Investasi Petrokimia Bisa Capai US$300 Juta - Permintaan Bahan Baku Plastik Meningkat

NERACA

Jakarta - Asosiasi Industri Aromatik, Olefin, dan Plastik Indonesia (Inaplas) memperkirakan investasi pada sektor petrokimia pada tahun ini menyentuh US$300 juta karena permintaan bahan baku plastik di dalam negeri terus meningkat.

“Investasi petrokimia di tahun ini bisa mencapai US$300 juta dengan mempertimbangkan permintaan bahan baku plastik dari dalam negeri yang terus bertambah. Kami optimistis akan terus tumbuh karena permintaan naik, sedangkan pasokan masih kurang,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Inaplas, Fajar A.D Budiyono, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Tahun ini, menurut Fajar, permintaan petrokimia diperkirakan mencapai 3,2 juta ton, sedangkan industri dalam negeri baru bisa memenuhi sekitar 60% atau 2 juta ton. Akibatnya, industri petrokimia nasional masih akan bergantung pada bahan baku impor.

“Investasi ini akan membantu memenuhi permintaan yang tinggi dan mengurangi ketergantungan pada impor. Investasi petrokimia tahun ini diperkirakan akan terkonsentrasi di wilayah Tuban, Bontang, Papua, dan Cilegon, yang merupakan kawasan dekat lokasi lapangan migas,” paparnya.

Beberapa investasi, lanjut Fajar, dilakukan oleh PT Chandra Asri Petrochemical Tbk senilai US$120 juta, PT Nippon Shokubai yang akan menambah kapasitas pabrik sebesar 100.000 ton. “Nantinya dua pabrik tersebut berlokasi di Anyer, Banten. Sedangkan rencana investasi perusahaan asal Korea Selatan, Lotte Group, untuk membangun pabrik petrokimia terintegrasi masih terhambat oleh masalah lahan,” ujarnya.

Investasi sektor petrokimia nasional dinilai masih menarik seiring dengan pertumbuhan kebutuhan plastik nasional. Peningkatan didorong oleh tumbuhnya industri makanan dan minuman serta sektor otomotif yang merupakan konsumen utama industri plastik.

Sebelumnya Indonesia berpeluang mampu menarik dana investasi hingga US$ 26,8 miliar di sektor petrokimia. \"Itu potensi investasi terintegrasi dari hulu ke hilir,\" kata Menteri Perindustrian MS Hidayat.

Dia mengatakan, beberapa rencana investasi itu diharapkan terealisasi paruh kedua tahun ini atau tahun 2013. Rencana investasi yang dimaksud diantaranya, Honam akan membangun refinery senilai US$ 5 miliar. Selanjutnya, proyek kerjasama investasi PT Chandra Asri Petrochemical Tbk dengan Siam Cement Group senilai US$ 1,5 miliar di industri petrokimia.

Lalu, investasi Aramco dan Kuwait Petroleum Corporation (KPC) membangun refinery masing-masing senilai US$ 8 miliar.\"Tahun ini atau tahun depan, beberapa konstruksi sudah bisa dimulai. Urusan KPC di Kementerian Keuangan sudah selesai. Soal negosiasi dengan Kementerian Energi akan saya kawal. Untuk Aramco kemungkingan bisa memulai tahun depan,\" kata Menperin.

Ditambahkan Menperin, pihaknya juga sedang menyusun rancangan kawasan industri petrokimia berbasis gas di Tangguh, Papua Barat. Saat ini sedang dilakukan studi lanjut atas rencana tersebut.\"Sedang dirancang oleh Pak Dedi (Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian (PPI Kemenperin). Suplai gasnya diambil dari Tangguh,\" kata Hidayat.

Susun Masterplan

Dirjen PPI Kemenperin Dedi Mulyadi mengungkapkan, British Petroleum (BP) sudah menyampaikan minatnya ikut serta dalam investasi di kawasan industri petrokimia Tangguh tersebut. \"Kami baru menyusun master plan untuk pembangunan dan pengembangan kawasan itu. Kemungkinan, Oktober 2012 baru bisa selesai. Investor, saat ini yang berminat ada BP,\" kata Dedi.

Dirjen Basis Industri Manufaktur Kemenperin Panggah Susanto mengatakan, pengembangan kawasan industri Tangguh tinggal menunggu kepastian pasokan gas dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM).\"Kami sudah menyurati ESDM. Begitu ada jawaban kepastian soal gas, proyek ini bisa jalan. Total investasi yang potensial masuk ada sekitar US$ 4,3 miliar,\" kata Panggah.

Dia menuturkan, pembangunan tahap pertama industri petrokimia di wilayah tersebut butuh pasokan gas minimal 382 mmscfd. Dia memproyeksikan, untuk industri metanol dibutuhkan pasokan gas sekitar 138 mmscfd, urea sekitar 182 mmscfd, serta amoniak sekitar 60 mmscfd.

\"Pembangunan pabrik methanol kira-kira butuh investasi US$ 800 juta. Ditambah dengan hilirnya, pabrik polipropilena yang butuh investasi US$ 500 juta, jadi total US$ 1,3 miliar. Kemudian, untuk dua pabrik amoniak dan urea diperkirakan menelan investasi US$ 2 miliar. Sedangkan, utilisasi dan sarana pelabuhan butuh US$ 1 miliar. Jadi, total US$ 4,3 miliar,\" papar Panggah.

BERITA TERKAIT

Berkah Permintaan Listrik Meningkat - Dividen Cikarang Listrindo Ikut Terkerek Naik

NERACA Jakarta – Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR) memutuskan untuk membagikan dividen…

BPS: Indeks Pembangunan Manusia di Sumsel Meningkat

BPS: Indeks Pembangunan Manusia di Sumsel Meningkat NERACA Palembang - Angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel)…

Mencoblos di Kebayoran Baru, Ketum Perindo Hary Tanoesoedibjo: Pemilu Damai & Partisipasi Meningkat

JAKARTA, Ketua umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo memuji pelaksanaan Pemilu 2019 yang berlangsung damai dan meraih animo dan partisipasi masyarakat…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

AMMDes Pacu Produktivitas, Siap Rambah Ekspor

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian secara konsisten dan berkelanjutan terus mendorong pemanfaatan dan pengembangan Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes) untuk…

KKP Permudah Pelayanan Perijinan Pakan dan Obat Ikan

NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) percepat pelayanan perijinan pakan dan obat ikan. Ketentuan ini tercantum dalam Peraturan…

INDI 4.0 Untuk Ukur Kesiapan Sektor Manufaktur

NERACA Jakarta – Memasuki satu tahun implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0, pemerintah telah melaksanakan beberapa agenda yang tertuang dalam…