Arwana Naikkan Harga Jual Rp 1100 Permeter - Dampak Kenaikan Harga Gas

NERACA

Jakarta – Kenaikan harga gas industri memaksa produsen keramik harus menaikkan harga jual dan tidak terkecuali PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA). Rencananya, perseroan akan menaikkan harga jual pada awal April 2013, “Kenaikkan harga jual sebesar Rp 1.100/M2,”kata Sekretaris Perusahaan PT Arwana Citramulia Tbk, Rudy Sujanto di Jakarta, kemarin.

Rudy menuturkan, alasan kenaikan harga jual dimaksudkan untuk menyesuaikan kenaikan harga gas dunia yang sudah diperhitungkan jauh sebelumnya. Alhasil, kenaikan harga jual sendiri sudah dihitung bakal naik 12%. Terlebih kenaikan ini, dinilainya wajar karena perseroan sudah dua tahun sejak 2010 tidak menaikkan harga.

Ditahun 2012 kemarin, perseroan mencatatkan kenaikan laba bersih 65% menjadi Rp 156,5 miliar dan penjualan Rp 1,113 triliun. Disebutkan, kenaikkan laba disebabkan beberapa faktor yaitu peningkatan penjualan bersih, inovasi dibidang teknologi dan hutang bank yang semakin ramping.

Kata Rudy, dengan pertumbuhan laba bersih tersebut, perusahaan menambah nilai dividen tunai sebesar Rp 40 persaham dengan ratio pembayaran 47%. Angka ini tumbuh 100% dari Rp 20/saham dengan ratio pembayaran 39% pada 2011. Berikutnya, ditahun ini perseroan menargetkan pendapatan naik 24%, laba bersih tumbuh 60% dan penjualan tumbuh sekitar 11%.

Pabrik Baru

Maka untuk memenuhi target penjualan tahun ini, perseroan tengah merampungkan pabrik keempatnya atau plant IV di Palembang dengan pinjaman bank BCA sebesar Rp 130 miliar dan sisanya 35% dari dana internal, “Pembangunan pabrik keempat memasuki tahap akhir pemasangan mesin dan ditargetkan selesai pada semester kedua tahun ini dengan kapasitas produksi 8.000.000 m2,”ujar Rudy.

Dia menambahkan, dengan dibangunnya pabrik keempat ini target kapasitas produksi seluruh pabrik mencapai 49, 3 juta meter persegi. Sumbangan terbanyak produksi keramiknya berasal dari pabrik ketiganya di Serang dengan total 19,5 juta meter persergi. Saat ini, perseroan memiliki tiga pabrik di Tangerang, Serang dan Gresik.

Soal dampak kenaikan upah minimum regional (UMR), lanjut Rudy, dinilai positif terhadap penjualan karena adanya peningkatan daya beli masyarakat, “Pengaruh naiknya UMR bagus, karena segmennya arwana untuk menengah kebawah. Jadi sangat mungkin mereka yang mendapatkan kenaikkan penghasilan akan merenovasi rumah dan membeli keramik kami,”ungkapnya.

Dia mengungkapkan, saat ini perserdiaan produksi keramik perseroan tersisa dikit akibat larisnya penjualan. Hal ini, diklaimnya karena harga keramik perseroan murah dan memiliki kualitas bagus, “Produk Cina atau Thailand menjual sekitar US$ 4 sedangkan rata-rata produk kami sekitar US$3,2, jadi tidak mungkin mereka berani masuk kesini dan karena itu kami tidak punya saingan,”tandasnya. (nurul)

Related posts