Indo Tambangraya Tekan Biaya Produksi - Antisipasi Harga Jual Terus Merosot

NERACA

Jakarta- Harga komoditas tambang yang tidak bersahabat menggerus laba bersih sebagian besar emiten pertambangan. Tidak terkecuali bagi PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang mencatatkan kerugian hingga 21%, atau dari US$546 juta menjadi US$432 juta di tahun 2012.

Pada tahun inipun perseroan masih pesimistis harga komoditas tambang dapat kembali pulih, bahkan diperkirakan berada di bawah harga jual rata-rata batu bara di tahun lalu yang sebesar US$90 per ton. “Market masih fluktuatif, secara umum akan turun dari tahun lalu.” Kata Direktur Indo Tambangraya Hartono Widjaja, di Jakarta kemarin.

Menurutnya, harga jual rata-rata batu bara pada tahun lalu hanya sebesar US$90 per ton, atau mengalami penurunan sebesar 7% dari tahun 2011 yang mencapai US$97,1 per ton. Oleh karena itu, perseroan akan menerapkan efisiensi dan meningkatkan kuantitas produksinya di tahun ini. “Untuk mengantisipasi penurunan harga, kami lakukan efisiensi di semua lini. Dari 12,2 kali di tahun lalu, stripping ratio akan ditekan lebih rendah menjadi 11,5—11,6 kali,” jelasnya.

Selain menekan biaya produksi, lanjut dia, perseroan akan menggunakan dana belanja modal pada proyek-proyek yang mendesak, di mana pada tahun ini dianggarkan sebesar US$157 juta yang berasal dari kas internal perseroan.

Dijelaskan Hartono, meski mencatatkan penurunan laba bersih, volume penjualan pada tahun 2012 mencapai 27,2 juta ton. Angka tersebut melampaui dari target yang ditetapkan sebelumnya sebesar 26,5 juta ton.

Untuk tahun 2013, perseroan menargetkan penjualan sama dengan target produksi batu bara, yaitu 29 juta ton. Dari 77% dari target penjualan sudah terkontrak, yaitu 44% kontrak dengan harga batu bara tetap (fixed prices), 24% berdasarkan index links dan 9% unpriced, sedang untuk yang 23% ada beberapa buyer yang biasanya tidak pakai long term kontrak.

Di tahun 2012, distribusi penjualan batu bara yang diproduksi peseroan antara lain 26% diekspor ke China, 16% ke Jepang, 12% India, 9% untuk kebutuhan domestik, dan selebihnya negara-negara lain di Asia Timur.

Diversifikasi Usaha

Sementara Direktur Keuangan ITMG, Edward Manurung menegaskan, meskipun harga komoditas tambang belum menunjukkan perbaikan, pihaknya belum memiliki rencana untuk melakukan diversifikasi usaha, selain tambang batu bara.

Sejauh ini pihaknya juga belum dapat menyelesaikan proses akuisisi dua tambang batu bara di kawasan Kalimantan Timur yang telah direncanakan sebelumnya. “Belum ada akuisisi yang terealisasi. Dananya tergantung dari besarnya dana yang dibutuhkan untuk akuisisi, nilai dan luasnya.” ucapnya.

Rencana akuisisi tersebut menurut dia, sebelumnya diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan kapasitas produksi batu bara sebesar 10% per tahun. “Akuisisi secara umum kita targetkan dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan volume produksi 10% per tahun. Tapi ini tergantung dari market, dan akuisisi tercapai atau tidak,” jelasnya.

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham yang dilaksanakan kemarin, kata dia, meskipun perolehan laba bersih tercatat mengalami penurunan, para pemegang saham menyetujui untuk membagikan dividen sebesar 85% dari perolehan laba bersih perseroan tahun buku 2012 sebesar US$ 432 juta. “Pembagian dividen untuk tahun buku 2012 disepakati sebesar 85%, atau S$38 sen per lembar saham.,”tandasnya (lia)

Related posts