OJK Siapkan Sistem Transaksi Integratif Surat Utang - Gali Pasar Sekunder

NERACA

Jakarta- Selain di pasar efek ekuitas, pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis dapat melakukan pengembangan pasar modal di pasar sekunder, antara lain melalui penjualan surat utang dan sukuk. “Kegiatan prioritas yang akan dilakukan antara lain adalah penyiapan proses bisnis dan sistem yang mampu mengintegrasikan proses transaksi dari sejak order sampai pencatatan kepemilikan (straight through processing) untuk perdagangan surat utang.” jelas Kepala Eksekutif OJK untuk Pasar Modal, Nurhaida di Jakarta, Rabu (27/3).

Untuk mendukung pendalaman pasar sekunder melalui penerbitan surat utang, menurut dia, pihaknya akan menyiapkan regulasi pendukung yang memungkinkan penggunaan hasil pricing yang diterbitkan oleh bond pricing agency. Bahkan tidak hanya itu, hal ini juga dimungkinkan untuk melakukan pengembangan pasar repo yang mengacu pada global master repo agreement sehingga perjanjian repo dapat diterima semua pelaku baik asing maupun domestik.

Hal ini, lanjut dia, merupakan bagian dari langkah pihak regulator untuk meningkatkan supply untuk memperkuat basis investor domestik. Oleh karena itu, pihaknya juga akan mengembangkan jenis dan jumlah produk, seperti produk pasar modal syariah, efek beragun aset serta produk investasi retail dan berbasis Usaha Kecil Menengah (UKM).

Ke depan, pihaknya juga akan melaksanakan program untuk membedakan tingkat kesulitan mendapatkan izin wakil perusahaan efek yang menjalankan fungsi marketing dengan izin wakil perusahaan efek yang menjalankan fungsi lainnya, seperti direktur. Program ini diharapkan dapat menambah jumlah tenaga pemasaran.

Program lainnya adalah mendorong kerja sama perusahaan efek dengan pihak lain seperti perbankan yang memiliki channeling ke seluruh pelosok tanah air. Dalam hal ini pihak regulator akan mendorong perushaan efek untuk memperbanyak pembukaan cabang seluruh kawasan indonesia, atau dengan menerapkan sistem distribusi melalui sistem informasi seperti online trading.

Kata Direktur Utama Pefindo, Ronald T. Andi Kasim, peluang pertumbuhan obligasi di tahun ini masih cukup besar. Salah satunya didukung tingkat suku bunga acuan yang berada di level 5,75% dinilai masih cukup rendah. Di samping itu, meski terjadi peningkatan dari sisi supply belum mampu meng-cover permintaan pasar.

\"Penerbitan obligasi lebih erat kaitannya dengan tingkat suku bunga. Suku bunga rendah akan sangat menarik bagi perusahaan untuk menerbitkan surat utang karena dinilai akan dapat menutupi kewajiban utangnya.\" jelasnya.

Dia menilai, kekhawatiran akan kenaikan inflasi yang dapat mendorong tingkat suku bunga tidak akan berpengaruh signifikan terhadap minat penerbitan obligasi. Karena penerbitan obligasi merupakan keputusan masing-masing perusahaan, dan mereka mungkin hanya akan melakukan adaptasi. Pihaknya mengestimasikan, total nilai obligasi dan MTN yang akan diterbitkan pada tahun 2013 akan mencapai sebesar Rp80 triliun. Sementara untuk nilai emisi penerbitan obligasi nasional sepanjang tahun 2012 mencapai Rp72,9 triliun. (lia)

Related posts