Bank Victoria Raih DPK Rp11,5 Triliun

NERACA

Jakarta – PT Bank Victoria International Tbk atau Bank Victoria mencatatkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp11,5 triliun atau tumbuh 25% dari periode sama tahun 2011. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan dana murah (giro dan tabungan) yang sampai 77%, sementara deposito hanya tumbuh 18%. Sehingga ratio CASA (dana murah) terhadap total DPK mencapai 16%, yang naik dari 10% di 2011.

“Dana murah bisa tumbuh sebesar itu juga dikarenakan based volume di 2012 masih kecil, jadi growth-nya menjadi tinggi. Untuk memperbaiki DPK, maka kita akan terus menumbuhkan CASA di atas 50%. Kemudian, karena memang produk-produk yang kita keluarkan di 2012 memang selalu terkait tabungan,” kata Eko R. Gindo, Direktur Utama Bank Victoria, ketika ditemui di Jakarta, Kamis (28/3).

Selain itu, Bank Victoria juga mensyaratkan kepada para nasabah kreditnya untuk tidak hanya mengambil kredit saja, tapi juga beraktivitas di gironya. “Jadi kita fokus dalam menghimpun tabungan sebesar mungkin supaya bisa menjaga CASA,” imbuhnya.

Ke depannya bank akan fokus pada pertumbuhan dana murah untuk mendukung ekspansi kredit yang dilakukan. Namun target pertumbuhan di tahun ini tetap diusahakan di bawah pertumbuhan kredit untuk memperbaiki LDR (loan to deposit ratio) yang di akhir 2012 mencapai 67,6%.

Penyaluran kredit tercatat tumbuh 35% dibandingkan periode sama tahun 2011 yang sebesar Rp5,8 triliun, sehingga posisi di akhir tahun lalu adalah Rp7,8 triliun. Secara proporsi, kredit perseroan ini terbagi atas komersial 30%, korporasi 27%, multifinance 23%, UKM 12%, dan konsumer 8%.

“Tahun lalu kita memang mengalami shifting sedikit dari (proporsi) kredit. Total kredit korporasi dan multifinance yang sebesar 60% di 2011 menjadi 50% di tahun lalu. Sisanya kita genjot di segmen menengah komersial sebesar 30%,” ujarnya.

Eko mengakui bahwa bank yang dipimpinnya tersebut memang fokus di segmen pasar commercial banking, karena kredit yang disalurkan lebih ke sektor produktif yang menyentuh angka hampir 90%, dengan ekspansi ke sektor UKM sebesar 12% di tahun lalu.

“Untuk kredit UKM, kita canangkan di akhir tahun ini bisa mencapai 20%, karena sampai Maret ini sudah menyentuh 14%. Sementara, kredit ke sektor konsumtif memang ada pembatasan dari LTV (loan to value), tapi itu juga salah satu yang membantu pemberian kredit menjadi prudent dan lancar,” ucapnya.

Rasio kredit macet (non performing loan/NPL) perseroan ini turun dari 2,4% di 2011 menjadi 2,2% atau sebesar Rp164 miliar di akhir 2012. Dari kredit bermasalah yang sudah dihapusbukukan pada tahun-tahun sebelumnya, maka telah dapat dilakukan recovery kredit di 2012 sebesar Rp19,2 miliar. Ini untuk memenuhi ketentuan NPL maksimum 5%, maka perseroan selalu berupaya memperbaiki kinerja melalui proses intensive collection yang disiplin.

“NPL kita turun juga karena kita mulai spreading portofolio resiko. Kalau dulu kredit kita fokus ada di multifinance, tahun lalu diturunkan hanya menjadi 23%. Sebab memang tidak baik jika hanya taruh investasi di satu “keranjang” saja,” ungkapnya.

Rasio marjin bunga bersih (net interest margin/NIM) sebesar 3,12% di akhir 2012, meningkat dari jumlah di 2011 yang sebesar 1,9%. Sementara pendapatan bunga bersih (net interest income) sebesar Rp333 miliar, naik 122%, dibandingkan akhir 2011. Oleh karena itu, laba bersih tercatat Rp205,6 miliar di akhir 2012. Sedangkan total aset meningkat 22% menjadi Rp14,5 triliun daripada perolehan di akhir 2011 yang sebesar Rp11,80 triliun.

Sementara, modal inti atau total ekuitas perseroan ini mencapai Rp1,47 triliun, sehingga Bank Victoria termasuk dalam BUKU 2 dalam aturan multiple license Bank Indonesia (BI). Sehingga rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR)nya sebesar 17,96%.

“CAR sebesar itu membuat kita masih punya ruang untuk berkembang. Tiga tahun ke depan aset kita targetkan ada di Rp30 triliun, tapi dengan begini modal ini kita masih di bawah Rp5 triliun. Karena ada perhitungan kalau mau mencapai ekuitas Rp5 triliun, maka aset harus Rp50 triliun. Sehingga dari direksi menargetkan baru di atas 5 tahun ke depan untuk kami masuk BUKU 3,” jelasnya.

Sementara beberapa aspek kesehatan bank yang lain, yaitu return on asset (ROA) sebesar 2,2%, return on equity (ROE) sebesar 16,5%, serta BOPO sebesar 78,8%. “Memang menurut aturan BI maksimum BOPO harus di bawah 80%, dan BOPO bank-bank besar saja masih berada di 70% bawah. Kalau kita investasi kantor cabang inginnya ada return jadi bisa menjaga BOPO di level 78%. Tapi diharapkan dengan semakin banyak cabang bisa menurunkan BOPO kami,” tuturnya.

Selama tahun 2012, Bank Victoria memang membuka 12 kantor baru sehingga total kantor cabang yang ada sampai saat ini sejumlah 96 kantor yang tersebar di wilayah Jakarta, Tangerang, dan Bekasi. Pada awal 2013, Eko menerangkan bahwa banknya sudah membuka satu cabang lagi, sehingga menjadi total 97 kantor.

“Setelah itu, rencana kami akan membuka kantor cabang lagi di Bogor, Bandung, Surabaya, dan Denpasar. Dalam membuka cabang di suatu daerah, yang kami pertimbangkan adalah potensi ekonomi daerah tersebut, tingkat persaingan yang disesuaikan dengan target market masing-masing segmen bisnis kami, serta berdasarkan focus group discussion (FGD) yang dilakukan dengan beberapa nasabah besar kami,” pungkasnya. [ria]

Related posts