Awal Pekan, Laju Indeks Tertahan Ambil Untung

NERACA

Jakarta – Transaksi perdagangan saham masuki libur panjang kemarin, berhasil ditutup menguat 12 poin berkat aksi beli investor di saham konsumer dan bank. Penguatan indeks kali ini, diklaim kembali cetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Tercatat indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis sore, ditutup menguat 12,884 poin (0,26%) ke level 4.940,986. Sementara Indeks LQ45 ditutup menguat 2,460 poin (0,29%) ke level 836,871. Rekor IHSG kali ini juga merupakan intraday tertingginya sepanjang masa. Rekor tertinggi IHSG sebelumnya ada di level 4.928,102 pada perdagangan kemarin setelah melesat 85,583 poin (1,77%).

Berikutnya, pasca libur panjang indeks BEI Senin awal pekan diproyeksikan bakal bergerak terkoreksi karena tertahan aksi ambil untung investor pasca laporan keuangan. Kendatipun demikian, tren indeks menguat juga masih berpeluang besar.

Pada perdagangan kemarin, saham-saham konsumer dan bank kelas berat langsung jadi target aksi beli jelang penutupan perdagangan. Pemicunya hasil kinerja keuangan yang naik tinggi. Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 171.578 kali pada volume 7,829 miliar lembar saham senilai Rp 6,883 triliun. Sebanyak 129 saham naik, sisanya 140 saham turun, dan 102 saham stagnan.

Pasar saham Singapura menjadi satu-satunya bursa yang menguat, hampir semua pasar modal regional jatuh ke zona merah gara-gara sentimen negatif dari krisis finansial Uni Eropa. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Multi Bintang (MLBI) naik Rp 60.000 ke Rp 1 juta, Delta Jakarta (DLTA) naik Rp 15.000 ke Rp 330.000, HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 2.000 ke Rp 84.500, dan Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.950 ke Rp 48.950.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top lossers antara lain Lionmesh (LMSH) turun Rp 1.000 ke Rp 15.000, Lion Metal (LION) turun Rp 800 ke Rp 12.900, Semen Indonesia (SMGR) turun Rp 750 ke Rp 17.700, dan Multi Prima (LPIN) turun Rp 4.525.

Sementara perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup terkoreksi 23,688 poin (0,48%) ke level 4.904,414. Sementara Indeks LQ45 terpangkas 4,472 poin (0,54%) ke level 829,939. Saham-saham berbasis infrastruktur jadi target aksi beli selektif, sehingga menjadi satu-satunya sektor yang menguat. Penguatan ini berhasil menahan indeks di level psiklogis 4.900.

Saham-saham lapis dua di sektor aneka industri dan industri dasar paling banyak kena aksi ambil untung. Hal yang sama juga terjadi di saham-saham unggulan, terutama komoditas dan perbankan. Sementara perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 97.177 kali pada volume 5,087 miliar lembar saham senilai Rp 3,153 triliun. Sebanyak 97 saham naik, sisanya 145 saham turun, dan 93 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Multi Bintang (MLBI) naik Rp 15.000 ke Rp 955.000, HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 2.000 ke Rp 84.500, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 800 ke Rp 47.800, dan Matahari (LPPF) naik Rp 400 ke Rp 11.350.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Lion Metal (LION) turun Rp 700 ke Rp 13.000, Indocement (INTP) turun Rp 550 ke Rp 22.950, Semen Indonesia (SMGR) turun Rp 400 ke Rp 18.050, dan Elang Mahkota (EMTK) turun Rp 300 ke Rp 5.500.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka melemah 15,16 poin atau 0,31% dan tertahan di level 4.912,95. Indeks LQ45 turun 3,23 poin atau 0,4% menjadi 831,18, indeks IDX30 melemah 1,63 poin atau 0,4% ke 659,49, dan Jakarta Islamic Indeks (JII) merosot 2,20 poin atau 0,3% ke 658,13.

Hampir semua sektor melemah, dengan sektor aneka industri turun 1,1%, sektor konsumsi merosot 0,8%, sektor industri dasar turun 0,4%, sektor perdagangan, tambang, dan agrikultur turun 0,2%. Hanya sektor infrastruktur mampu menguat 0,6%.

Tercatat 44 saham dibuka menguat, 77 saham melemah, dan 102 saham bergerak stagnan. Indeks sendiri dibuka dengan transaksi Rp186,843 miliar dari 145,867 juta lembar saham diperdagangkan.

Menurut Trimegah Securites, indeks sendiri sudah diperkirakan bakal cenderung melemah di kisaran 4.799–4.982. Kendatipun demikian, indeks juga masih berpeluang untuk bergerak menuju level psikologis di 5000 karena Sideways sejak Maret 2013 dapat dianggap sebagai bullish continuation pattern dibanding bearish reversal pattern.

Kata analis Kresna Graha Sekurindo, Etta Rusdiana Putra, pergerakan indeks tidak terlepas dari membaiknya sentimen regional, terutama setelah Bank of Japan (BoJ) kembali menyatakan komitmennya untuk melakukan ekspansi moneter dalam skala besar.

Selain itu, dicapainya kesepakatan awal dana talangan bagi Siprus, turut menopang indeks. “Data penjualan barang tahan lama (durable goods) dan harga rumah AS yang lebih baik dari ekspektasi masing-masing tercatat naik 5,7% MoM di Feb 13 dan 8,1% YoY di Januari 2013 juga menjadi katalis tambahan bagi pasar,”ujarnya.

Oleh karena itu, Etta sudah memprediksikan indeks diawal bakal diperdagangkan di kisaran 4.875-4.970. (bani)

Related posts