Langkah Kuda OJK Antisipasi Capital Outflow

NERACA

Jakarta- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak menampik bahwa potensi terjadinya pembalikan arus modal asing secara tiba-tiba sangat tinggi. Pasalnya, investor akan berinvestasi di tempat yang memberikan profit sesuai harapannya. Karena itu, besar kemungkinan investor asing akan mengalihkan dana-dananya dari Indonesia ke negara lain. “Saat ini peran investor asing masih cukup dominan sehingga dampak yang timbul jika terjadi sudden reversal adalah sangat tinggi.” kata Kepala Eksekutif OJK untuk Pasar Modal, Nurhaida di Jakarta, Rabu (27/3).

Menurutnya, untuk memitigasi risiko tersebut, OJK mendorong emiten dan perusahaan publik agar dapat membantu peningkatan investor domestik dengan memperbesar jumlah porsi retail dalam penjatahan efek pada saat penawaran umum.

Selain itu, pihak otoritas juga akan berupaya untuk menjaga integritas pasar modal. Itulah sebabnya, emiten pun diminta untuk terus menjalankan prinsip good governance, antara lain transparansi, akuntabilitas, independensi, dan bertanggung jawab.

Dia mengatakan, penerapan good governance bukan hanya dapat meningkatkan kepercayaan pemodal, namun juga akan meningkatkan kinerja dan daya saing emiten. Upaya pengembangan yang dilakukan di bidang pasar modal ini antara lain dimaksudkan untuk menjadikan pasar modal sebagai sumber pendanaan yang mudah kompetitif dan efisien.

Dorong IPO

Langkah ini, lanjut dia, relevan dengan tingginya aliran dana asing yang saat ini masuk ke pasar modal. Terlebih saat ini pertumbuhan pasar modal Indonesia cukup positif. Pihaknya mencatat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meningkat sebesar 10,68% dalam periode awal tahun sampai dengan awal pekan ini.

Sementara rata-rata nilai perdagangan harian meningkat dari Rp4,54 triliun pada periode 2012 menjadi Rp6,17 triliun. Oleh karena itu, OJK pun akan meningkatkan jumlah penawaran umum saham perdana dan produk-produk baru sehingga capital inflow dapat dimanfaatkan untuk membiayai kegiatan ekonomi riil. “Jika terdapat banyak penerbitan produk baru melalui penawaran umum maka dana tersebut bukan hanya digunakan untuk perdagangan di bursa, namun diserap untuk biaya kegiatan produksi, pembangunan infrastruktur dan sebagainya.” jelasnya.

Dijelaskan Nurhaida, untuk mencapai tujuan tersebut perlu ada upaya untuk menciptakan sistem informasi, antara lain untuk menciptakan kemudahan akses dan mendukung pelaporan kewajiban emiten. Selain itu, OJK pun juga akan terus berusaha untuk menyederhanakan kewajiban bagi emiten, baik saat masuk ke pasar modal maupun setelah perusahan tersebut masuk ke pasar modal. “Upaya penyederhanaan ini kami lakukan dengan saksama sehingga tidak akan mengurangi perlindungan terhadap investor.” ujarnya.

Dalam pengembangan pasar modal, OJK juga berkomitmen untuk menjadikan pasar modal sebagai sarana investasi yang kondusif dan likuid. Dalam hal ini beberapa pengembangan infrastruktur yang telah diluncurkan antara lain single investor identity, straight through processing dan manajemen risiko, serta data dan informasi warehouse. (lia)

Related posts