free hit counter

Ancaman Inflasi 2013 di Depan Mata

Senin, 01/04/2013

Jakarta – Pemerintah mentargetkan inflasi 2013 di kisaran 3,5-5,5% tampaknya akan meleset, karena selain ancaman inflasi oleh faktor administered price juga ancaman ketidakpastian musim. Menyusutnya lahan pertanian yang diikuti oleh berkurangnya jumlah tumbuhan serta penggunaan BBM yang berlebihan mempercepat proses pemanasan global, yang akhirnya secara otomatis mempersingkat siklus musim anomali pada tahun ini.

NERACA.

Menurut informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) beberapa waktu lalu, bahwa musim kemarau 2013 diperkirakan bakal datang lebih cepat dan sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau pada April dan Mei, dari biasanya Juni.

Ketidakjelasan siklus musim ini (anomaly) dalam beberapa waktu terakhir ini, menurut data BPS, telah memberi kontribusi yang tidak kecil terhadap inflasi, bahkan pada Februari 2013, anomaly musim memberi kontribusi kenaikkan inflasi bahan makanan sebesar 1,79% (mtm) atau mencapai 5,54% (ytd) atau 5,31% (yoy). Suatu angka yang cukup mengganggu target inflasi 2013.

Disisi mikro, ancaman sustainability produksi tidak kalah mengkawatirkan, dimana faktor perbedaan margin harga produk pertanian di level produsen dengan level pedagang semakin melebar. Hal ini membuat profesi petani menjadi tidak menarik, dan mendorong proses kaderisasi petani menjadi terhambat dan bahkan diperparah dengan proses pembagian waris melalui pengalihan lahan produktif menjadi perumahan menjadi pilihan favorit para petani tradisional dewasa ini.

Tidak hanya itu. Masalah akses pembiayaan yang relatif terbatas juga semakin mengaburkan prospek sektor pertanian. Sebaliknya profesi pedagang semakin menjanjikan, karena margin yang semakin besar karena berbagai kemudahan yang diberikan baik sengaja atau tidak sengaja yang mempermudah para pelaku memperoleh akses informasi dengan mudah, dan memperoleh rente yang besar. Belum lagi permasalahan tataniaga yang menguntungkan pihak-pihak tertentu dan merugikan petani.

Peningkatan harga komoditas hortikultura (cabe, kedelai, bawang merah dan putih) dan daging sapi belakangan ini, juga memberi kontribusi terhadap inflasi yang cukup besar terhadap inflasi Februari 2013. Namun sayangnya peningkatan komoditas-komoditas tersebut tidak dinikmati sepenuhnya oleh petani, tercermin indeks nilai tukar petani (tanaman pangan, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan & perikanan) yang mengalami penurunan sebesar 0,45%.

Selain itu, ancaman kenaikan inflasi disebabkan oleh tekanan dari sisi kebijakan pemerintah akan mendorong administered prices lebih tinggi. Tahun ini ada rencana kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) sebesar 15%, yang akan mendorong kenaikan harga-harga di sisi penawaran. Belum lagi melihat kondisi kuota BBM kita yang melebihi kuota ditetapkan pemerintah.

Momok Menyeramkan

Direktur Eksekutif Indef yang juga guru besar Universitas Brawijaya Prof Dr Ahmad Erani Yustika mengungkapkan, kenaikan tarif akibat kebijakan pemerintah (administrated price) seperti TTl ,tarif tol, upah minimum provinsi (UMP) dan kemungkinan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi akan mengerek inflasi sampai 5% lebih pada tahun ini.

"Sudah pasti inflasi akan terkerek naik dan menjadi momok yang menyeramkan untuk perekonomian nasional.inflasi bisa tak terkendali apabila pemerintah tidak segera mengambil tindakan yang tepat,seperti meredam gejolak harga pangan," ujarnya kepada Neraca, akhir pekan lalu.

Erani mengatakan, kalau tingkat inflasi di Februari mencapai 0,75% angka ini cukup tinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Ini akibat pemerintah masih belum bisa mengendalikan gejolak harga komoditas pangan. Meski inflasi Februari lebih rendah dari Januari yang sampai menyentuh level 1,03%, angka tersebut masih cukup tinggi karena meleset dari dugaan pemerintah yang menargetkan 0,4%. “ Karena harga komoditas pangan yang sangat mempengaruhi inflasi hingga 0,75%,” ujarnya.

Dia juga mengingatkan pemerintah untuk tidak lupa dengan faktor yang tidak terduga yang dapat mempengaruhi inflasi seperti bencana, cuaca yang nyaris tidak mungkin kita bisa tolak.

Bencana banjir di Jakarta tampaknya lebih besar dibanding tahun lalu dan mendekati kondisi pada tahun 2007. Erani menjelaskan, kondisi ini akan berpengaruh pada kenaikan harga pangan akibat terganggunya distribusi. Selain itu, beberapa komoditas pertanian juga belum akan panen alias panceklik.

"Kemungkinan inflasi tinggi cukup besar,belum lagi kesiapan pemerintah terhadap bencana masih sangat kurang. Sementara kita melihat pemerintah tidak cukup siap dengan pasokan pangan, distribusi," tuturnya.

Secara terpisah, Staf Khusus Menko Perekonomian Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pemerintah perlu mewaspadai laju inflasi yang bisa meningkat lantaran banyaknya indikator seperti kenaikan harga beberapa komoditas pangan, kenaikan TTL, kenaikan UMP. "Kalau langkah pemerintah tetap business as usual, bisa saja nanti akan naik ke atas target 2013," ujarnya.

Dia mengingatkan, pemerintah akan selalu mewaspadai siklus pola musiman seperti waktu panen raya untuk menarik turun laju inflasi bulan tersebut. Hal itu, jelasnya, harus dilakukan karena inflasi di bulan-bulan awal 2013 dinilai lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya. "Ada kesempatan di Maret dan April karena panen raya. Faktor musiman ini dimanfaatkan untuk menurunkan inflasi sedalam yang seharusnya," katanya.

Menurut dia, itu merupakan langkah antisipasi untuk menghadapi bulan-bulan yang biasanya memiliki laju inflasi tinggi, seperti Juni, Juli, Agustus, dan Desember. Selain itu, Bank Indonesia perlu memberikan stimulus yang positif yaitu mempertahankan tingkat BI Rate atau membuatnya lebih rendah. Maka dengan begitu bisa memicu pertumbuhan yang lebih baik lagi daripada tahun-tahun sebelumnya. "Suku bunga itu amat memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kalau suku bunga rendah, maka berbanding terbalik dengan pertumbuhan. Artinya, pertumbuhan kita akan lebih baik dan memiliki peluang yang lebih besar," tambahnya.

Dengan suku bunga yang rendah, menurut dia, indikator ekonomi juga akan terjaga di level yang aman. Diperkirakan inflasi akan mampu dijaga dengan baik dan perekonomian Indonesia masih bisa ekspansif diwaktu-waktu mendatang. Namun, perlu diperhatikan adalah agar otoritas terkait tidak melakukan sejumlah kebijakan yang salah arah.

"Kalau suku bunga ditinggikan dengan inflasi yang tinggi, ekonomi kita tumbuhnya melambat. Kalau inflasi rendah dan diikuti suku bunga yang rendah, maka pertumbuhan akan melaju cepat. Saya juga melihatnya inflasi masih terjaga dilevel 5%-an di tahun ini," ujarnya.

Menurut Ekonom Kepala Bank Mandiri, Destry Damayanti, beberapa kenaikan akibat administered price seperti TTL dan UMP sudah termasuk dalam perhitungan inflasi saat ini. “Bulan April nanti TDL akan naik untuk kedua kalinya, jadi ini sudah masuk dalam perhitungan inflasi sebesar 15%, juga dengan (kenaikan) UMP yang sudah masuk perhitungan. Namun untuk kenaikan tarif tol sepertinya belum masuk perhitungan,” katanya.

Destry mengatakan bahwa yang lebih mengkhawatirkan sebagai penyebab kenaikan inflasi adalah bukan administered price tersebut melainkan volatile food. “Akhir-akhir ini kan harga (volatile food), seperti bawang dan cabai, terus bergejolak. Jadi ini tentu saja akan mempengaruhi inflasi di Maret ini,” tuturnya, akhir pekan lalu.

Sehingga dia memperkirakan kalau inflasi di akhir tahun ini bisa mencapai 6%. “Itu perkiraan saya pribadi. Sementara untuk perhitungan versi Bank Mandiri, inflasi di akhir tahun bisa mencapai 5,6%. Misalnya inflasi di akhir Maret ini akan tumbuh 0,34% dari bulan sebelumnya. Maka apabila pertumbuhan ini relatif stabil pada bulan-bulan setelahnya, maka di akhir tahun bisa mencapai 5,6%. Yang mana ini berada di atas target BI,” jelasnya.

Kemudian, Destry menyetujui pendapat Gubernur BI, Darmin Nasution, beberapa waktu lalu yang menyatakan bahwa kenaikan inflasi saat ini lebih disebabkan oleh faktor supply. “Ya, saya setuju jika memang ada keterbatasan supply yang menyebabkan harga volatile food naik sehingga inflasi bisa naik juga. Tapi sebenarnya masalah supply ini tidak semata-mata masalah moneter saja, jadi ini harus diselesaikan dengan koordinasi dari otoritas terkait juga, tidak hanya BI, tapi juga Kemendag dan Kementan. Karena kalau dipaksa diselesaikan secara moneter tidak akan efektif,” ungkapnya.

Sementara ketika disinggung soal apakah kenaikan inflasi ini juga akan menyebabkan suku bunga naik ke depannya, dia belum melihat tanda-tanda ke arah sana. “Saya belum melihat bahwa ini akan ada pengaruhnya ke kenaikan suku bunga juga. Karena hal ini bisa terjadi hanya jika core inflation-nya yang naik. Core inflation sendiri disebabkan oleh aktivitas perekonomian yang tinggi seperti investasi dan (penyaluran) kredit yang berlebihan,” ucapnya.

Jadi, bila core inflation tidak mengalami kenaikan, maka inflasi keseluruhan masih bisa dikendalikan agar stabil dengan kebijakan moneter. “Apalagi jika kenaikan inflasi lebih dikarenakan peningkatan volatile food price, ini tidak akan pengaruh kepada kenaikan suku bunga. Karena kalau (suku bunga) malah dinaikkan, tentu akan memberatkan sektor perekonomian yang lain,” ujarnya.

Destry menambahkan, BI Rate kemungkinan akan dipertahankan di level 5,75% sampai akhir tahun ini, namun Fasbi Rate yang mungkin akan naik 25 sampai 50 basis poin. “Karena kalau tidak naik maka akan menimbulkan tekanan pada nilai tukar rupiah. Tekanan tersebut masih akan berlangsung sampai akhir semester pertama 2013, sementara di semester kedua akan mulai berkurang,” ujarnya. ria/bari/iwan/fb