribu ton atau senilai US$ 53,6 juta. Dengan total impor sayuran adalah 42 ribu ton atau US$ 31,2 juta. Sementara buah-buahan 43 ribu ton atau US$ 45,8 juta.

Sayuran China memiliki andil lebih dari 50% dari keseluruhan. Tercatat sebesar 29 ribu ton atau senilai US$ 22,4 juta sayuran yang masuk ke dalam negeri. Di bawah China ada Kanada dengan volume impor 3252 ton atau US$ 1,9 juta. Selanjutnya Amerika Serikat (AS) dengan 1744 ton atau US$ 1,9 juta, India dengan 2255 ton atau US$ 969 ribu, Myanmar 1075 ton atau US$ 96 dan negara lainnya 4213 ton atau US$ 2,8 juta.

BERITA TERKAIT

Kinerja Memburuk, Dua Komisaris Minta RUPS Ganti Dirut Garuda

NERACA   Jakarta - Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, rencananya akan digelar akhir bulan ini,…

Tindak Lanjut KPK dan Kemendes?

Warga Kabupaten Cirebon pernah melaporkan indikasi penyelewengan keuangan dana desa tahun anggaran 2015/2016 di Desa Wanasaba Kidul, Kec. Talun, Kabupaten…

Pemerintah dan DPR Diminta Ubah Ketentuan Defisit APBN

      NERACA   Jakarta - Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah menyarankan pemerintah dan DPR mengubah ketentuan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

CIPS Sebut Distribusi Minol Lewat PLB Rentan Tambah Korban

NERACA Jakarta – Distribusi minuman beralkohol (minol) lewat Pusat Logistik Berikat (PLB) rentan menambah korban luka dan korban jiwa akibat…

Penilaian IGJ - Dua Aspek Lemahkan Indonesia Dalam Perdagangan Internasional

NERACA Jakarta – Peneliti senior Indonesia for Global Justice (IGJ) Olisias Gultom menilai, terdapat dua aspek yang membuat lemah Indonesia…

AMMDes Bisa Diaplikasikan dengan Alat Pembuat Es Serpihan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian secara konsisten dan berkelanjutan terus mendorong pemanfaatan dan pengembangan Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes) untuk…