Investasi Asing di Kaltim Melonjak 87,87%

NERACA

Samarinda - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melaporkan bahwa Penanaman Modal Asing (PMA) sepanjang 2012 mengalami peningkatan sebesar 87,87%, dari Rp12,12 triliun di 2011 menjadi Rp22,77 triliun pada tahun lalu. Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak, mengatakan modal asing yang berinvestasi di Kaltim berasal dari berbagai jenis usaha. Dia juga mengakui, meskipun PMA naik, namun nilai investasi dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) turun 47,5%, yakni pada 2011 sebesar Rp16,21 triliun sedangkan pada 2012 sebesar Rp7,70 triliun.

Berdasarkan peringkat investasi nasional, khusus Provinsi Kalimantan Timur dari investasi PMDN berada pada peringkat 4, sedangkan investasi dari PMA berada pada peringkat 5 secara nasional. Ditinjau berdasarkan realisasi koridor tiga Masterplan Perluasan dan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) sebesar Rp45,6 triliun, maka Kaltim menempati urutan ke-3 setelah koridor Jawa dan Sumatera.

Keberhasilan pembangunan dan peningkatan investasi di Provinsi Kaltim tersebut sekaligus menempatkan daerah itu sebagai salah satu penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Nasional. Sementara itu, lanjutnya, Produk Domistik Regional Bruto (PDRB) Kaltim pada 2012 tumbuh cukup positif yang mencapai Rp419,1 triliun.

Bidang pertambangan dan penggalian memberikan kontribusi dominan untuk pembentukan PDRB hingga mencapai Rp155,3 triliun, selanjutnya industri pengolahan memberikan kontribusi Rp75,9 triliun, perdagangan, hotel, dan restoran berkontribusi Rp26,7 triliun, sementara sektor pertanian berkontribusi Rp19,5 triliun terhadap pembentukan PDRB.

Di sisi perdagangan, ekspor migas dan non migas dari Kaltim pada 2012 tercatat US$30,8 miliar, yakni terdiri dari ekspor migas sebesar US$13,7 miliar dan ekspor nonmigas sebesar US$17,1 miliar. Negara tujuan utama ekspor Kaltim adalah dari kawasan ASEAN seperti China, India, Jepang, Korea Selatan dan Malaysia.

Ekspor Kaltim ke beberapa negara tujuan itu meliputi komoditi pertambangan, hasil kayu olahan, hasil industri kimia, perikanan dan kelautan, hasil hutan ikutan, pertanian dan perkebunan, dan dari industri logam. Meskipun ekspor sejumlah komoditi meningkat, namun komoditi lain mengalami penurunan, seperti kayu lapis yang dikarenakan sulitnya bahan baku kayu sehingga mengakibatkan industri kehutanan banyak yang menghentikan kegiatannya.

\"Di sisi lain, kita patut bersyukur karena realisasi perdagangan hasil perikanan antar pulau memperlihatkan peningkatan, yakni dari 1.243 ton pada 2011 naik menjadi 6.991 ton tahun 2012,\" tandas Awang Faroek. [ardi/ant]

Related posts