Konsumsi Baja Diproyeksikan Tumbuh 7% - Sepanjang 2013

NERACA

Jakarta - Wakil Ketua Asosiasi Industri Besi dan Baja Irvan Kamal Hakim menuturkan konsumsi baja nasional sepanjang tahun ini diperkirakan meningkat sekitar 6-7%, walau harga baja dunia saat ini masih belum stabil. \"Biasanya tumbuh 6-7% bila dibandingkan tahun 2011 karena kita belum punya data kebutuhan baja nasional di 2012,\" kata Irvan di Jakarta, akhir pekan lalu.

Ia menuturkan, data kebutuhan baja nasional 2012 akan diperoleh pada April mendatang, karena data kebutuhan baja nasional harus disinkronisasi dengan data impor yang berada di Badan Pusat Statistik.\"Data impor ini selalu legging tiga bulan. Makanya April nanti baru kita ketahui berapa total kebutuhan baja nasional 2012,\" tuturnya.

Menyoal kapasitas produksi baja perseroan pada tahun ini, ia menggarisbawahi bahwa perusahaan berupaya untuk menaikkan kapasitas produksinya. Namun, kapasitas produksi baru dapat digenjot maksimal pada 2015 mendatang seiring dengan program revitalisasi perseroan selesai dilaksanakan.\"Kapasitas produksi naik kalau ada investasi. Nah, investasi yang kita lakukan baru selesai pada 2015 ini. Jadi kita masih menunggu,\" tuturnya. Dia mengakui, penambahan kapasitas produksi baja tidak dapat berjalan lurus dengan permintaan baja di pasar yang semakin besar.

Banjir Impor

Sementara itu, membanjirnya baja impor asal Cina di pasar domestik dengan harga lebih murah sebesar 3% - 5% dari harga baja lokal mengancam eksistensi perusahaan baja nasional.

Demikian dikatakan Presiden Direktur PT Gunung Raja Paksi, Djamaluddin Tanoto. Menurut Djamaluddin, murahnya harga baja tersebut lantaran produsen baja asal Cina melakukan praktik bisnis tidak terpuji, dengan mengakali aturan bea masuk impor yang ditetapkan pemerintah untuk baja komersial.

Modusnya, kata dia, baja asal Cina pada dokumen laporannya diklaim telah mengandung boron yakni bahan campuran baja untuk meningkatkan kekuatan baja berketebalan tipis. Padahal, setelah dicek ke laboratorium di Bandung, kandungan boronnya sangat kecil, hanya 0,008% saja. Sehingga, bisa dibilang tak ada bedanya dengan baja pada umumnya.

Menurut Djamaluddin, ketiga perusahaan baja nasional tersebut akan melaporkan praktik bisnis tak terpuji yang dilakukan produsen baja asal Cina itu ke Kementrian Perindustrian. Djamaluddin mengatakan, hal itu mereka lakukan untuk menghindari bea masuk baja impor sebesar 5% yang ditetapkan pemerintah Indonesia. Selain itu, pemerintah Cina juga memberikan pengembalian pajak ekspor sebesar 9% kepada eksportir baja Cina yang menambahkan kandungan boron di bajanya. Dengan keringanan pajak sebesar 14% tersebut sudah mampu menutupi biaya produksi baja yang dijual ke Indonesia.

Hal yang sama Direktur PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk., Gunato Gunawan mengatakan, derasnya baja impor asal Tiongkok tersebut makin memberatkan produsen baja lokal. Sebab, pada bulan ini, industri baja nasional terpaksa melakukan kenaikan harga produk baja berkisar 13%-15% dari harga lama. Selain Gunawan Dianjaya Steel, kenaikan harga produk baja juga akan dilakukan PT Krakatau Steel (persero) Tbk dan PT Gunung Raja Paksi.

Gunato memaparkan, kenaikan harga jual tersebut tidak bisa dihindari, dikarenakan berbagai bahan baku baja seperti scrap (besi bekas), iron ore pellet (bijih besi), dan slab (baja setengah jadi) yang sebagian besar masih diimpor, sejak awal 2013, mengalami kenaikan harga secara signifikan.

Dia menegaskan, kenaikan harga jual produk baja bukan untuk mencari untung besar, melainkan agar produsen baja domestik tetap dapat berproduksi. Sebagai contoh, harga scrap baja (besi bekas) sejak Januari 2013 telah mencapai US$ 430 per ton, meningkat 13% jika dibanding harga pada Oktober 2012 sebesar US$ 380 per ton.

Begitupula harga bijih besi impor, khususnya yang berasal dari India telah naik 30% dari US$115 per ton menjadi US$150 per ton untuk periode yang sama. Selain kedua bahan baku baja tersebut, kenaikan harga juga berlaku pada baja setengah jadi (slab) impor. Sejak awal tahun ini, harga slab telah mencapai US$540 per ton naik 15% dari US$470 per ton pada Oktober 2012.

“Kenaikan harga ini bukan bertujuan untuk mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya. Kami berkomitmen tidak membebankan 100% kenaikan biaya bahan baku tersebut kepada pengguna. Sebagian dari kenaikan biaya tersebut kami serap. Kami juga melakukan berbagai upaya peningkatan efisiensi pada proses produksi, agar harga jual produk baja tidak naik signifikan,” tegas Gunato.

Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel Tbk., Yerry menegaskan, kenaikan harga produk baja terpaksa dilakukan untuk menghindari kerugian. Sebab, kenaikan harga bahan baku baja yang signifikan, telah membuat tingkat profitabilitas industri baja domestik menurun drastis ke tingkat yang memprihatinkan.

BERITA TERKAIT

Konsumsi Pasar Global Meningkat - Penjualan Mark Dynamics Berpeluang Tumbuh

NERACA Deli Serdang – Permintaan sarun tangan karet global yang terus meningkat tiap tahunnya, menjadi berkah tersendiri bagi PT Mark…

Volume Penjualan SMCB Tumbuh 4,08%

Di kuartal pertama 2019, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) mencatatkan pertumbuhan volume penjualan semen sebesar 4,08%. Dalam data perseroan…

Investasi Pasca Pilpres Bisa Segera Tumbuh, Asal…

Investasi Pasca Pilpres Bisa Segera Tumbuh, Asal… NERACA Jakarta - Sejumlah pengamat meyakini pilpres 2019 sangat membawa pengaruh pada kondisi…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Soal Biodiesel, Indonesia Tak Gentar Lawan Eropa

NERACA Jakarta - Baru satu tahun lalu, Indonesia bisa bernapas lega setelah berhasil memenangkan gugatan terhadap Uni Eropa melalui Organisasi…

Industri Makanan dan Minuman Ditaksir Tumbuh 9 Persen

NERACA Jakarta – Kemenperin memproyeksikan industri makanan dan minuman dapat tumbuh di atas 9 persen pada 2019 karena mendapatkan tambahan…

Pebisnis Muda Pertanian Perlu Kreatif dan Inovatif

NERACA Jakarta – Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Momon Rusmono mengatakan wirausahawan muda…